TRP
Presiden Ikuti Perkembangan
17 Oktober 2016 \\ \\ 161

Delapan Bendungan Mulai Dibangun

KARANGANYAR — Presiden Joko Widodo terus mengikuti perkembangan pembangunan semua jenis infrastruktur. Pembangunan jalan tol di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dinilai menunjukkan perkembangan yang baik dan sesuai rencana.

"Saya melihat kemajuan pembangunan tol Semarang-Solo, Solo-Ngawi, dan Ngawi-Kertosono. Kalau dilihat di lapangan, tidak ada masalah," kata Presiden Joko Widodo saat meninjau pembangunan Jalan Tol Solo-Kertosono di Desa Waru, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (15/10).

Presiden Jokowi mengatakan, ruas tol Solo (Jawa Tengah)-Ngawi (Jawa Timur) sepanjang 90,25 kilometer ditargetkan selesai Oktober 2017, sedangkan ruas Ngawi-Kertosono, Jawa Timur (88,35 km) akan diselesaikan tahun 2018. Adapun tol Semarang-Solo (ruas Bawen-Kartasura 49 km) diharapkan dapat diselesaikan Mei 2018.

"Progresnya akan saya ikuti terus dan dari barat sampai timur di Pulau Jawa lebih kurang 1.200 km bisa selesai tahun 2019. Untuk jalan tol di Sumatera, Kalimantan, dan di Sulawesi yang di Bitung-Manado, progresnya juga baik," katanya.

David Wijayatno, Direktur PT Solo Ngawi Jaya (SNJ), pelaksana pembangunan tol Solo-Ngawi, mengatakan, pembangunan tol ruas Solo-Ngawi mencapai 40 persen. Pihaknya optimistis target penyelesaian pembangunan tol Solo-Ngawi pada Oktober 2017 akan tercapai.

Di tempat terpisah, pada Sabtu, Wakil Presiden Jusuf Kalla berkunjung ke lokasi proyek pengembangan Bandar Udara Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah. Direktur Utama Angkasa Pura I Sulistyo Wimbo S Hardjito menjelaskan, terminal baru Bandara Ahmad Yani tersebut dirancang untuk menampung 56.000 penumpang, enam kali lipat dibandingkan dengan kapasitas terminal Bandara Ahmad Yani saat ini yang hanya bisa menampung 9.000 penumpang. Terminal diperluas dari 6.708 meter persegi menjadi 58.000 meter persegi.

Bendungan

Terkait dengan pembangunan bendungan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 694 miliar untuk pembebasan lahan tapak bendungan di beberapa lokasi, tahun ini. Pembebasan lahan diharapkan berjalan lancar karena tahun depan anggaran pembebasan lahan untuk tahun depan meningkat jadi Rp 2,65 triliun.

"Kami sudah anggarkan sebesar Rp 694 miliar untuk pembebasan lahan delapan bendungan yang akan mulai dibangun tahun ini," kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Imam Santoso, Minggu (16/10).

Pejabat Pembuat Komitmen Bendungan Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung Helmy Lazuardi mengatakan, hingga kini lahan seluas 127,35 hektar yang akan menjadi tapak bendungan Way Sekampung belum selesai dibebaskan. "Proses pembebasan tinggal menunggu pembayaran saja," kata Helmy.

Bendungan Way Sekampung dibangun di atas lahan seluas 759,44 hektar dan berdiri di lahan 13 desa dari dua kabupaten, yakni Pringsewu dan Tanggamus. Sebanyak dua desa di Kabupaten Pringsewu akan dibebaskan untuk dijadikan tapak bendungan. Sementara untuk lahan genangan terdapat di 11 desa di Pringsewu dan Tanggamus.

Sementara itu, warga adat dari Desa Pipitak Jaya dan Harakit, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, menggelar aksi protes dengan menutup lokasi proyek Bendungan Tapin, Minggu. Aksi itu digelar untuk menuntut penyelesaian pembayaran lahan. Mereka meminta, sebelum ada penyelesaian, proyek pembangunan bendungan yang mulai dikerjakan pada Oktober 2015 itu tidak boleh dilanjutkan. (NTA/RWN/NAD/GER/JUM)

Sumber: Kompas | 17 Oktober 2016

Berikan komentar.