TRP
Moratorium Sawit - Momen Benahi Pengelolaan Lahan
10 Agustus 2016 \\ \\ 163

JAKARTA — Kebijakan moratorium perkebunan sawit baru yang dibahas pemerintah menjadi momen perbaikan pengelolaan lahan dan hutan. Ekspansi perkebunan sawit saat ini dinilai terlalu agresif dan tanpa kendali sehingga memicu masalah, seperti perambahan serta kebakaran hutan dan lahan.

"Pekerjaan besar ialah landbanking. Siapa bisa mengatur, memaksa mereka tak membuka atau tetap melindungi," kata Pablo Pacheco, peneliti senior Lembaga Riset Kehutanan Internasional, Selasa (9/8) di Jakarta.

Landbanking adalah korporasi yang mendapat izin konsesi amat luas, tetapi hanya sebagian dimanfaatkan. Pengaplingan lahan itu membuat proporsi pengelola lahan antara korporasi dan petani kecil di Indonesia timpang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengusulkan hutan yang belum dibuka itu ikut dimoratorium (Kompas, 19/7). Namun, tak ada mekanisme yang menjamin hutan itu tak segera dibongkar sebelum moratorium sawit diluncurkan.

Moratorium sawit juga harus diikuti perbaikan regulasi lain. Salah satunya, meningkatkan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) setelah pembubaran Indonesian Palm Oil Pledge (IPOP). "Perbaruan ISPO yang memenuhi standar internasional meningkatkan kepercayaan pembeli," ujarnya.

Pablo, yang berasal dari Bolivia, Amerika Selatan, menyatakan, moratorium ekspansi perkebunan kedelai masih berlangsung di Brasil. "Konsumen dan pembeli berhasil mendorong agar tak berasal dari pembukaan (Hutan) Amazone," lanjutnya.

Moratorium juga mendorong korporasi meningkatkan produktivitas lahan tanpa ekspansi. Jadi, korporasi akan serius mendampingi petani kecil plasma dan petani yang memasok ke pabrik sawit agar produktivitas naik.

Menurut Koordinator Serikat Petani Kelapa Sawit Mansuetus Darto, moratorium sawit berdampak positif bagi petani yang menguasai 40 persen luasan kebun sawit di Indonesia. Korporasi perkebunan tak bisa ekspansi sehingga meningkatkan pendampingan petani. (ICH)

Sumber: Kompas | 10 Agustus 2016

Berikan komentar.