TRP
Sei Mangkei Semakin Tak Kompetitif
31 Januari 2017 \\ \\ 169

SIMALUNGUN — Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, semakin tidak kompetitif. Itu terjadi menyusul Keputusan Menteri Perhubungan yang mengalihkan hub internasional dari bakal Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Biaya logistik meningkat hingga 50 persen karena ekspor dari kawasan harus melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Padahal, berbagai masalah di kawasan itu belum teratasi, seperti tidak kompetitifnya harga gas dan krisis listrik yang masih terjadi. Harga gas di kawasan itu masih 11 dollar AS per MMBTU, lebih mahal dari harga gas di Pulau Jawa yang berada di bawah 9 dollar AS.

Penanggung Jawab Operasional PT Unilever Oleochemical Indonesia, Endy Yulistiawan, mengungkapkan hal itu saat menerima kunjungan Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Parlindungan Purba di pabrik Unilever, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Senin (30/1).

Endy mengatakan, hingga kini produk oleochemical yang mereka hasilkan belum kompetitif di pasar internasional karena tingginya biaya produksi terutama bahan bakar dan logistik. Biaya produksi satu ton oleochemical pabrik itu masih 225 dollar AS per ton, jauh di atas biaya produksi oleochemical di negara tetangga seperti Malaysia yang 125 dollar AS per ton.

"Jika oleochemical yang kami hasilkan harus singgah juga di Tanjung Priok, produk kami semakin tidak kompetitif karena biaya logistik akan bertambah hingga 50 persen," katanya.

Menurut Endy, pihaknya kini masih menggunakan solar meski pipa gas milik PT Pertamina Gas terpasang di kawasan itu sejak Mei 2016. Menurut perhitungan Unilever, jika mereka menggunakan bahan bakar gas dengan harga 11 dollar AS per MMBTU, biaya produksi oleochemical dapat ditekan dari 225 dollar AS per ton jadi 190 dollar AS.

Manajer Humas dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan PT Pertamina Gas Hatim Ilwan mengatakan, pada prinsipnya pihaknya menjual gas dengan harga yang kompetitif. Namun, harga gas di Sumut tinggi karena harga gas di hulu masih tinggi. Biaya pengapalan dari Papua dan biaya pipa dari Aceh hingga Ke KEK Sei Mangkei juga masih tinggi.

Parlindungan mengatakan, Kementerian Perhubungan dalam mengambil keputusan harus mempertimbangkan pengembangan kawasan. Pembangunan Kuala Tanjung satu kesatuan dengan pengembangan KEK Sei Mangkei. (NSA)

Sumber: Kompas | 31 Januari 2017

Berikan komentar.