TRP
Anak Kemang, Betawi, dan Ketidakpedulian
05 September 2016 \\ \\ 236

Anak Kemang. Sebutan bagi mereka yang sering nongkrong di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kawasan yang tak pernah tidur ini tidak lagi didominasi para ekspatriat. Kafe, restoran, bar, klub, hotel, apartemen, hingga butik premium terus tumbuh mengikuti tingginya kebutuhan dan gaya hidup warga kelas menengah atas Jakarta.

Tara Anindita (29) mengenang ketika sang suami, Bagus Panuntun (32), melamarnya di Pablo Bar and Kitchen tahun 2012 silam. Saat itu bertepatan dengan Hari Valentine dan mereka tengah menikmati makan malam. Tiba-tiba ia menemukan cincin terselip dalam penganan penutup, dan Bagus pun melamarnya.

”Nggak heboh, sih, tapi kenangan itu berkesan banget. Sayangnya sekarang udah tutup kafenya. Saya sama suami sejak pacaran memang udah ’anak Kemang’ banget. Minimal setiap minggu pasti nongkrong di Kemang. Mau nyoba hang out ke mana pun baliknya tetep ke Kemang,” ungkapnya, Sabtu (3/9).

Saking ”Kemangnya”, sekalipun tinggal di Depok yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Kemang, mereka kerap menginap di Kemang saat akhir pekan atau ketika merayakan hari jadi pernikahan. Tempat favorit pasangan ini adalah Alila Hotel atau Grand Kemang Hotel.

”Buat aku dan suami, Kemang tuh one stop entertainment sih. Kita mau nongkrong di tempat enak ada, makanan enak banyak, mau pindah tempat pun tinggal loncat ibaratnya. Dan, kalau lagi seru ngobrol gak perlu mikirin jam resto tutup kayak di mal,” ujarnya.

Begitulah Kemang. Ia seperti magnet bagi anak muda, eksekutif, juga sosialita, sekaligus para investor yang melihat tingginya aktivitas ekonomi di sana. Selalu saja ada kafe dan restoran yang muncul menawarkan konsep-konsep baru ketika yang lain tergerus.

Perjalanan Kemang menjadi kawasan komersial seperti saat ini erat dengan kisah pengusaha Bob Sadino yang mendirikan supermarket Kem Chicks di Kemang mulai 1986. Bob mengawalinya dengan berdagang telur dan ayam negeri kepada para ekspatriat yang tinggal di Kemang.

Kemang saat itu masih asri dipenuhi pepohonan. Para ekspatriat pun tertarik datang dan tinggal. Selain Kem Chicks, supermarket, kafe, dan restoran pun bertumbuhan. Banyak orang masih mengingat Jimbani Cafe and Gallery, yang menyajikan masakan khas Bali lengkap dengan suasananya. Kini restoran yang dulu berada di Jalan Kemang Raya 85 itu tutup.

Salah satu yang masih bertahan adalah Amigos, bar dan restoran yang menyajikan masakan khas Meksiko yang didirikan sejak 1979. Sebelumnya restoran ini bernama Green Pub, tetapi pemilik mengubahnya menjadi Amigos yang dalam bahasa Indonesia berarti teman pada tahun 1989.

Memasuki Amigos, para pramusaji, termasuk manajer restoran, menyapa ramah. Kehangatan menyergap. Interior khas rumah tradisional Meksiko menyambut, dinding berwarna cerah berpadu dengan sentuhan hangat kayu dan lampu-lampu temaram. Barista mengenakan ponco dan sombrero (topi lebar khas Meksiko). Di akhir pekan, musik latin dan kelas salsa meramaikan suasana pengunjung yang menikmati tacos, nachos, burritos, atau margarita.

”Kalau mau cari makanan Meksiko, cari margarita yang enak yang di sini. Sejak awal berdiri, kami masih sama. Membangun mudah, tetapi mempertahankan memang sangat sulit,” ungkap Manajer Restoran Amigos Kemang Asidi.

Kini, membuka usaha di Kemang, diakui Asidi, tidak mudah. Selain banyak pesaing, harga jual atau sewa juga sangat mahal. Banyak usaha akhirnya tidak mampu bertahan.

Warga Betawi

Wilayah Kemang berada di Kelurahan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Kawasan itu dikenal dengan nama Kemang karena dahulu banyak ditumbuhi pohon kemang (Mangifera caesia), yang buahnya mirip dengan mangga. Saat ini sudah tidak ada lagi pohon kemang yang tersisa.

Hasanah (65), seorang warga yang lahir dan tumbuh dewasa di Kemang, mengungkapkan, dahulu Kemang merupakan persawahan, rawa-rawa, dan perkebunan. ”Dulu banyak sekali pohon bambu di sini. Di depan rumah ini ada jalan, tetapi cuma untuk jalan kaki. Setelah itu, sekitar tahun 1970-an mulai dibangun perumahan. Tanah-tanah warga dibeli, jadi banyak yang akhirnya pindah ke Ciganjur di Jagakarsa dan Depok,” ungkap Hasanah yang rumahnya berada di Jalan Kemang I.

Rumah ayah-ibu Hasanah telah dibeli oleh investor yang kemudian menjadikannya kafe dan restoran. ”Saya tidak tahu mau dibeli berapa, saya nggak pernah nanya. Tapi, ini milik saya satu-satunya. Kalau ini dijual saya mau tinggal di mana. Pokoknya kalau ada yang mau beli, saya cuma bilang tidak dijual,” ungkapnya.

Edy Mulyadi (43), Ketua Padepokan Seni Budaya Betawi Manggar Kelape, mengungkapkan hal senada. ”Dulu masih banyak kebun dan empang,” kenang Edy saat ditemui di rumahnya di Jalan Kemang Selatan X-A.

Seiring tumbuh pesatnya bangunan perkantoran, hotel, kafe, dan tempat hiburan lain, penduduk asli Kemang pun banyak yang memilih pindah. Rumah mereka disewakan ataupun dijual. ”Saat ini, penduduk asli Kemang yang masih tersisa sekitar 30 persen,” ujar Edy.

Kesenian Betawi di Kemang mulai dikenal sejak 2006 setelah Manggar Kelape didirikan. Sejak saat itu selalu ada festival palang pintu dalam rangka menyambut hari ulang tahun DKI Jakarta. Festival untuk melestarikan budaya Betawi sekaligus menarik wisatawan tersebut rutin diadakan di sepanjang Jalan Kemang Raya.

Tak terkendali

Ketua RT X RW 005 Kelurahan Bangka Narno mengatakan, masifnya pertumbuhan areal komersial di Kemang bahkan meluas hingga bantaran Kali Krukut. Kali Krukut mengalir sepanjang 33 kilometer dari Situ Citayam, Bogor, hingga bermuara di Kali Ciliwung di daerah Glodok. Di wilayah Kemang dan sekitarnya, aliran Kali Krukut yang sebelumnya selebar 20 meter kini 2 meter-3 meter saja.

Kepala Suku Dinas Tata Ruang Jakarta Selatan Syukria mengakui kini tidak hanya banjir, persoalan yang juga terus terjadi adalah kemacetan setiap pagi dan sore serta di akhir pekan. Parkiran kendaraan pun tumpah ke badan jalan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam Rencana Detail Tata Ruang DKI Jakarta tahun 2014 berusaha mengendalikan pembangunan yang sudah telanjur, termasuk yang tidak sesuai peruntukannya, melalui rencana pengaturan zonasi. Kawasan Kemang seharusnya merupakan kawasan permukiman dengan koefisien dasar bangunan rendah. Areal komersial diatur hanya berada di seputar Jalan Kemang Raya, Jalan Taman Kemang, sebagian Jalan Kemang Selatan, dan Jalan Kemang I.

”Kawasan yang lain saat ini dimungkinkan menjadi areal komersial, dengan catatan hanya 50 persen yang digunakan, harus membuat trotoar, dan merelakan lahannya jika ada pelebaran jalan,” ungkap Syukria.

Namun, faktanya, pejalan kaki nyaris tak mendapat tempat. Sebagian besar lahan terbuka menjadi tempat parkir yang ditutup beton ataupun aspal. Sangat sedikit yang menyediakan lahan untuk serapan air.

Tingginya kelas sosial ternyata tidak selalu diikuti dengan tingginya kesadaran akan dampak lingkungan. Maka, ketika hanya beton yang terus-menerus ditanam, jangan heran kalau lagi-lagi banjir dituai. (HLN/IRE/C04)

Sumber: Kompas | 5 September 2016

Berikan komentar.