TRP
Ditemukan Sertifikat Hak Milik di Kawasan Situ
05 April 2017 \\ \\ 163

TANGERANG SELATAN — Pemerintah menemukan adanya pihak-pihak yang memiliki sertifikat hak milik di areal situ dalam proses pendataan untuk sertifikasi Situ Rompong, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Selain persoalan sertifikat, pemerintah daerah harus mulai memikirkan solusi untuk persoalan sosial terhadap warga yang sudah bertahun-tahun tinggal dan membangun rumah di areal situ.

Kasus itu ditemukan di Situ Rompong, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Lurah Cempaka Putih Tarmizi, Selasa (4/4), di kantornya, mengakui, terjadi permasalahan lahan di Situ Rompong. Ditemukan beberapa pihak mengklaim memiliki sertifikat hak milik di areal situ.

Area Situ Rompong, berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, luasan awalnya mencapai 10 hektar. Tahun 2008, luasannya berkurang menjadi 2,99 hektar dan terakhir berdasarkan data dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangerang Selatan luasannya hanya bersisa 1,75 hektar. Karena itu, Situ Rompong, bersama 20 situ lain, tahun ini akan disertifikatkan oleh pemerintah agar tak ada lagi pihak-pihak yang menyerobot lahan situ.

"Saya juga tidak mengerti bagaimana ini, sebagian areal yang diklaim dan punya sertifikat itu adalah areal di situ yang tertutup air. Ketika bertemu Dinas Pekerjaan Umum telah kami sampaikan persoalan ini," katanya.

Tarmizi mengatakan, persoalan penyerobotan lahan itu sudah terjadi sejak lebih dari 30 tahun lalu. Sulit menertibkan atau mengecek karena selama ini tidak ada batas yang jelas di wilayah situ. Ia menekankan, sejauh ini tidak pernah ada surat-surat yang dikeluarkan oleh kelurahan selama dirinya menjabat terkait persoalan lahan.

Di Situ Rompong, bangunan- bangunan memenuhi tepian situ, nyaris tak ada jarak antara air dan dinding belakang rumah. Selama ini, kata Tarmizi, Situ Rompong lebih banyak menjadi penampungan air limbah, khususnya dari rumah tangga.

"Memang ada banyak warga yang tinggal di tepian situ, tetapi kami hanya mengeluarkan KTP dan kartu keluarga. Kalau warga ini tidak memiliki sertifikat, mereka sudah lama tinggal di tempat itu, sulit juga karena sejak dulu sudah terjadi pembiaran selama bertahun-tahun," kata Tarmizi.

Ketua RT 005 RW 005 Kelurahan Cempaka Putih Tugimin menyebutkan, ada 195 keluarga yang memiliki bangunan di lokasi Situ Rompong. Menurut dia, warga sejak awal hingga kini menyadari betul bahwa lahan itu adalah lahan milik negara dan tidak ada niat untuk menduduki atau mengambil alih.

"Namun, karena kami sudah sejak tahun 1980-an di tempat ini, kami hanya meminta agar tetap diizinkan tinggal di sini," ungkap Tugimin.

Tugimin, yang juga ditunjuk sebagai Satgas oleh BBWS Ciliwung-Cisadane, mengatakan, ia berharap pemerintah bisa bertindak adil. Sebab, di sisi lain, ada pihak yang mengklaim memiliki lahan situ dan memiliki sertifikat hak milik. Lahan yang diklaim itu kini dipasangi pagar seng di sekelilingnya.

Sekretaris Tim Kerja Antarkementerian Implementasi Revitalisasi Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) Victor Sidabutar menjelaskan, timnya sudah mengukur dan memasang patok-patok di tempat itu, termasuk lahan yang diklaim milik beberapa pihak. Kawasan situ juga mencakup areal rumah- rumah warga RT 005.

"Memang ada beberapa yang mengklaim dengan menunjukkan sertifikat. Sejauh ini ada dua sertifikat yang diblokir, dianggap tidak sah. Tetapi nanti pengadilan yang akan memutuskan. Sejauh ini, kami tetap mengukur lahan yang seharusnya merupakan situ untuk mengembalikan fungsi situ," ujarnya.

Mengenai warga yang sudah bertahun-tahun tinggal di tempat tersebut, Victor mengatakan, itu merupakan kewenangan pemda untuk menangani persoalan sosial. Dari pemerintah pusat akan menyiapkan dana jika pemda menginginkan adanya revitalisasi terhadap situ itu.

Praktik umum

Lahan situ yang diperjualbelikan dan disertifikasi sebagai tanda hak milik individu atau perusahaan bukan hal baru. Bahkan, di kawasan Tangerang hal itu sudah menjadi praktik umum, terutama bagi pengembang perumahan. Sekitar tahun 2008, Situ Antap di RT 006 dan RT 008 RW 002, Rempoa, separuhnya juga sudah menjadi kawasan perumahan lengkap dengan kolam renangnya. Padahal, Situ Antap tercatat sebagai aset pemda dan kawasan konservasi (Kompas, 17 April 2009).

Situ Antap merupakan bagian dari rangkaian situ di sekitar Rempoa, Cempaka Putih, dan Cireundeu. Di tiga wilayah ini terdapat Situ Gintung yang kini memiliki luas 21,4 hektar. Selain Situ Antap, ada dua situ kecil lain juga di kawasan yang sama yang telah diuruk dan di atasnya dibangun pusat perbelanjaan serta perumahan. (UTI)

Sumber: Kompas | 5 April 2017

Berikan komentar.