TRP
Terganjal Lahan, Proyek Kereta di Kaltim Terhenti
06 Maret 2017 \\ \\ 165

SAMARINDA — Sejak peletakan batu pertama akhir 2015 lalu, proyek kereta api batubara di Kalimantan Timur yang didanai Pemerintah Rusia belum dilanjutkan karena terganjal pembebasan lahan. Target selesai tahun 2020 dipastikan molor. Sementara investor Rusia lainnya yang juga berencana membangun kereta api batubara masih menyelesaikan perizinan.

"Bagi kami, siapa yang lebih cepat memulai dan selesai, lebih baik. Apakah proyek kereta yang didanai Pemerintah Rusia melalui Russian Railways, atau proyek kereta yang didanai Blackspace, juga dari Rusia, semuanya kami butuhkan," ujar Kepala Dinas Perhubungan Kaltim Salman Lumoindong yang dihubungi dari Balikpapan, Minggu (5/3).

Pada November 2016, Presiden Joko Widodo melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan proyek kereta api batubara yang didanai Russian Railways. Jalur rel akan terbentang sejauh 398 kilometer dan ditargetkan selesai tahun 2020. Kereta ini utamanya mengangkut batubara, tetapi juga akan menyediakan kereta khusus angkutan penumpang.

Meski demikian, sejak peletakan batu pertama, tidak ada lagi pembangunan fisik proyek kereta Russian Railways yang dijalankan PT Kereta Api Borneo (KAB) itu. Head of Regional Corporate Affair PT KAB M Yadi Sabianoor mengemukakan, pihaknya terkendala pembebasan lahan di Kawasan Industri Buluminung (KIB), Kabupaten Penajam Paser Utara.

"Dari 298 hektar yang direncanakan dan seharusnya sudah dibebaskan tahun 2016, baru dibebaskan 140 hektar. Semoga tahun ini sudah seluruhnya. Target proyek selesai tahun 2020 berat," ujar Yadi.

Lahan 298 hektar itu tidak hanya untuk proyek kereta, tetapi juga techno park serta pelabuhan yang sama-sama didanai Rusia.

Investor lain asal Rusia, Blackspace, belakangan ikut berminat menggarap kereta api batubara, tetapi dengan rute yang berbeda. "Blackspace lebih cepat bergerak dan bisa jadi malah ini yang duluan jalan. Saat ini Blackspace sedang mengurus perizinan di Kementerian Perhubungan," ujar Salman.

Kereta api yang akan dibangun KAB dan diperkirakan menghabiskan dana Rp 71,7 triliun tersebut akan memiliki dua jalur. Jalur pertama (203 kilometer) yang menjadi prioritas menghubungkan Kabupaten Kutai Barat hingga KIB. Jalur kedua (195 kilometer) diawali dari Kabupaten Kutai Kartanegara menuju Lubug Tutung, Kutai Timur, yang terkoneksi dengan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans-Kalimantan (KEK MBTK).

Adapun jalur yang akan digarap Blackspace 321 km dari Tabang, Kutai Kartanegara, ke Maloy, dan juga terkoneksi dengan KEK MBTK. (pra)

Sumber: Kompas | 6 Maret 2017

Berikan komentar.