TRP
Fungsi Jalur Pedestrian Dikembalikan
14 September 2016 \\ \\ 156

SEMARANG — Penertiban bangunan liar dan kumuh di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalur pedestrian di kawasan bersejarah itu. Jaminan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan diyakini menjadikan kawasan ini menjadi daya tarik.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu, Selasa (13/9), mengatakan, pemerintah daerah berpegang pada Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Kota Lama. Kendati peraturannya dirancang sejak lama, bangunan-bangunan liar selama ini terus dibiarkan dan menyisakan kesan rawan di kawasan 40 hektar itu.

"Penataan Kota Lama dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalur pedestrian yang selama ini tertutup bangunan liar. Terlebih lagi, konsep Kota Lama nantinya akan diarahkan sebagai city walk," kata Hevearita.

Tiga hari terakhir, satuan polisi pamong praja setempat menertibkan sekitar 50 lapak pedagang kaki lima (PKL) liar di kawasan Kota Lama. Penertiban juga dilakukan di tempat jual beli ayam jantan yang sering digunakan sebagai arena judi sabung ayam.

Hevearita mengatakan, belasan bangunan permanen ilegal di Jalan Sendowo juga akan dibongkar. Sementara terminal angkutan kota juga bakal direlokasi karena menutup akses pejalan kaki. Pemkot telah berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk polisi dan TNI, agar penertiban berjalan aman.

Menurut Hevearita, PKL yang akan difasilitasi untuk direlokasi adalah komunitas Paguyuban Pedagang Barang Seni (Padangrani). Para pedagang barang antik ini menurut rencana direlokasi ke bangunan milik Dinas Pendidikan Jateng, tidak jauh dari lokasi berjualan saat ini.

"Pedagang mengaku salah karena berjualan di atas saluran air dan menutup jalan. Namun, karena jenis barang yang dijual mereka sesuai dengan tema klasik Kota Lama, kami akan fasilitasi untuk direlokasi," ucap Hevearita yang juga Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama Semarang.

Ketua Padangrani Semarang Teguh Gunawan mengatakan, pedagang setuju direlokasi ke gedung yang disiapkan pemkot.

Kendati penataan Kota Lama sudah dituangkan dalam bentuk peraturan daerah, selama belasan tahun pelaksanaan di lapangan terbilang tumpul. Salah satunya, larangan truk bertonase lebih dari 3 ton melintas. Namun, sejak pagi hingga malam, truk berat lalu lalang, bahkan dengan kecepatan tinggi.

Seiring penertiban kawasan Kota Lama, Kepala Bidang Perencanaan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang M Farchan mengatakan, infrastruktur kawasan juga akan dibenahi. Kota Lama diarahkan menjadi kawasan pusaka dunia yang berkelanjutan (living heritage).

Farchan mengatakan, biaya penataan kawasan bersejarah itu dianggarkan Rp 69 miliar. "Anggarannya diharapkan dari pemerintah provinsi dan pusat. Anggaran pemkot tersedia walaupun terbatas," katanya. (GRE)

Sumber: Kompas | 14 September 2016

Berikan komentar.