TRP
Kawasan Terintegrasi Berbasis Pengembangan Berorientasi Transit
20 Desember 2016 \\ \\ 19

Hunian Vertikal di Stasiun

JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Perum Perumnas sepakat mengembangkan tiga kawasan stasiun kereta komuter untuk dibangun rumah susun. Terdapat tiga kawasan stasiun yang akan dikembangkan, yakni Stasiun Bogor, Tanjung Barat, dan Pondok Cina.

Hal itu tertuang di dalam nota kesepahaman yang ditandatangani antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Perum Perumnas, Senin (19/12), di Stasiun Juanda, Jakarta. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan sekaligus dalam peluncuran kartu Railpay oleh PT KAI (Persero) bekerja sama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, yang disaksikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.

Kawasan terintegrasi

Tiga kawasan stasiun yang hendak dikembangkan menjadi kawasan terintegrasi berbasis pengembangan berorientasi transit (transit oriented development/TOD) adalah kawasan Stasiun Bogor (4,2 hektar), Stasiun Pondok Cina (6.000 meter persegi), dan Stasiun Tanjung Barat (1 hektar). "Kalau ini berhasil, ini akan menjadi produk pertama yang dibangun di atas stasiun kereta api. Perlu waktu 2,5 tahun hingga 3 tahun karena membangun di atas stasiun kereta api tidak semudah membangun di atas tanah kosong," kata Direktur Korporasi dan Pengembangan Bisnis Perumahan Perum Perumnas Galih Prahananto.

Rini meminta agar kerja sama tersebut segera diwujudkan dalam bentuk pencanangan pembangunan di salah satu lokasi stasiun. Pihak Perum Perumnas menjawab, kemungkinan pencanangan dilakukan Februari 2017.

Di Stasiun Bogor direncanakan dibangun enam menara dengan kapasitas total 3.600 unit atau 600 unit per menara. Di Stasiun Pondok Cina dan Tanjung Barat masing-masing dua menara dengan kapasitas 500 unit hingga 600 unit per menara. Perkiraan kasar, lanjut Galih, pembangunan rumah susun di ketiga kawasan tersebut memerlukan dana Rp 3 triliun.

"Bentuknya, rumah susun sederhana milik. Harganya antara Rp 6,5 dan Rp 13 juta per meter persegi dengan alokasi 30-40 persennya untuk masyarakat berpenghasilan rendah atau sesuai harga fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

Kartu Railpay

Dalam peluncuran kartu Railpay, Direktur Utama PT KAI (Persero) Edi Sukmoro mengatakan, kartu Railpay adalah uang elektronik sekaligus kartu keanggotaan. Untuk mendapatkannya, pelanggan harus mendaftar terlebih dulu di aplikasi KAI Access dan sudah melakukan sejumlah transaksi pembelian tiket KA pada aplikasi tersebut dalam kurun satu tahun.

Kartu ini dapat digunakan untuk pembelian, seperti, tiket kereta api jarak jauh, kereta komuter, kereta bandara, dan pembayaran tol. (NAD)

Sumber: Kompas | 20 Desember 2016


Notice: Use of undefined constant tag - assumed 'tag' in /home/u0201324/public_html/tataruangpertanahan.com/templates/khazanah/modul/temp/kliping.php on line 38
Artikel Terkait.
Berikan komentar.