TRP
Ruang Udara Terbuka Masih Terkendala
17 Oktober 2016 \\ \\ 138

DA NANG, KOMPAS — Pemberlakuan kebijakan ruang udara terbuka antarnegara-negara anggota kawasan Asia Tenggara (ASEAN Open Sky Policy) diyakini memang bakal memberi banyak keuntungan, terutama bagi pihak perusahaan penyelenggara jasa penerbangan.

Akan tetapi, sejumlah kendala masih menjadi persoalan, seperti struktur pembiayaan dan manajemen lalu lintas udara, yang diharapkan masih bisa lebih kompetitif lagi jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain di kawasan.

Hal itu disampaikan Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan, Sabtu (15/10) malam,di sela acara pemberian penghargaan dari lembaga World Travel Awards (WTA) Asia dan Australasia 2016.

"Sampai sekarang total biaya bahan bakar di Indonesia masih relatif sedikit lebih mahal daripada di Singapura atau Malaysia. Idealnya, di mana pun sama. Perbedaan dipengaruhi, misalnya, karena regulasi lokal terkait dengan pajak yang berbeda," ujar Dendy.

Jika dibandingkan dengan Singapura, biaya bahan bakar Indonesia 11-12 persen lebih mahal. Padahal, elemen bahan bakar itu mencapai 40 persen dari total ongkos operasi maskapai.

"Soal ini sudah sering dibicarakan. Pertamina menyebut memang ada elemen pajak dan mereka juga masih harus melakukan subsidi silang untuk bandara-bandara terpencil. Kami akan terus menunggu terobosan dari pemerintah," ujarnya.

Akan tetapi, Dendy mengakui bahwa pemerintah juga telah melakukan sejumlah terobosan di bidang lain, yang berdampak meningkatkan daya saing industri jasa penerbangan Indonesia, seperti pembebasan bea masuk impor suku cadang.

Sabet dua penghargaan

Tahun ini AirAsia Indonesia berhasil menyabet dua kategori penghargaan sebagai maskapai terunggul se-Asia, baik di kategori penerbangan berbiaya rendah (Asia's Leading Low Cost Airlines) maupun untuk kategori maskapai yang memberikan pelayanan dalam penerbangan terbaik se-Asia (Asia's Leading Inflight Service).

Dalam sambutan pembukaan acara pemberian penghargaan di Inter Continental, Da Nang, Vietnam, Wakil Presiden Senior WTA Christopher Frost mengatakan, industri wisata dan perjalanan selama ini di kawasan Asia dan Australasia telah banyak berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi banyak orang.

Sumber: Kompas | 17 Oktober 2016

Berikan komentar.