TRP
Memulihkan Tanah Singkep
14 September 2016 \\ \\ 183

Selama ratusan tahun, daratan Singkep di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, digali sejumlah pihak yang mencari pasir timah. Penambangan selama berabad-abad itu menyisakan sedikitnya 40.000 hektar lahan yang tertutup pasir putih.

Rumput saja susah tumbuh di lahan bekas tambang. Padahal, rumput mudah tumbuh di mana saja," ujar Bupati Lingga Alias Wello.

Perusahaan-perusahaan penambang timah di salah satu pulau besar di Lingga itu banyak yang belum menjalankan kewajiban. Mereka membiarkan lahan kritis yang luasnya lebih dari separuh Singkep terbengkalai selama puluhan tahun. Sebagian besar bekas konsesi PT Timah Tbk.

Penambangan timah di Singkep berlangsung sejak 1812 oleh berbagai pengelola. Perusahaan dari Belanda mulai menambang setelah memperoleh konsesi dari Kesultanan Riau-Lingga, penguasa Singkep kala itu, pada Desember 1857.

Perusahaan Belanda terakhir yang beroperasi di Singkep adalah Singkep Tin Maatschaappij (Sitem). Pada masa orde baru, seluruh aset Sitem dinasionalisasi dan dikelola PN Timah yang kemudian menjadi PT Timah Tbk.

Areal tambang terpencar di berbagai penjuru Singkep. Sebagian berupa kolam dengan luas rata-rata 1 hektar. Sebagian lagi hamparan pasir putih yang nyaris tidak ditumbuhi apa pun.

"Lahan keluarga saya termasuk bekas penambangan timah. Sudah bertahun-tahun saya mencoba menanam aneka tumbuhan. Hampir semuanya mati, tidak bisa tumbuh di tanah bekas tambang," kata Wello.

Di belakang rumah orangtuanya yang masuk wilayah Kecamatan Singkep Barat, Wello pernah mencoba menanam mangga, jambu air, dan jeruk. Semua mati. "Sekarang saya sedang mencoba menanam jambu biji. Saya tahu banyak orang menyebut saya gila karena bersikeras menanam di lahan bekas tambang," ujarnya.

Wello memodifikasi truk yang dipasangi bajak besi bikinan sendiri untuk menggemburkan tanah. Berton-ton pupuk kandang ditabur di lahan bekas penambangan timah itu. Namun, tetap saja tumbuhan yang ditanam silih berganti tidak bisa hidup. Rumput saja hanya hidup beberapa rumpun.

Serbuk sabut

Kini, Wello mencoba cara baru yang diketahuinya dari Ady Indra Pawenari. Ady adalah pengusaha yang bisnis utamanya pengolahan sabut kelapa. Hasil olahan itu antara lain dipakai untuk media tumbuh tanaman di lahan kritis. Selama beberapa bulan terakhir, Ady bermitra dengan Pemkab Lingga untuk memulihkan lahan kritis di Lingga.

Dari Ady, Wello tahu bahwa penggemburan dan pemupukan saja tidak cukup untuk areal bekas tambang. Tanah itu sama sekali tidak punya lapisan humus dan tidak subur. Di tanah seperti itu sulit mengharap tanaman apa pun tumbuh.

Ady yang berbisnis limbah kelapa memberi tahu Wello bahwa areal bekas tambang perlu dilapisi media tumbuh untuk tanaman. Salah satu yang bisa dipilih adalah serbuk sabut kulit kelapa. Serbuk itu bisa didapat sebagai limbah paling akhir dari kebun kelapa atau pabrik minyak goreng.

Kulit kelapa biasanya dibiarkan begitu saja di kebun-kebun atau diolah sebagian untuk diambil serabutnya. Sisa pengolahan itu menghasilkan serbuk yang kerap dibuang begitu saja. "Ternyata, ada yang mengembangkan serbuk ini sebagai media tanam. Serbuk ini bisa menyimpan air sehingga cocok dipakai untuk lahan yang sulit air seperti di areal bekas tambang," kata Ady.

Serbuk itu dicampur dengan pupuk kandang dan kompos, lalu dijadikan media tanam untuk bibit jambu biji yang didatangkan dari Bogor, Jawa Barat. Bibit-bibit itu dibeli dari Institut Pertanian Bogor.

Serbuk itu menjadi penahan air karena bisa menyimpan air hingga tiga kali lipat bobotnya. Selain itu, serbuk sabut kelapa mampu mengatasi kegagalan tumbuh tanaman gara-gara miskin hara karena di dalamnya terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), dan fosfor (P) yang mampu menyerap unsur N dari udara.

Media tumbuh dari serbuk sabut kelapa juga punya pori-pori yang memudahkan pertukaran udara dan masuknya sinar matahari. Kandungan Trichoderma mold, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah serta menjaga tanah tetap gembur dan subur.

"Mudah-mudahan sekali ini bisa tumbuh dan Singkep bisa hijau lagi. Selain mencoba ini, kami juga menjajaki kerja sama dengan Jerman," ujar Wello.

Pemkab Lingga sudah bertemu perwakilan Kedutaan Besar Jerman Juni lalu di Jakarta. Jerman akan mengirim tim ahli ke Lingga untuk menindaklanjuti pertemuan.

Penanggung jawab

Pemkab Lingga juga tengah melakukan sejumlah hal untuk memperbaiki kondisi itu. Pendataan ulang para pemegang izin usaha pertambangan di Singkep tengah dilakukan. Wello mengakui, sementara ini data yang dipegangnya baru berupa nama-nama perusahaan yang pernah beraktivitas di Lingga. Belum sampai pada data berupa lokasi presisi yang pernah menjadi areal operasional setiap penambangan.

Sebagian perusahaan yang terdata sudah dihubungi. Pemkab menagih tanggung jawab mereka untuk merehabilitasi areal bekas tambang.

Pemkab Lingga juga menggandeng sejumlah pihak untuk merehabilitasi sebagian lahan itu. "Tentu tidak bisa sekaligus seluruh areal bekas tambang. Kemampuan kami terbatas, sudah bertahun-tahun APBD Lingga defisit," ujarnya.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Agung Nugroho membenarkan BUMN itu pernah beraktivitas di Singkep. Sekarang, perseroan tengah menjajaki kemungkinan beroperasi ulang di Singkep. "Kami mengakji semua aspek, termasuk reklamasi pasca tambang dan aset di sana," ujarnya.

PT Timah Tb sudah 24 tahun hengkang dari Singkep setelah harga timah jatuh pada pengujung dekade 1980-an. Namun, jejak keberadaan BUMN tambang itu masih terlihat sampai sekarang. Berbagai bangunan peninggalan PT Timah Tbk masih digunakan sampai sekarang.

Tidak hanya bangunan, infrastruktur juga ditinggalkan di Singkep. Di berbagai penjuru Singkep tersebar lubang-lubang tambang yang kini menjadi kolam dan sebagian berwarna hijau.

Kolam-kolam itu menjadi sarang nyamuk Anopheles dan Aedes aegypti. Hampir seluruh orang Singkep pernah terjangkit malaria dan terkena demam berdarah gara-gara nyamuk-nyamuk itu. "Kami berusaha memperbaiki kondisi ini," ujar Wello.

Sumber: Kompas | 14 September 2016

Berikan komentar.