TRP
Kawasan Terdampak Gempa Dipetakan
15 Desember 2016 \\ \\ 63

JAKARTA — Untuk mengetahui dampak bencana gempa di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pengindraan jauh telah dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Sementara itu, survei terestris untuk memperoleh data dan informasi geospasial tematik dilaksanakan Badan Informasi Geospasial.

Dengan data tersebut, dapat dilakukan pemetaan cepat untuk penanganan kebencanaan. Perhitungan kerusakan dan kehilangan (damage and loss assessment) perlu dilakukan sehingga bantuan dapat tersalurkan secara cepat dan akurat.

Kepala BIG Hasanuddin Z Abidin, Rabu (14/12), menjelaskan, untuk menghasilkan pemetaan cepat kawasan yang terdampak gempa tersebut, dilakukan pemotretan udara. Dalam hal ini, BIG menggunakan pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV).

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan, dari International Disaster Charter, pihaknya telah mendapatkan data citra satelit resolusi sangat tinggi atau kurang dari 60 sentimeter kawasan terdampak gempa Aceh yang bebas awan dan yang sebagian tertutup awan. Dengan membandingkan citra sebelum kejadian gempa, dapat teridentifikasi bangunan yang rusak.

Teknik pemetaan cepat

Teknologi pemotretan dengan UAV, kata Hasanuddin telah digunakan BIG sejak lima tahun lalu. Ada beberapa jenis UAV yang digunakan. Quad copter adalah empat baling-baling sejajar, pesawat terbang atau fixed wing, serta helikopter.

Quad copter biasa digunakan untuk melakukan pemetaan cepat dengan daerah sapuan yang tidak terlalu luas. Wahana tanpa awak tipe quad copter juga cocok digunakan untuk pemetaan cepat di daerah terdampak banjir bandang, tanah longsor, dan kebakaran pada permukiman padat penduduk.

Adapun tipe helikopter biasa digunakan untuk pemantauan kejadian bencana, tidak untuk pemetaan atau foto udara.

Wahana nir awak tipe pesawat terbang paling cocok untuk digunakan dalam pemetaan daerah luas karena daya jelajahnya bisa lebih dari 40 km. (YUN)

Sumber: Kompas | 15 Desember 2016

Berikan komentar.