TRP
Konflik Lahan - Pemerintah Diminta Telusuri Kasus
09 Agustus 2016 \\ \\ 208

JAKARTA — Pemerintah pusat diminta melihat kondisi sebenarnya di lapangan terkait konflik yang berujung hilangnya rasa aman warga di Desa Olak Olak Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Lima warga desa itu berencana bertemu dengan staf Kantor Staf Presiden dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Hal itu dikatakan Musria, salah satu warga yang datang ke Jakarta, Minggu (7/8), di Jakarta. "Harapan kami, instansi terkait melihat kebenaran di lapangan. Jangan hanya dari katanya... Kami bertumpu pada Komnas HAM (Hak Asasi Manusia)," ujarnya.

Konflik lahan, kata Musria, mulai 2013, saat lahan warga digarap sebuah perusahaan kelapa sawit. Padahal, izin hak guna usaha (HGU) yang diterbitkan bupati tak memasukkan lahan itu.

"Kami mengajak pihak berwenang untuk membongkar kasus, melihat duduk perkaranya," kata Sekjen Aliansi Gerakan Reforma Agraria Mohamad Ali. Namun, pemerintah daerah setempat menilai, itu akibat provokasi lembaga swadaya masyarakat.

"Para penggugat adalah kepala desa. Kepala Desa Olak Olak, Bambang, dikriminalisasi atas tuduhan pemalsuan surat dan dihukum 1 tahun 2 bulan," ujarnya. Seharusnya pengadilan melihat itu adalah tanah konflik dan HGU dibatalkan.

Rabu (3/8) di Jakarta, Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA) dan Jaringan menyuarakan kasus sama. Itu berawal dari penanaman sawit di areal yang tak termasuk HGU sebuah perusahaan sawit. Gugatan dilayangkan warga kepada pemerintah kabupaten. Pada 2011, Pengadilan Tata Usaha Negara menyatakan, HGU itu batal demi hukum karena maladministrasi.

Saat warga memanen kelapa sawit di lahan itu, 15 warga diadili dan dihukum rata-rata dua bulan. Itu menuai aksi 420 warga dari berbagai desa. Konflik itu memuncak akhir Juli 2016.

Pihak KNPA mendesak Komnas HAM menginvestigasi kasus itu. "Kami minta Presiden menjalankan Reforma Agraria sejati, dengan membentuk lembaga penyelesaian konflik," kata Dewi Sartika dari KNPA. (ISW)

Sumber: Kompas | 8 Agustus 2016

Berikan komentar.