TRP
Bersama Warga, Bangkok Tata Kampung (1)
03 Oktober 2016 \\ \\ 188

Menginjak usia 85 tahun, Sanguan Ploykhao hidup tenang di dekat Kanal Bang Bua, Bangkok, Thailand. Dengan penataan kampung tanpa menggusur oleh Pemerintah Thailand, pensiunan tentara ini sudah 13 tahun tinggal di rumah permanen. Pemerintah Thailand memberikan kesempatan warga bantaran tetap bertahan. Di saat yang sama, kanal bebas dari hunian.

"Sejak kampung kami ditata, sekarang kami dapat memiliki rumah sendiri dengan konstruksi kokoh," kata Sanguan di halaman rumahnya yang langsung menghadap kanal, Rabu (21/9).

Kampung tempat tinggal Sanguan merupakan satu dari 12 kampung di sepanjang Kanal Bang Bua, yang pertama kali ditata dalam program Baan Mankong atau Permukiman Aman. Program ini di bawah kendali Community Organizations Development Institute (CODI).

Seperti halnya kampung kumuh di bantaran Kali Ciliwung, kampung itu sebelumnya tumbuh di tepi bantaran kanal. Rumah dari kayu dan seng tumbuh di bantaran hingga menjorok ke aliran sungai.

Hingga kini, kampung kumuh masih dijumpai di Bangkok karena penataan kampung masih berlangsung. Permukiman di seberang kampung tempat tinggal Sanguan, contohnya, masih banyak yang menjorok ke sungai.

Sejumlah kampung yang sudah ditata di 13 kilometer Kanal Bang Bua menjadi permukiman yang lebih layak, dengan rumah dari bata dan semen. Kampung dilengkapi dengan saluran air untuk menghindari genangan.

Akses berupa gang yang dapat dilalui dua motor. Sebanyak 229 rumah yang dihuni 264 keluarga itu dibangun berderet, memanjang ke samping mengikuti alur Kanal Thanon.

Deretan permukiman itu berada 5 meter di belakang bibir bantaran kanal. Kanal Thanon memiliki siklus banjir setiap 20 tahun sekali dengan ketinggian banjir kurang dari 1 meter. Sejak kampung itu ditata, tak ada lagi rumah yang menjorok ke kanal, memberikan ruang bagi air untuk mengalir, dan itu artinya mengurangi risiko banjir.

Libatkan warga

Bersama Ford Foundation, Kompas pada 21-22 Oktober menengok penataan kampung oleh CODI di Kanal Bang Bua.

CODI merupakan institusi sentral dalam penataan kampung di Thailand. Lembaga pemerintah ini menjadi jembatan antara warga dan sejumlah kementerian. CODI menjadi institusi yang memberikan akses bagi warga untuk merencanakan penataan kampung berbasis masyarakat sekaligus perantara bagi warga memperoleh bantuan modal dari pemerintah untuk perbaikan permukiman.

Selama 13 tahun terakhir, lewat CODI, Pemerintah Thailand telah melaksanakan 858 proyek penataan kampung di 277 kota di 73 provinsi di Thailand, termasuk Bangkok. Sebanyak 90.813 rumah telah dibangun dengan melibatkan 1.546 komunitas warga setempat.

Seluruh proyek penataan kampung itu menelan biaya tak kurang dari 2,8 miliar Baht atau sekitar Rp 1,1 triliun untuk pembangunan fasilitas umum. Untuk pinjaman lunak pembangunan rumah, pemerintah menggulirkan 4,1 miliar Baht atau Rp 1,6 triliun. Dana pinjaman lunak itu dikembalikan oleh warga dengan dicicil selama 13 tahun.

Pemimpin CODI Somsook Boonyabancha mengatakan, penataan kampung menempatkan warga sebagai subyek pembangunan. CODI mendorong dan mendampingi masyarakat untuk mengambil keputusan, termasuk memberikan pembelajaran untuk mengakses pinjaman lunak dari pemerintah. CODI juga menumbuhkan kebiasaan warga untuk menabung. "Warga harus tertib dalam menabung karena itu adalah modal mereka untuk menata kampung," ujarnya.

Saldo tabungan menjadi jaminan saat mengajukan pinjaman lunak kepada pemerintah. Warga harus mengupayakannya karena bangunan rumah itu akan menjadi aset milik warga yang diakui secara legal.

Menurut Somsook, tak ada solusi yang baku untuk setiap penataan kampung. Baik konsolidasi tanah maupun relokasi dimungkinkan selama disepakati warga. Pemetaan seluruh kampung yang perlu ditingkatkan kualitas huniannya harus dilakukan, termasuk kesiapan warga dalam menata kampung. (Madina Nusrat, dari Bangkok Thailand)

Sumber: Kompas | 30 September 2016

Berikan komentar.