TRP
Berbagi Ruang demi Kota Humanis
05 September 2016 \\ \\ 185

Gelak tawa Rama Nursatya (3) memecah sore di Taman Balai Kemambang, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tangan mungilnya yang menggenggam pakan ikan ditingkahi kerumunan nila dan ikan mas di satu sudut kolam. Misdar (31) dan Satiah (25), kedua orangtuanya, ikut tergelak menyaksikan polah anaknya itu. Keluarga itu sungguh menikmati libur kecil mereka.

Kalau bosan di rumah, ya, ke sini (Taman Balai Kemambang). Tempatnya dekat. Tiketnya murah. Kadang juga bawa bekal seadanya dari rumah untuk dimakan bareng," kata Satiah disambut anggukan kepala Misdar, suatu sore, akhir Juli lalu.

Selepas Rama puas bermain ikan, Misdar menggendong anaknya itu menuju areal bermain di sisi barat taman. Melihat ayunan yang kosong, Rama minta turun lalu berlari kecil ke ayunan itu. Satiah pun menemani anaknya bermain ayunan. Misdar memotret mereka dengan kamera ponsel lawasnya.

Keberadaan ruang seperti Taman Balai Kemambang bagi Misdar sangat berarti. Dengan penghasilan pas-pasan, dia tidak sanggup mengajak keluarganya berlibur ke Baturraden sekalipun. Tiket masuk ke obyek wisata alam paling terkenal di Purwokerto itu Rp 25.000 per orang. Belum ditambah biaya parkir dan ongkos transportasi.

Tiket masuk Taman Balai Kemambang Rp 2.500 per orang dewasa masih terjangkau untuk Satiah yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci baju dan Misdar yang menjadi tukang permak celana jins keliling.

Sejak diresmikan pada Februari 2014, taman seluas 2 hektar di jantung kota Purwokerto itu tidak pernah sepi. Taman ini menjadi tempat liburan murah meriah bagi warga.

Disebut Balai Kemambang karena terdapat anjungan yang mengapung di tengah kolam ikan seluas 250 meter persegi. Tempat ini seperti oase di tengah kota yang dua tahun terakhir kian padat oleh permukiman dan bangunan komersial. Taman ini juga dilengkapi fasilitas bermain anak, gardu pandang, ruang terbuka, dan banyak tempat duduk untuk bersantai.

"Rumah" warga

Warna-warni bunga menambah sejuk jiwa. Taman ini juga memiliki lintasan jogging dan sepeda khusus anak-anak. Jika beruntung, pada sore hari dan cuaca tidak mendung, pengunjung bisa menyaksikan panorama matahari terbenam.

Kebersihan begitu dijaga. Di berbagai sudut taman, tempat sampah dipisah antara organik dan non-organik. Petugas kebersihan rutin menyapu.

Saat malam, banyak mahasiswa memanfaatkan ruang taman untuk berselancar informasi atau mengerjakan tugas. Taman ini dilengkapi jaringan internet nirkabel.

Taman Balai Kemambang menambah pilihan ruang publik bagi warga Purwokerto dan sekitarnya. Ruang yang lebih ramah dan nyaman bagi warga dari semua kelas adalah Alun-alun Purwokerto. Sejak pemerintah daerah menepikan dua beringin besar yang berada di tengah lapangan, alun-alun menjadi "rumah" warga di kala malam.

Lokasi ini tak pernah sepi. Malam itu, Narsun (37) dan istrinya, Karminah (29), duduk santai di tikar yang digelar di atas rumput sambil menikmati jagung bakar. Di dekatnya, Nandri (4) dan Ganang (3), dua anak mereka, asyik bermain bola pantul.

"Kaya ngeneh baen, utang be lali (Cukup begini saja, utang saja lupa)," ucap Narsun lalu tertawa. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh proyek perumahan itu mengatakan, Alun-alun Purwokerto menjadi pilihan paling terjangkau baginya untuk mendapatkan hiburan.

Di sudut lain, sekelompok pemuda asyik bermain bola gaya bebas (freestyle). Ada pula penghobi fotografi pesawat kontrol (drone).

Warga pun kian nyaman duduk di atas rumput yang terawat. Berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa duduk bersama dalam kelompok masing-masing sembari berdiskusi ditemani hidangan wedang ronde dan jagung bakar.

Kala malam, tempat ini menjadi lebih meriah dengan banyaknya alternatif hiburan, terutama wahana permainan yang bisa disewa oleh pengunjung. Inisiatif pemerintah membuat deretan air mancur diterangi lampu warnawarni menjadikan alun-alun kian menarik. Revitalisasi alun-alun itu menelan biaya Rp 1,5 miliar.

Mengubah citra

Tidak hanya mempercantik ruang publik, pemerintah daerah juga mengubah citra ruang publik yang dahulu seram dan rawan, yakni Terminal Bus Bulupitu, menjadi ruang yang humanis. Lokasi itu dulu panas, gelap, sesak, dan rawan kriminal.

Kini, terminal seluas 13 hektar ini kaya fasilitas umum. Bagi orangtua yang bepergian dengan anak kecil, Terminal Bulupitu bukan tempat yang membosankan untuk menunggu. Masuk di halaman parkir pengunjung, pepohonan hijau menyejukkan mata.

Di bawah pepohonan tersebar aneka mainan anak-anak, tempat duduk, dan mejanya. Terminal ini juga dilengkapi taman lalu lintas sebagai wahana edukasi anak-anak.

Saat malam, terminal yang dahulu menjadi sarang preman itu kini menjadi tempat asyik untuk bersantai. Pengelola terminal menata ratusan payung gantung warna-warni dilengkapi lampu yang menyala saat malam. Tiada lagi kesan rawan, hanya sebuah romansa.

Di terminal, terpampang spanduk foto berukuran besar bergambar menara Eiffel dan patung Merlion berpagar yang membuat swafoto pengunjung kian seru. Seolah mereka sedang berada di Paris atau Singapura. Ini seperti dilakukan Shinta Prabawati (18) dan Nina Elmaya (18), dua mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Purwokerto, siang itu.

Mereka mengaku dahulu jarang ke terminal karena kesan seram dan rawan. "Walau enggak mau naik bus, tetap bisa bersantai di terminal sambil foto-foto. Buat senang-senang saja," ujar Shinta.

Terminal ini juga kian humanis dengan perpustakaan baca pengunjung dan ruang laktasi ibu menyusui. Calon penumpang juga tak risih oleh pedagang karena sudah diatur rapi.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Banyumas Santoso Eddy Prabowo mengatakan, perubahan wajah Terminal Bulupitu berawal dari kian sepinya terminal itu. Banyak calon penumpang dan awak bus enggan masuk ke kawasan terminal karena rawan kriminal.

"Kami hanya ingin mewujudkan terminal yang terkesan bersih dan aman. Biayanya tidak besar, yang penting kemauan," ujarnya.

Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, mengatakan, minimnya ruang publik berkorelasi pada meningkatnya kerawanan sosial dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat stres. Ruang publik menjadi media untuk interaksi sosial yang dapat melahirkan manusia yang terdidik, terpelajar, dan berperilaku rasional logis. (Gregorius M Finesso)

Sumber: Kompas | 4 September 2016

Berikan komentar.