TRP
Ironi RSUD Dokter Slamet Atmosoediro di DAS Cimanuk
27 September 2016 \\ \\ 170

Banjir bandang yang melanda Kota Garut, Jawa Barat, Rabu (21/9) dini hari, menimbulkan ironi bagi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Slamet Atmosoediro. Ketika pelayanannya sangat dibutuhkan, RSUD yang terletak di Kota Garut ini nyaris tidak berfungsi karena menjadi korban terjangan banjir bandang Sungai Cimanuk.

"Sejumlah alat kedokteran terendam air, mulai dari mesin radiologi, peralatan ICU (intensive care unit), dan mesin hemodialysis. Empat mobil ambulans juga rusak terseret air bercampur lumpur. Akibatnya, pelayanan kesehatan nyaris lumpuh," ujar Direktur RSUD dr Slamet Maskut Faridz di Garut.

Pelayanan poliklinik dan instalasi gawat darurat (IGD) terpaksa ditutup. RSUD tipe B Non Pendidikan berkapasitas 512 tempat tidur ini tidak menerima pasien baru. Pasien yang memerlukan tindakan operasi dirujuk ke rumah sakit lain. "Waktu banjir datang, saya langsung digotong ke atas. Saya pasrah saja, kebetulan kondisi saya juga sudah agak baik," kata Rismayanti (37), pasien penderita jantung yang awalnya dirawat di ruang ICU.

Mengapa RSUD dr Slamet menjadi sasaran terjangan Sungai Cimanuk? Rumah sakit yang dibangun pada zaman Belanda tahun 1922 itu terletak pada pertemuan Sungai Cimanuk dengan dua anak sungainya, Cikamiri dan Cipeujeuh. Akibat hujan deras Selasa malam hingga Rabu dini hari, ketiga sungai meluap berbarengan, membawa material lumpur dari hulu.

Selain RSUD, juga ikut hancur bangunan vital lain di daerah Tarogong Kidul. Tercatat 633 rumah terendam dengan ketinggian air sekitar 2,5 meter. Rumah warga yang rusak berat, roboh, dan hanyut mencapai 150 rumah. Korban jiwa hingga Sabtu (24/9) malam mencapai 33 orang dan hilang 19 orang. Pelayanan kesehatan dilakukan di Rumah Sakit TNI AD Guntur, Makorem, Garut. Sebanyak 59 orang luka-luka dan 4 orang dirawat inap.

Bandjir Tjimanoek

Rencana pembangunan rumah sakit di DAS Cimanuk sudah dicanangkan pada zaman Bupati Garoet RAA Soeria Karta Legawa (1915-1929). Pasalnya, sampai tahun 1917, di Garut baru terdapat klinik darurat untuk Stadpolitie di Tjimanoek Rivier Weg (Jalan Cimanuk sekarang). Penggagasnya dr Mulder dan dr Stiohtor (rsudrslamet.or.id/KTLV-Leiden).

Namun, tahun 1919 muncul petisi keberatan atas rencana pembangunan rumah sakit di daerah ini. Sebab, pembelian lahan melebihi kebutuhan dan harus membangun jembatan penghubung Cimanuk yang berimplikasi biaya besar. Diperingatkan juga risiko banjir di daerah rawa di sana (De Preanger-bode, 12 April 1919). Sebab, lahan yang akan dibangun rumah sakit berada di pertemuan tiga sungai, Tjipeujeuh, Tjikamiri, dan Tjimanoek.

Pada 25 Oktober 1920 terjadi banjir bandang. Koran De Preanger-bode memberitakan berturut-turut pada 25-26 Oktober 1920. Hoejan deras jang melanda Garoet sehari semalam memboeat soengai Tjimanoek meloeap.

Areal pesawahan yang luas di cekungan Cimanuk terendam. Kolam-kolam ikan dan jembatan desa jebol. Ikan-ikan mati tertutup lumpur. Dilaporkan pula, banjir besar di kawasan itu pernah terjadi pada 20 tahun sebelumnya.

Namun, peringatan itu seperti tertelan zaman. terutama setelah keluarnya Besluit Nomor 10279 tanggal 19 Juli 1921 yang ditetapkan Gubernur Jenderal Dirk Fock dan Sekretaris Jenderal GR Erdfrink sebagai wakil Sri Ratu Wihelmina dari Kerajaan Belanda. Besluit itu berisikan perintah untuk meningkatkan pembangunan di daerah Priangan.

Lalu, dibangunlah jalan, saluran air, pasar rakyat, lampu jalan, taman, lapangan, dan jembatan di Garut. Demikian pula jembatan Cimanuk yang menghubungkan antara Maktal dengan jalan menuju Patrol. Di tempat ini dibangunlah Rumah Sakit Umum (Algemen Zieken Huis) yang terbilang megah pada zaman itu.

Rumah sakit ini berada di daerah rawa yang dikelilingi Sungai Cimanuk, Cipeujeuh, dan Cikamiri. Rumah sakit diresmikan Gubernur Jenderal Dirk Fock (1921-1926) dan disaksikan Bupati Garoet RAA Soeria Karta Legawa (1915-1929) pada Maret 1922. Tahun 1927, Dokter Slamet Atmosoediro ditugaskan di Zieken Huis Garoet untuk memberantas wabah pes. Tragisnya, wabah dari tikus itu menulari sang dokter sehingga ia meninggal pada tanggal 11 Mei 1930 (KTLV). Untuk mengenang jasanya, tahun 1980 Pemkab Garut mengeluarkan perda untuk memberi nama RSUD dr Slamet.

Lahan kritis

Munculnya kekhawatiran ancaman "bandjir Tjimanoek" saat itu sangat beralasan. Kontur tanah di kawasan hulu Sungai Cimanuk, Cipeujeuh, dan Cikamiri pada umumnya memiliki kemiringan lebih dari 40 persen. Dengan kemiringan di atas 40 persen, menurut Balai Data dan Informasi Sumber Daya Air Pusat Sumber Daya Air Jawa Barat, tidak dapat menyerap air dengan baik.

Air hujan akan langsung turun ke sungai dengan membawa material lainnya berupa tanah dan lumpur. Cimanuk sudah membuktikannya pada banjir besar tahun 1920 dan pada 20 tahun sebelumnya. Padahal, saat itu vegetasi hutan di kawasan hulu Sungai Cimanuk masih baik. Sekarang, kawasan hutan penangkap air Sungai Cimanuk yang terletak di perbukitan Gunung Mandalagiri, Kecamatan Cikajang, 20 kilometer selatan Garut, sudah berubah menjadi perkebunan sayur dan hortikultura. Lebih-lebih sejak reformasi perubahan fungsi lahan begitu masif sehingga menimbulkan lahan-lahan kritis.

Berdasarkan data di Pengelolaan Sumber Daya Air Jabar, luas lahan kritis di hulu Cimanuk mencapai 30.442 hektar dan menyumbang sedimentasi erosi pada Cimanuk dan anak-anak sungainya hampir 3 juta per hektar per tahun. Sedimentasi erosi yang tinggi itu mendangkalkan dan semakin menyempitkan alur sungai. Tokoh masyarakat Cikajang, Asep Sofyan, merasakan, setiap musim hujan, banjir lumpur selalu terjadi di Cikajang. Lebih-lebih setelah ribuan hektar perkebunan teh berubah menjadi pertanian sayuran. Tahun 2011, misalnya, banjir bandang menghanyutkan sejumlah rumah di Desa Simpang, Cikajang.

Tanggal 9 Desember 2014, banjir lumpur merendam tidak kurang dari 720 rumah. Tujuh rumah hanyut dan 35 rumah lainnya rusak. Puluhan kolam ikan serta ternak sapi dan domba hanyut sehingga memiskinkan ratusan pemiliknya. "Ribuan warga Desa Mekarjaya, Girijaya, Cikajang, dan Tanjungjaya, Banjarwangi, selalu waswas karena setiap musim hujan, banjir lumpur," ujar Suryaman, tokoh masyarakat Garut selatan. (Samuel Oktora/Dedi Muhtadi)

Sumber: Kompas | 25 September 2016

Berikan komentar.