TRP
Bangunan yang Berada di Zona Inti Harus Dibongkar
15 November 2016 \\ \\ 81

Gumuk Pasir Direvitalisasi

YOGYAKARTA — Para pemilik bangunan di zona inti kawasan gumuk atau bukit pasir di pesisir selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diminta membongkar bangunan milik mereka paling lambat 17 November 2016. Jika tidak, Pemerintah Kabupaten Bantul akan membongkar bangunan-bangunan tersebut.

Pembongkaran tersebut dalam rangka revitalisasi kawasan gumuk pasir yang berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek. Di zona inti tersebut terdapat sekitar 60 bangunan, baik berupa rumah, kafe, kandang ternak, tambak udang, maupun kamar mandi. Dari bangunan-bangunan itu, sekitar 50 persen sudah dibongkar oleh pemiliknya.

"Kami masih terus melakukan pendekatan ke warga agar mau membongkar sendiri bangunan yang ada di dalam zona inti gumuk pasir," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bantul Hermawan Setiaji saat dihubungi dari Yogyakarta, Senin (14/11).

Gumuk pasir di Parangtritis itu merupakan fenomena alam langka yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Pasir pembentuk gumuk tersebut berasal dari material vulkanik Gunung Merapi yang mengalir ke beberapa sungai, lalu terbawa sampai ke laut selatan. Karena adanya ombak dan angin, pasir di laut itu kemudian terbawa ke pantai dan wilayah sekitarnya, hingga membentuk bukit-bukit dengan beragam bentuk.

Berdasarkan pemetaan Badan Informasi Geospasial dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, gumuk pasir di Parangtritis seluas 413 hektar. Kawasan gumuk itu terdiri atas tiga zona, yakni zona inti seluas 141,1 hektar, zona terbatas 95,3 hektar, dan zona penunjang 176,6 hektar. Akan tetapi, selama beberapa tahun terakhir, gumuk pasir itu rusak karena berbagai sebab, termasuk karena pendirian bangunan di dalam kawasan tersebut serta penambangan pasir.

Padahal, gumuk pasir memiliki fungsi ekologis penting, misalnya mencegah intrusi atau peresapan air laut ke lapisan air tanah serta mencegah abrasi atau pengikisan daratan pantai karena gelombang air laut.

Hermawan menyatakan, upaya penertiban bangunan di zona inti gumuk pasir dilakukan melalui sejumlah tahap, dari pendataan, sosialisasi, pemberian surat teguran, hingga pemberian surat peringatan sebanyak tiga kali. Pemkab Bantul juga telah menerbitkan surat perintah pengosongan yang meminta warga membongkar sendiri bangunan milik mereka.

"Sekitar 50 persen dari total bangunan di zona inti sebenarnya telah dibongkar sendiri oleh warga. Untuk kandang ternak, misalnya, sudah dibongkar semua oleh pemiliknya," ungkap Hermawan.

Namun, lanjutnya, masih ada warga yang belum bersedia membongkar sendiri bangunan mereka. Apabila warga membongkar bangunan milik mereka hingga 17 November, Satpol PP Bantul akan membongkar bangunan-bangunan itu.

Hermawan menuturkan, pihaknya belum bisa memastikan waktu pembongkaran paksa itu. Pemkab Bantul menunggu arahan dari Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Bupati Bantul Suharsono menyebutkan, pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan Pemda DIY terkait penertiban bangunan di zona inti gumuk pasir. Saat ditanya, apakah pemilik bangunan di zona inti gumuk pasir akan mendapatkan ganti rugi atau relokasi, Suharsono menjawab, "Kami akan koordinasi dulu dengan Pemda DIY."

Keberatan

Sementara itu, Kawit (56), salah seorang pemilik bangunan di zona inti gumuk pasir, masih keberatan dengan rencana penertiban tersebut. Alasannya, penertiban itu akan menyusahkan warga yang selama ini tinggal di kawasan tersebut. Apalagi, hingga kini belum ada kejelasan tentang pemberian ganti rugi atau upaya relokasi bagi warga yang bangunannya tergusur.

"Masih banyak warga yang menolak penertiban ini karena ganti rugi enggak jelas, relokasi juga enggak jelas," ujar Kawit yang memiliki sebuah rumah di zona inti gumuk pasir.

Kepala Parangtritis Geomaritime Science Park Retno Wulan mengatakan, setelah penertiban bisa dilakukan, area gumuk pasir akan dikembangkan menjadi kawasan wisata dan penelitian. Beberapa aktivitas wisata yang bisa dilakukan di area itu antara lain sandboarding atau meluncur dengan papan di atas gumuk pasir serta jelajah gumuk pasir menggunakan sepeda.

"Kami juga akan bekerja sama dengan sejumlah universitas untuk melakukan penelitian di gumuk pasir. Beberapa hal yang bisa diteliti misalnya tentang makhluk hidup yang ada di gumuk pasir dan kondisi air tanah di sana," tutur Retno. (HRS)

Sumber: Kompas | 15 November 2016

Berikan komentar.