TRP
Konflik Lahan Sawit Terus Terjadi di Kalteng
19 Desember 2016 \\ \\ 23

PULANG PISAU — Sekitar 20 warga Desa Rambang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Sabtu (17/12) pagi, mendatangi lokasi kebun PT Agrindo Green Lestari. Di lahan pembibitan sawit itu, warga mengumpulkan bukti seperti kayu sisa-sisa pondok dan pohon karet milik warga yang diduga dirusak perusahaan untuk membuka lahan.

"Sisa kayu pondok dan sisa pohon karet ini bukti kalau di sini kamu (perusahaan) berladang, melaksanakan berbagai upacara adat, dan lainnya. Ini bukti ada tanam tumbuh, tapi perusahaan dengan seenaknya merobohkan dan beraktivitas," kata Titik Dion (35), warga Desa Raman.

Saat itu, sempat terjadi percekcokan antara warga dan petugas keamanan perusahaan yang mencoba membubarkan paksa para petani. Ketegangan itu diredam ketika aparatur desa dan pihak perusahaan datang.

Menurut Titik, pembukaan lahan di kebun warga tersebut tanpa melalui proses perizinan dan proses ganti rugi lahan. Warga meminta perusahaan untuk menghentikan aktivitasnya.

Sekitar 500 hektar lahan milik 25 warga Desa Ramang diduga diambil perusahaan. Saat ini lahan itu sudah menjadi tempat pembibitan sawit.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT Agrindo Green Lestari (AGL) Winanson, yang datang ke lokasi, mengatakan, pihaknya sudah bekerja sesuai prosedur. Izin pembukaan lahan dan izin usaha perkebunan sudah dikantongi perusahaan sejak 2011, tetapi pengerjaan pembukaan lahan baru dilakukan awal 2015. "Kalau memang itu lahan masyarakat, harus ada bukti seperti sertifikat tanah dan lainnya," ujarnya.

Mematok lahan

Tidak menemukan titik temu, warga akhirnya tetap mematok lahan dengan bendera berwarna kuning. Warga juga meminta wakil perusahaan untuk menghadirkan manajemen dan bertemu dengan mereka. "Kami tak ingin ganti rugi. Kami hanya ingin hutan kami kembali lagi dan kami bisa beraktivitas seperti biasa," ujar Titik.

Ahmad Yunan (33), salah satu pemilik lahan, mengatakan, dirinya dan orangtuanya memiliki lahan sekitar 18 hektar yang kini menjadi area pembibitan. Ia dan keluarga tidak bisa menyadap karet karena tanaman karena tidak ada lagi. "Harusnya perusahaan melakukan sosialisasi dahulu sebelum pembukaan lahan. Ini tidak terjadi dan mereka langsung membuka lahan dengan alat-alat berat," kata Ahmad.

Terkait sosialisasi, Winanson mengatakan, sosialisasi pernah dilakukan manajemen perusahaan sebelum membuka lahan. Namun, ia tidak bisa membawa bukti pertemuan sosialisasi kepada masyarakat saat itu. "Buktinya (sosialisasi) ada, saya hanya heran kenapa baru protes sekarang. Kenapa tidak saat dulu-dulu," ujar Winanson.

Konflik serupa pernah terjadi di Kotawaringin Timur pada 15 November lalu. Saat itu, polisi mengamankan 15 warga yang diduga mencuri dan melakukan provokasi kepada warga setempat untuk menghalangi segala aktivitas PT Hutan Sawit Lestari. Yang diperebutkan adalah kebun plasma milik warga. (IDO)

Sumber: Kompas | 19 Desember 2016


Notice: Use of undefined constant tag - assumed 'tag' in /home/u0201324/public_html/tataruangpertanahan.com/templates/khazanah/modul/temp/kliping.php on line 38
Artikel Terkait.
Berikan komentar.