TRP
Pelabuhan Benoa-Perluasan Tunggu Wali Kota
13 Februari 2017 \\ \\ 195

DENPASAR — Perluasan Pelabuhan Benoa, Bali, yang direncanakan sejak 2013 ternyata belum terealisasi hingga Minggu (12/2). Perluasan pelabuhan terhambat oleh belum adanya rekomendasi dari Wali Kota Denpasar meski telah ada rekomensasi dari Gubernur Bali.

Kantor Syahbandar, Otoritas Pelabuhan (KSOP) Benoa, Pemerintah Kota, dan DPRD Denpasar pun membentuk tim untuk mempercepat terbitnya rekomendasi tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar? Gde Astika mengatakan, Wali Kota Denpasar menunggu kerja tim. "Bapak (wali kota) meminta kajian dari tim sebelum memberikan rekomendasi. Tim sudah bertemu sekali dan menunggu pertemuan selanjutnya," kata Astika, Sabtu (11/2), di Denpasar, Bali.

Pemerintah Kota Denpasar sempat menilai perluasan pelabuhan tidak sesuai rencana tata ruang wilayah Denpasar tahun 2008. Sebab, Benoa awalnya bukan dirancang sebagai pelabuhan marina, melainkan untuk pelayaran, pelabuhan penangkapan ikan tuna, serta bongkar muat.

Di sisi lain, Kepala KSOP Benoa Supriyono berharap Wali Kota Denpasar segera menerbitkan rekomendasi. "Pengajuan izin masuknya kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan asing terus berdatangan. Tahun ini, diperkirakan ada 70 kapal pesiar yang datang ke Benoa. Peluang kedatangan kapal pesiar sangat banyak, tetapi kemampuan sandar di Benoa minim," ujarnya.

Perluasan Pelabuhan Benoa sebenarnya sangat memungkinkan karena dari total kawasan seluas 143 hektar baru terbangun 50 hektar. Pada rencana induk pelabuhan juga ada rencana untuk memperdalam alur dan kolam pelabuhan dari sembilan meter menjadi 12 meter. Panjang dermaga dari 150 meter juga akan dibangun menjadi 400 meter supaya dapat melayani dua kapal sekaligus.

Dermaga Pelabuhan Benoa itu pun terbagi tiga, yakni dermaga barat untuk kapal-kapal ikan tuna dan kapal patroli TNI; dermaga selatan untuk kapal peti kemas; dan dermaga timur untuk kapal komersial, kapal pesiar, dan wisata.

Pelabuhan Benoa kini merupakan pelabuhan di Bali yang dinilai paling cocok untuk disandari kapal pesiar. Sementara Pelabuhan Tanah Ampo di Kabupaten Karangasem justru dinilai kurang aman disandari karena ombaknya tinggi. (AYS)

Sumber: Kompas | 13 Februari 2017

Berikan komentar.