TRP
Bogor Akan Menata Pulo Geulis dan Sebagian Sungai Ciliwung
25 Januari 2017 \\ \\ 120

BOGOR — Pemerintah Kota Bogor dan Kebun Raya Bogor akan menata Pulo Geulis dan Sungai Ciliwung yang melintasi KRB. Salah satu desain yang tengah dipertimbangkan adalah desain yang diajukan mahasiswa Institut Pertanian Bogor.

Dua mahasiswa IPB, yakni Setia Permana dan Suci Ardina, memaparkan konsep desain karya mahasiswa semester VII Departemen Arsitek Lanskap Fakultas Pertanian IPB, Senin (23/1), di Balai Kota Bogor.

Konsep itu mengenai manajemen sempadan Sungai Ciliwung. Konsep Riverfront Promenade berupa fasilitas atau jalur untuk pejalan kaki di sepanjang bantar sungai bagian timur yang berlokasi di Kebun Raya Bogor (KRB). Fasilitas dibangun, seperti dermaga, sehingga tak mengurangi koleksi tumbuhan KRB dan tidak menghambat aliran Sungai Ciliwung. Perkiraan biaya pembangunan sekitar Rp 30 miliar.

Konsep lain adalah Riverfront Delta untuk menata dan merevitalisasi kawasan padat penduduk dan kumuh di Pulo Geulis. Konsep penataannya antara lain membangun rumah susun lengkap dengan ruang terbuka hijau yang berkelanjutan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat setempat dari sektor kepariwisataan. Penataan dan pembangunannya diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp 100 miliar.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, ada pemikiran untuk menyambungkan kawasan Sempur dengan kawasan Otista melalui Sungai Ciliwung KRB.

"Kalau hitungan biaya pembangunannya kurang dari Rp 30 miliar, bisa dipikirkan dan dicarikan sumber pembiayaannya yang bukan dari APBD. Tinggal kami pikirkan secara teknis aspek keamanan karena di KRB ada Istana Bogor," katanya.

Kepala Bappeda Kota Bogor Erna Hernawati mengatakan, pihaknya mematangkan konsep tersebut dengan IPB. Kemudian, konsep akan dipresentasikan kepada Bappenas untuk lebih mendapat perhatian dan dukungan dari segi anggaran pembiayaan pembangunannya.

Direktur KRB Didik Widyatomo mengatakan, pihaknya akan membicarakan konsep Riverfront Promenade ini dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang sudah mempunyai kesepakatan kerja sama dalam penataan dan pembangunan kebun raya. Riverfront Promenade ini sejalan dengan keinginan KRB membuat masyarakat lebih leluasa menikmati KRB dan upaya KRB mendekatkan masyarakat ke alam.

Dewi Djukardi dari Komunitas Pelestari Pusaka Budaya Bogor yang juga konsultan arsitektur mengatakan, konsep desain itu perlu mempertimbangkan landasan legalitasnya.

"Dari pemaparan itu, hanya dibahas terkait ekologi atau lingkungan hidup, penelitian sosial kemasyarakatan, dan estetika penampilan atau segi desain arsitekturnya nanti. Landasan hukumnya bagaimana, karena ini menyangkut sungai, bangunan tinggi rumah susun, dan Kota Bogor sebagai 'Kota Pusaka'," katanya.

Prof Hadi Susilo Arifin, salah seorang dosen pembimbing para mahasiswa tersebut, mengatakan, dua konsep desain itu merupakan kajian selama satu semester dari mahasiswanya. "Kajian ini didukung riset-riset terkait yang sedang berjalan di bawah manajemen Australia-Indonesia Centre. Riset ini mengusung topik kajian 'Urban Water' untuk konsep kota yang sensitif terhadap air," katanya.

Adapun mengenai Riverfront Delta, Bima Arya mengatakan, pemerintah sudah lama berkeinginan untuk melakukan penataan Pulo Geulis. Penataan di situ berdampak signifikan pada perbaikan rumah tidak layak huni, penanganan bencana, penataan lingkungan hidup berkelanjutan, destinasi wisata baru, bangkitan ekonomi masyarakat, serta perubahan dan pembangunan karakter masyarakat.

Kalau sampai saat ini keinginan Pemkot Bogor tidak jalan, katanya, karena ada skala prioritas anggaran serta masalah sosial dan kultural yang belum mendukung. "Ada resistensi dari masyarakat ketika pemerintah mencoba untuk melakukan penataan kawasan itu," kata Bima Arya.

PLTSa Rawa Kucing

Di Kota Tangerang, Banten, pemerintah daerah dan pemerintah pusat tetap membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Neglasari. Sikap tegas itu diambil meski mendapat protes dari Walhi dan keputusan Mahkamah Agung membatalkan aturan proyek berkesinambungan tersebut, yakni Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan PLTSa di tujuh kota di Indonesia sebagai proyek percontohan, termasuk di Kota Tangerang.

Terkait dengan kelanjutan proyek itu, 72 calon investor dari dalam dan luar negeri tertarik mengelola proyek ini. Mereka mengikuti penjajakan pasar (market sounding) proyek PLTSa di pusat pemerintahan Kota Tangerang, Selasa (24/1). Investor juga melihat langsung TPA Rawa Kucing.

"Proyek ini tetap dilanjutkan dengan mengacu pada Perpres No 3/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional," kata Wakil Wali Kota Tangerang Sachrudin seusai membuka acara itu.

Menurut Sachrudin, awalnya investor yang mendaftar 42 perusahaan dan kelompok usaha pengelola sampah. Namun, jumlah itu terus bertambah hingga mencapai 72 investor yang ikut penjajakan pasar, termasuk investor dari Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Jerman.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Ivan Yudhianto mengatakan, setelah penjajakan pasar, pihaknya akan melihat konsep pengolahan dan penggunaan teknologi yang diajukan investor untuk mendapatkan investor yang paling layak mengelola PLTSa. (RTS/PIN)

Sumber: Kompas | 25 Januari 2017

Berikan komentar.