TRP
Mengintip Pulau M yang Mangkrak
17 Oktober 2016 \\ \\ 177

DUA dekade lalu, pemerintah pusat mencanangkan pembangunan pulau-pulau buatan di pantai utara Jakarta. Secara de jure, untuk memulai proses tersebut, Presiden Soeharto menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 52 Tahun 1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta pada 13 Juli 1995.

Sebelum Keppres ditetapkan, secara maraton telah dilakukan pembahasan mendalam terkait upaya pengembangan pantai utara Jakarta. Hasilnya, satu-satunya cara untuk mengembangkan Jakarta yang terbatas lahan ialah dengan membangun pulau-pulau buatan melalui proses reklamasi.

Namun, secara de facto, pelaksanaannya tidak berjalan mulus. Saat ini, reklamasi 17 pulau buatan di pantai utara Jakarta tersendat. Reklamasi dihadang meski telah memiliki payung hukum berkekuatan tetap. Ironis sekali sebab putusan PK (peninjaun kembali) dari Mahkamah Agung merupakan upaya hukum terakhir namun tidak dilaksanakan oleh pemangku kepentingan sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum.

Akibatnya, saat ini pembangunan pulau-pulau yang telah hampir rampung menjadi mandek dan terbengkalai. Jumat (14/10) lalu, Media Indonesia menyambangi Pulau M milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo)
II, salah satu yang menjadi korban ketidakpastian hukum.

Berangkat dari dermaga Arsa, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, perjalanan menuju pulau itu dilakukan dengan menumpang sebuah kapal carteran. Dari kejauhan terlihat posisi Pulau M melengkapi struktur dermaga di Pelabuhan Tanjung Priok seperti membentuk huruf U.

Bagian dasar Pulau M ialah dermaga New Priok Container Terminal 1 (NPCT1) di Kalibaru yang beberapa waktu lalu diresmikan Presiden Joko Widodo. Sedangkan kedua sisi tegak pembentuk huruf U ialah dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) dan dermaga Bogasari di satu bagian serta Pulau M di sisi yang lain. Dari dermaga JICT, keberadaan pulau baru itu berjarak sekitar satu kilometer.

Saat mendekat di ujung Pulau M, terlihat pulau segaris dengan dam pemecah ombak. Di setiap pelabuhan besar dibangun pemecah ombak untuk menghalangi hempasan ombak besar dari lautan luas ke dermaga.

Pulau M dibangun memanjang dari hulu di perairan Kalibaru hingga menyatu dengan dam pemecah ombak di kolam Pelabuhan Tanjung Priok. Panjang pulau itu sekitar dua kilometer.

Meski begitu, pembangunan Pulau M belum rampung. Hal itu terlihat dari lebar pulau yang belum merata dan rapi. Begitu pula permukaan pulau masih bergelombang dan terdapat tumpukan-tumpukan pipa berdiameter besar berwarna coklat akibat termakan karat.

Tidak terlihat aktivitas pembangunan reklamasi di pulau itu. Sebuah pos yang berdiri di tengah pulau, kosong tanpa penjagaan. Hanya sebuah mobil nampak melintas dari ujung pulau ke arah hulu.

Awak kapal carteran, Somad, menuturkan dia tidak lagi melihat kegiatan kapal tongkang pangangkut pasir laut membongkar muatan di sekitar Pulau M akhir-akhir ini. “Beberapa bulan lalu, saat melintas di sini, saya sering melihat kegiatan alat-alat berat melakukan pengurukan,” tutur Somad.

Menurut informasi yang dihimpun di Pelabuhan Tanjung Priok, pembangunan Pulau M untuk sementara dihentikan. Pengerjaan reklamasi dilakukan PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (PPI), anak usaha PT Pelindo II.

Media Indonesia menghubungi PPI untuk meminta wawancara lewat nomor telepon 021-64718xxx terkait penghentian sementara reklamasi. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. “Maaf, pejabat PPI yang berwenang memberikan penjelasan soal reklamasi kebetulan tidak masuk,” kata staf PPI.

Warga kecewa
Mangkraknya reklamasi Pulau M disayangkan warga yang tinggal di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka mengungkapkan kekecewaan saat ditemui Kamis (13/10). Salah satunya, Dahlan Saragih, pedagang tas di Pasar
Ular, Tanjung Priok.

Awalnya, pemilik kios yang mempekerjakan dua karyawan itu menaruh harapan besar saat mengetahui rencana pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok. “Kami senang akses jalan tol layang ke pelabuhan di depan Pasar Ular selesai dibangun. Kami juga mendukung pembangunan Pelabuhan Kalibaru dan reklamasi Pulau M,” kata Dahlan.

Saat pembangunan maupun sesudah rampung, Dahlan yakin kegiatan di area pelabuhan dan sekitarnya akan semakin ramai. Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan bongkar muat praktis bertambah banyak. Hal itu berarti
tambahan rezeki buat para pedagang karena pengunjung Pasar Ular akan semakin ramai.

Kekecewaan serupa diungkapkan Gerry, tokoh pemuda di Cilincing. Jika dermaga baru dibangun di Pulau M, menurut dia, lapangan kerja baru akan terbuka bagi warga beberapa kelurahan di sekitar pelabuhan.

“Di sektor formal, kebutuhan buruh bongkar muat dan trucking akan bertambah. Pemuda-pemuda yang masih menganggur di sini bisa mendaftar untuk mendapatkan pekerjaan,” jelasnya.

Selain sektor formal, lapangan pekerjaan baru juga akan terbuka di sektor informal. Warga akan berlomba-lomba membuka warung atau sekadar menjadi pedagang makanan dan minuman keliling untuk menyediakan kebutuhan pangan para buruh dan karyawan pelabuhan yang bertambah banyak.

“Selain itu, warga juga bisa mendapat tambahan penghasilan dengan menyewakan kamar-kamar kos untuk para buruh baru,” pungkasnya. (Mhk/T-1)

Sumber: mediaindonesia.com |17 Oktober 2016

Berikan komentar.