TRP
Proyek Waduk Logung Molor
28 November 2016 \\ \\ 70

KUDUS — Proyek Waduk Logung di Kecamatan Jekulo dan Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, baru mencapai 39,7 persen dari target akhir hingga 20 November 2016 sebesar 39,9 persen. Pelambatan itu terjadi akibat lambatnya proses pembebasan lahan, terutama di titik untuk pelimpasan air waduk seluas 4,4 hektar, yang terdiri atas 24 lahan.

Pejabat Pembuat Komitmen Waduk Logung, Zulfan Arief Mustafa, Kamis (24/11), mengatakan, proses pembebasan lahan di bagian titik pelimpasan air sempat tertunda hingga lebih dari lima bulan. "Proses musyawarah dengan pemilik lahan sudah dilakukan, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini selesai," ujarnya.

"Karena titik pelimpasan air berada di lahan yang masih proses dibebaskan, pihak pengelola proyek mengerjakan bagian lain. Proyek ini harus terus berjalan, apalagi ditarget akhir 2018 waduk ini sudah harus beroperasi," ujar Zulfan Arief.

Menurut koordinator lapangan proyek Waduk Logung, Yuzak Yahya, bendung pengelak aliran dua sungai yang airnya akan mengisi waduk sudah diselesaikan. Kedua sungai ini memiliki mata air di Pegunungan Muria, Panjang aliran Sungai Gajah lebih pendek sehingga hujan sesaat pun membuat aliran air meninggi dan mengalir deras ke bendung pengelak proyek waduk.

Kadis Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Tengah Prasetyo Budhie Yuwono menyatakan optimistis proyek waduk dapat diselesaikan tepat waktu. Kendala pembebasan lahan tidak membuat pihak proyek berhenti bekerja, tetapi justru membangun bagian-bagian lain di waduk yang lahannya sudah bebas.

Antisipasi Natal

Di Indramayu, Jawa Barat, Perum Bulog menjamin keamanan stok beras untuk kebutuhan warga di sejumlah wilayah dalam menghadapi Natal dan Tahun Baru. Selain keamanan stok beras, operasi pasar oleh Bulog juga dapat menjaga stabilitas harga pangan.

Perum Bulog Subdivre Indramayu, misalnya, hingga Kamis, telah menyerap lebih dari 200.000 ton gabah kering panen (GKP) milik petani. Angka ini telah melewati target serapan gabah petani di lumbung padi nasional itu, yakni 195.000 ton GKP. Dengan begitu, beras yang tersimpan lebih dari 100.000 ton.

"Sebanyak 53.000 ton beras untuk masyarakat Indramayu. Stok ini dijamin aman hingga 18 bulan ke depan," ujar Asep Buhori, Kepala Perum Bulog Subdivre Indramayu, Kamis, di Indramayu. Adapun penyaluran beras per bulan di daerah tersebut sekitar 2.600 ton beras.

Di Nusa Tenggara Timur, Bulog mulai membangun Rumah Pangan Kita (RPK) di setiap desa/kelurahan. Saat ini telah dibangun 161 RPK. Peminat RPK menyediakan modal Rp 5 juta atau Bulog bekerja sama dengan BRI dan Bank BNI untuk pengadaan dana itu.

Kepala Seksi Umum Humas dan Teknologi Informasi Bulog NTT Zulkarnaen mengatakan, Bulog menargetkan membangun RPK di 2.657 desa/kelurahan di NTT. RPK berupa kios warga yang khusus menyediakan bahan pokok dengan harga terjangkau. "Prioritas sebelum Natal dan Tahun Baru, di desa-desa terpencil sudah ada RPK," ujarnya.

Kehadiran RPK diyakini dapat membantu masyarakat. Namun, Bulog juga diminta mulai menggarap desa terpencil, pulau terluar dan terjauh, yang selama ini sulit dijangkau transportasi. Apalagi saat musim hujan. Masyarakat di wilayah itu juga sangat membutuhkan barang kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Di Batam, Kepulauan Riau, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menghibahkan pangan sitaan dari penyelundup kepada warga di perbatasan. Hibah itu untuk mencegah kekurangan pangan. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, ada kekhawatiran pasokan pangan di perbatasan terganggu karena penyelundup ditangkap. Karena itu, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai rutin menghibahkan pangan sitaan itu. "Jika sudah memenuhi syarat keamanan pangan, kami hibahkan. Sudah berkali-kali kami lakukan," ujarnya di sela-sela penutupan Patroli Terkoordinasi Kastima XXII Indonesia-Malaysia, Kamis (24/11), di Batam, (WHO/IKI/KOR/RAZ)

Sumber: Kompas | 25 November 2016

Berikan komentar.