TRP
Belum Dilaksanakan, BRG Terkendala Peta
20 Desember 2016 \\ \\ 46

PULANG PISAU — Restorasi 100.000 hektar gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, belum dilaksanakan. Penyebabnya, peta restorasi tak kunjung selesai dibuat. Badan Restorasi Gambut selama ini baru memulai uji coba dan perencanaan.

Deputi II Bidang Konstruksi, Operasional, dan Perawatan Badan Restorasi Gambut (BRG), Alue Dohong, di Pulang Pisau. Senin (19/12), mengatakan, selain uji coba pembasahan lahan gambut, pihaknya juga sudah memulai pendampingan dan pelatihan pembibitan di Desa Garung, Pulang Pisau. Untuk program revitalisasi mata pencaharian, pihaknya mulai membentuk kelompok usaha di bidang peternakan sapi di Desa Taruna, Pulang Pisau.

"Untuk pembibitan, kami gunakan jenis tanaman lokal yang ramah gambut, sedangkan untuk revitalisasi mata pencaharian kami mencari alternatif seperti sapi," kata Alue.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang BRG, target tahun 2016 akan memulihkan 600.000 hektar lahan gambut di empat kabupaten, yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, Kabupaten Meranti di Riau, dan Pulang Pisau.

Kepala BRG Nazir Foead, Minggu (18/12), mengatakan, sampai dengan akhir tahun ini BRG lebih menitikberatkan pada perencanaan dan uji coba. BRG memiliki tiga tahap, yakni pembasahan gambut, revegetasi, dan revitalisasi, untuk merestorasi gambut. Di Pulang Pisau, untuk tahapan pembasahan gambut, BRG baru membangun 33 sekat kanal atau tabat dan 210 sumur bor. BRG belum mengetahui berapa kebutuhan sumur bor dan sekat kanal karena masih harus disesuaikan dengan peta restorasi.

"Aktivitas fisik idealnya dilakukan secara besar-besaran setelah peta dan perencanaan jadi. Peta yang sedang dibuat menggunakan skala yang kecil, supaya lebih detail," kata Foead.

BRG menggandeng tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk membuat peta restorasi itu. Menurut rencana, dibuat peta berskala 1:2.500 dengan nilai keakuratan tinggi. Namun, pihak UGM dan BIG baru bisa menyelesaikan pada awal Maret 2017.

"Jika peta sudah dibuat, pembuatan sumur bor akan dilakukan secara besar-besaran, begitu juga sekat kanal. Itu akan kami bangun sesuai dengan peta karena dari situ kami bisa melihat daerah prioritas," ujar Foead.

Pemerintah Provinsi Kalteng sampai dengan akhir tahun ini banyak membuat kanal baru di beberapa lokasi, seperti di Kalampangan, Palangkaraya, dan di Desa Gohong, Pulang Pisau.

Berdasarkan pantauan, sekitar 20 kilometer dari Kota Palangkaraya, tepatnya di Kelurahan Kalampangan dan Kameloh Baru, Kecamatan Sebangau, Palangkaraya, terdapat sedikitnya tiga kanal baru. (IDO)

Sumber: Kompas | 20 Desember 2016

Berikan komentar.