TRP
Kemang yang ”Kemeng”
05 September 2016 \\ \\ 246

Siapa sangka kawasan Kemang yang konon dulunya kampung para jawara dan orang-orang berpengaruh Betawi itu kini menjadi hunian elite? Kawasan yang namanya diduga berasal dari nama pohon kemang (Mangifera caesia), yang banyak ditanam di wilayah itu, dikenal sebagai kawasan yang hijau karena banyak pohon.

Banyak ekspatriat yang memilih tinggal di kawasan ini. Bahkan, sekilas kawasan tersebut mirip kawasan wisata di seputaran Kuta, Bali. Kemang kemudian menjadi salah satu lokasi tempat orang Jakarta menghabiskan malamnya. Berbagai fasilitas tersedia di sana, dari bank, hotel, supermarket, salon, mal, hingga tempat-tempat nongkrong lainnya.

Kemang menjadi salah satu wilayah unik di Ibu Kota, seperti kawasan Jalan Jaksa atau Menteng dengan segala kekhasannya.

Namun, penghuni kawasan Kemang, Jakarta Selatan, akhir Agustus lalu tiba-tiba ”mendapat berkah”. Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya saat itu mengakibatkan banjir di sejumlah lokasi. Kali Krukut, yang mengalir membelah Kemang, tak lagi mampu menampung air dan menumpahkannya ke kawasan sekitarnya.

Berbagai ”kemewahan” dan elitisme Kemang pun seperti lenyap sesaat. Mobil-mobil mewah terendam banjir. Jalanan berubah menjadi sungai dan rumah-rumah mewah dikepung genangan air keruh.

Banjir Kemang lalu menjadi semacam senjata untuk menyerang berbagai kebijakan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ibarat kata, sesaat, warga Kemang dan Pak Ahok pun mungkin kemeng (sakit-sakit linu) akibat banjir itu.

Sudah seharusnya

Secara sederhana, apa yang terjadi di kawasan yang pada tahun 1960 hingga 1970-an dulu merupakan wilayah penyangga kawasan elite Kebayoran Baru itu memang sudah ”seharusnya terjadi”. Kawasan tersebut tumbuh tak terkendali.

Cukup dengan logika sederhana. Kawasan yang dulunya hijau dengan bangunan tak sepadat saat ini, Kali Krukut juga masih lebar dan mampu menampung curah hujan lebat, kemudian diokupasi berbagai bangunan.

Lahan-lahan tertutup beton, dan Kali Krukut pun makin menyempit. Saat sungai dan lokasi-lokasi parkir air lain tak ada, air pun secara alami akan meluap ke kawasan sekitarnya.

Apa yang terjadi di Kemang hanya salah satu contoh bagaimana Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) DKI tak mampu mengendalikan kekuatan ekonomi. Wilayah Jakarta Selatan dalam RTRW DKI hingga tahun 2030 masih ditetapkan sebagai daerah resapan.

Jika terjadi pelanggaran peruntukan, pelanggar bisa membayar denda atau ganti rugi. Ketika ketelanjuran terjadi, para pejabat yang bertanggung jawab pun beradu dalih.

Banjir di Kemang pun lalu meluncurkan pernyataan perlunya penataan ulang kawasan itu. Padahal, untuk merealisasikannya bukanlah hal yang mudah dan murah.

Jadi kapan hari banjir terulang lagi, para pejabat yang bertanggung jawab pun akan mengeluarkan komentar serupa. Begitu seterusnya. Oleh AGUS HERMAWAN.

Sumber: Kompas | 4 September 2016

 

Berikan komentar.