TRP
Pemkab Manggarai Barat Didesak Tata Labuan Bajo
12 Agustus 2016 \\ \\ 465

LABUAN BAJO — Meski telah menjadi salah satu destinasi utama pariwisata Indonesia, tata ruang kota dan kawasan wisata Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, masih amburadul. Pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan untuk menata kawasan itu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur (NTT) Marius Ardu Jelamu mengatakan, Labuan Bajo kian mendunia sejak 2010 seiring masuknya satwa komodo, yang hanya ada di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, sebagai salah satu keajaiban dunia. Namun, keajaiban alam yang selalu menarik wisatawan berkunjung itu belum diimbangi dengan pengelolaan kawasan.

Dia mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk menyusun peraturan daerah tentang pengelolaan kawasan wisata Labuan Bajo. "Semakin lama dibiarkan, kesemrawutan semakin parah. Jika terlambat, daerah sendiri yang nantinya akan kesulitan menata kembali," kata Jelamu, Kamis (11/8).

Sejumlah aturan yang perlu segera dibuat antara lain tentang penyusunan tata ruang kawasan wisata mengingat sebagian besar kawasan pantai sudah dikuasai pengusaha luar daerah dan asing, pengaturan transportasi darat dan laut, serta penataan dan pengelolaan sampah.

Untuk perda pengelolaan sampah di kawasan wisata Labuan Bajo, kata Jelamu, setiap pelaku usaha, khususnya tempat makan, harus dilarang membuang sampah ke laut. Begitu pula sampah ataupun limbah hotel, pasar, dan rumah tangga agar segera dikelola.

Di kawasan Labuan Bajo, yaitu di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, kantong plastik dan bungkus kemasan air minum berserakan. Kawasan tersebut merupakan pusat perdagangan, jasa wisata, dan kuliner.

Hal tersebut dikeluhkan wisatawan. Menurut Jeremy, wisatawan asal Perancis, masyarakat dan pelaku pariwisata perlu dilibatkan untuk menata kawasan Labuan Bajo agar bersih. Dalam kunjungan pertamanya itu, Jeremy sendirian memunguti sampah plastik di jalanan. "Kalau dibiarkan terus seperti ini, tempat ini akan menjadi tidak nyaman lagi disinggahi," katanya. (kor/ita/frn)

Sumber: Kompas | 12 Agustus 2016

Berikan komentar.