TRP
Alih Fungsi Lahan-Karimunjawa Terancam Krisis Air Bersih
11 Januari 2017 \\ \\ 100

SEMARANG — Krisis air bersih mengancam wilayah Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Alih fungsi daerah resapan di kawasan perbukitan untuk hotel, rumah inap (homestay), dan sejumlah infrastruktur lain menyebabkan ketersediaan air semakin berkurang, terutama pada musim kemarau.

Camat Karimunjawa M Taksin mengatakan, selama ini sekitar 7.000 warga Desa Karimunjawa dan Kemojan, Kepulauan Karimunjawa menggantungkan pasokan air dari sumber air di kawasan perbukitan. "Namun, dua hingga tiga tahun terakhir, semakin banyak alih fungsi lahan di kawasan tersebut. Akibatnya, masalah air bersih mulai dirasakan warga dan pengelola tempat penginapan," ujarnya di Jepara, Selasa (10/1).

Taksin mengatakan, beberapa tahun terakhir, kawasan perbukitan di Pulau Karimunjawa banyak dibangun berbagai fasilitas publik mulai dari Bandar Udara Dewandaru, kantor pemerintahan, sekolah, hotel, dan homestay. Maraknya pembangunan hotel dan homestay seiring geliat aktivitas pariwisata kepulauan di Laut Jawa tersebut.

Menurut dia, perlu terobosan untuk penyediaan air di Kepulauan Karimunjawa. Jika tidak, diperkirakan dalam kurun waktu lima tahun ke depan kawasan tersebut kehabisan pasokan air bersih. Hal ini ironis mengingat Karimunjawa telah ditetapkan sebagai satu dari empat destinasi wisata unggulan Jateng bersama Dieng, Borobudur, dan Sangiran.

Kekurangan pasokan air terutama dirasakan warga pada Juni-September. Selama itu, debit air resapan dari kawasan perbukitan berkurang. Akibatnya, pihak satuan kerja air di Kecamatan Karimunjawa yang mengelola air resapan itu harus menggilir jatah pengaliran air agar seluruh rumah warga dan tempat penginapan kebagian.

Ganggu wisata

H Ipong, salah satu pemilik homestay di Karimunjawa, mengatakan, minimnya pasokan air bersih mengganggu pelayanan terhadap wisatawan. Apalagi, masa-masa pasokan air menipis bersamaan waktunya dengan musim padat wisatawan.

"Bulan Juni sampai September itu laut pas tenang, jadi tamu banyak berdatangan. Pernah saat banyak tamu tidak ada air sama sekali. Akhirnya saya beli air mineral galonan untuk mereka mandi daripada memalukan pelayanan homestay kami," ujarnya.

Sekretaris Desa Kemojan Rasyid menuturkan, sumur-sumur gali di Karimunjawa juga hanya bisa mengeluarkan air saat musim hujan. Namun, pasokannya surut sejak awal musim kemarau. Sementara di wilayah tersebut nyaris tidak mungkin membuat sumur bor karena tekstur tanah penuh batu.

Untuk itu, Taksin berharap, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jepara dapat turun tangan membantu mengantisipasi ancaman krisis air itu. Salah satunya dengan pembuatan embung untuk dijadikan sumber air permukaan sebagai bahan baku air bersih PDAM.

Menurut dia, lokasi yang paling strategis untuk pembangunan embung itu terdapat di kawasan Legonlele, Desa Karimunjawa. "Di sana ada lahan warga seluas 1 hektar lebih yang bisa dibebaskan untuk pembangunan embung. Nanti soal pengelolaan yang biasanya satuan kerja air di tingkat kecamatan bisa digantikan pegawai PDAM supaya lebih profesional," ujar Taksin.

Sementara itu, Direktur Utama PDAM Jepara Prabowo mengatakan, pihaknya siap mengelola air bersih di Karimunjawa. Saat ini, PDAM telah memiliki konsep pengelolaan air bersih di daerah tersebut. Dua alternatif yang diajukan, yakni pembangunan embung atau membendung teluk di kawasan perbukitan.

"Seluruh alternatif butuh kajian lebih dalam. Urusan dana, jika pemerintah berat, kami juga bisa bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pembangunan infrastrukturnya," ujarnya.

Terkait alternatif pembendungan perairan teluk, Prabowo mengatakan, hasilnya diperkirakan mampu menyediakan air baku dengan debit sekitar 50 liter per detik. Debit air itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, hotel, dan tempat penginapan di Karimunjawa selama setahun. (GRE)

Sumber: Kompas | 11 Januari 2017

Berikan komentar.