TRP
Kawasan Tebet: Jajaran Pinus yang Tinggal Kenangan
17 Oktober 2016 \\ \\ 196

"Nanti kamu bakal 'ngalamin' orang seperti burung, tinggal di atas tidak memijak tanah," demikian pernah didengar Mu'minah dari ayahnya ketika dirinya terpaksa meninggalkan kampungnya di Senayan untuk pindah ke Tebet, Jakarta Selatan. Tak pernah ia sangka, dalam waktu 40 tahun, kata-kata ayahnya menjadi nyata.

Saat Mu'minah (95) tiba di Tebet tahun 1960 setelah terkena penggusuran proyek pembangunan kompleks olahraga Senayan, Tebet masih berupa rawa-rawa nyaris tak berpenghuni. Rumahnya hanya satu dari empat rumah di sepanjang jalan yang ia tempati saat itu. Sekarang, rumah Mu'minah berada di tengah permukiman padat.

Dua gedung apartemen belasan lantai terlihat dari sana. "Eh, ternyata bener ayah saya dulu. Sekarang manusia tinggal di atas seperti burung," katanya, merujuk pada apartemen-apartemen itu, di rumahnya di Jalan Tebet Utara 4C, Jakarta Selatan, Selasa (11/10).

Dalam lima dekade, perubahan kawasan Tebet begitu masif. Dari rawa-rawa tak berpenghuni, kawasan ini menjadi simpul kreativitas anak muda di era 1970-1990-an, hingga sekarang menjadi kawasan usaha dan tempat nongkrong gaul anak-anak muda Jakarta.

Malam-malam di Tebet yang dulu gelap gulita kini gemerlap oleh lampu-lampu hias dari puluhan distro, rumah makan, dan kafe. Kemacetan di jalan-jalan utamanya cukup membuat frustrasi di pagi dan sore hari.

Perkembangan kawasan Tebet tak lepas dari penggusuran perkampungan di Senayan yang diawali 19 Mei 1959. Kebijakan itu dikenal sebagai penggusuran besar-besaran pertama dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Pembebasan lahan sekitar 300 hektar dilakukan guna pembangunan kompleks olahraga Senayan dan kampung atlet untuk perhelatan Games of the New Emerging Forces (Ganefo) sebagai tandingan Olimpiade.

Sekitar 60.000 orang dipindahkan, empat kampung terdampak penggusuran, yaitu Kampung Senayan, Petunduan, Kebon Kelapa, dan Bendungan Hilir (Kompas, 26 Mei 2006). Saat ini, Kampung Petunduan dan Kebon Kelapa sudah lenyap jejaknya.

Saat penggusuran itu, Mu'minah sudah beranak empat. Keluarga itu mendapat ganti tanah seluas 150 meter persegi di jalan yang saat itu disebut Jalan Ganefo 2. Ia lalu pindah ke Jalan Ganefo 6. "Waktu itu ada juga ganti rugi uang untuk rumah, tetapi tidak seberapa. Tidak cukup buat bangun rumah baru," katanya.

Seiring pergantian presiden dari Soekarno menjadi Soeharto, jalan-jalan di sana tak lagi menggunakan kata Ganefo, tetapi menggunakan nama arah angin, seperti Tebet Utara, Tebet Barat, dan Tebet Timur.

Haji Muhammad Rais (82), warga asli Kampung Kebon Baru Ceremai yang sekarang disebut Tebet Barat, mengatakan, kawasan Tebet dulu hanya sebutan warga sekitar untuk kawasan rawa-rawa berkebun lebat tak berpenghuni di sekitar kampung mereka.

Kata "Tebet", kata Rais, artinya 'kebonan lebat' dalam bahasa sehari-hari Betawi. Adapun daerah permukiman merupakan kampung-kampung yang punya nama sendiri.

Sejak gusuran Senayan, nama kampung-kampung itu dilebur menjadi Tebet. "Sekarang ada nama-nama kampung lama yang sudah tidak ada lagi," ucapnya.

Perjuangan

Kisah Mu'minah adalah kisah banyak nasib orang kecil di pusat pembangunan metropolitan Jakarta. Dua kali ia mengalami gusuran. Awalnya, Mu'minah tinggal di Kampung Mabak, tepat di lahan yang sekarang menjadi Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Ia digusur untuk pembangunan kompleks tersebut dan pindah ke Kampung Senayan tahun 1948. Sebelas tahun kemudian, ia digusur ke rawa-rawa Tebet.

Kendati tak rela dan merasa terpaksa pindah, saat itu warga tak melawan gusuran. "Kami waktu itu hanya lihat rumah dirobohkan. Terus nunggu sampai siang di sana. Tapi, terus panas, gak ada apa-apa lagi buat neduh di sana, ya, kami balik ke Tebet," katanya mengenang.

Mengawali hidup di tempat baru yang masih sepi bukan perkara mudah. Ia harus bekerja serabutan sampai numpang di rumah orang. Di masa awal kepindahan, lumpur saat hujan bisa mencapai kedalaman hingga selutut.

Ketika gerimis mulai turun, Mu'minah harus cepat-cepat mengamankan anak-anaknya ke atas amben (dipan kayu) karena ketinggian air bisa mencapai sedadanya. Untuk bepergian di musim banjir, warga yang masih segelintir itu terpaksa menggunakan sampan. "Mungkin ada sekitar lima tahun saya di sini, jalan-jalan masih berlumpur seperti itu," ujarnya.

Fasilitas publik pun masih minim. Belum ada stasiun, belum ada pasar resmi. Pasar terdekat dari rumah Mu'minah saat itu adalah pasar darurat dan pasar gardu. Disebut pasar darurat karena kondisinya memang minim dan serba darurat. Sekarang, Pasar Darurat merupakan perempatan ramai di Jalan Raya Tebet. Adapun pasar gardu mendapat namanya karena digelar di bawah gardu listrik.

Orang-orang kampung dari Senayan terpaksa mencari mata pencaharian baru. Mu'minah dan suaminya yang awalnya penjahit terpaksa bekerja serabutan karena pelanggannya di Senayan tercerai-berai. Kondisi Tebet yang masih sepi juga membuat usaha sulit.

Ibu 11 anak itu juga sempat berjualan combro hingga ke Jembatan Lima. Ia lalu menjadi tukang pijat hingga sekarang menjadi tukang pijat bayi. Suaminya mencoba terus berdagang berbagai barang dan akhirnya sukses setelah berdagang tanah.

Beratnya hidup di tempat baru membuat sebagian warga gusuran Senayan hengkang dari Tebet. "Orang-orang dari Senayan banyak yang tidak tahan, jual lahan, lalu pindah ke luar Jakarta," kata Mu'minah.

Rais menambahkan, sejak hadirnya para warga gusuran Senayan, cara hidup warga asli juga berubah. Dari petani buah-buahan, sawah dan empang, mereka menjadi pekerja atau buruh. Hal ini karena banyak lahan garapan warga yang juga dibebaskan pemerintah untuk permukiman baru.

Keluarga Rais termasuk yang kehilangan kebun buah-buahan seluas sekitar 1.000 meter persegi. Harga ganti rugi kala itu Rp 25 per meter persegi.

Menurut Rais, banyak warga asli pun tak mampu menghadapi perubahan ini. "Karena tidak kuat lagi biaya hidup di sini, mereka jual lahan lalu pindah ke Citayam atau Bogor. Lahan-lahan itu lalu dibeli orang-orang kaya Jakarta, terus lama-lama dibangun jadi seperti sekarang," kata Rais.

Sejak sekitar 1970-an, makin banyak lahan di Tebet dijual. Rawa-rawa, sawah, dan empang ditimbun untuk dibangun menjadi permukiman menengah ke atas Jakarta.

Daya kreativitas

Vokalis kelompok musik KLa Project, Katon Bagaskara (50), tinggal di Tebet periode 1968-1992. Ia mengalami saat Tebet pernah menjadi pusat kreativitas anak muda. "KLa Project bertemu di Tebet. Katon, Lilo, Ari, dan Adi semua anak-anak Tebet," ujarnya menceritakan bagaimana kelompok musik itu berawal.

Sederet nama musisi dan aktor bermutu punya sejarah di Tebet era 1970-1990. Katon menyebutkan, Erwin Gutawa dan Addie MS tinggal di Tebet Barat. Rano Karno di Tebet Utara. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, pun berasal dari Kampung Kebon Baru di Tebet.

Dalam kenangan Katon, Tebet di era itu adalah hunian yang nyaman dan sejuk karena banyaknya pepohonan. Pohon-pohon pinus berderet dari jalanan hingga ke Tugu Pancoran. Belum banyak tempat usaha dibuka di sana. Belum ada kemacetan.

Kreativitas anak-anak muda Tebet era itu dipicu banyaknya kegiatan seni yang digelar, dari festival band, panggung teater, paduan suara, hingga kontes sepeda hias.

Bagi Katon, kenyamanan itu kini hilang. Hanya tersisa sedikit tempat yang masih memberikan suasana kenyamanan Tebet lama. Salah satunya Taman Tebet-Honda yang pada 2010 dikembalikan kehijauannya oleh Pemprov DKI Jakarta.

Dibangun pada 1960, taman seluas 1.800 meter persegi ini sempat menjadi tempat pembuangan sampah. Sekarang, taman itu bersih dan nyaman. "Dulu kalau hujan bau sampah yang numpuk luar biasa," kata Katon.

Namun, Katon tetap menyayangkan pemerintah yang tak bijak dalam penataan kawasan Tebet. Menurut dia, setelah era 1990-an, pohon-pohon di Tebet banyak ditebang untuk pembangunan. Ruang-ruang di Tebet terus dijual. Sekarang, papan-papan reklame bertebaran menggantikan jajaran pucuk pinus dalam kenangan. (C05)

Sumber: Kompas | 17 Oktober 2016

Berikan komentar.