TRP
Sebar Pusat Aktivitas untuk Kurangi Kemacetan
05 Agustus 2016 \\ \\ 389

JAKARTA — Kemacetan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya dinilai turut dipicu oleh kekacauan pemakaian ruang. Aktivitas bisnis dan pemerintahan yang terpusat di satu wilayah membuat pola perjalanan tak seimbang.

Kepala Subdirektorat Perencanaan Program Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Tonny Agus Setiono dalam diskusi "Redistribusi Fungsi Lahan", di kantor BPTJ di Jakarta, Rabu (3/8), menyebutkan, setiap hari ada 47,5 juta perjalanan di wilayah Jabodetabek. Wilayah DKI Jakarta menjadi tujuan utama perjalanan warga Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang, khususnya Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.

"Tanpa distribusi fungsi lahan, kemacetan berpotensi lebih parah karena struktur perjalanan terpusat ke satu arah. Jika tanpa penanganan, perjalanan dari wilayah sekitar ke Jakarta bisa mencapai 240-300 menit atau 4-5 jam pada 2029," kata Tonny.

Kini sekitar 3,5 juta orang atau 12,7 persen dari 28,1 juta penduduk Jabodetabek berusia lebih dari 5 tahun merupakan komuter atau melakukan perjalanan pergi pulang. Jakarta Selatan jadi tujuan utama perjalanan (704.186 orang), lalu Jakarta Pusat (652.199 orang), Jakarta Timur (408.144 orang), Jakarta Barat (361.439 orang), dan Jakarta Utara (303.783 orang).

Pengembangan pusat aktivitas baru di wilayah sekitar dianggap perlu untuk memecah pergerakan orang. Menurut Kepala BPTJ Elly Adriani Sinaga, pengembangan pusat-pusat kegiatan baru di wilayah sekitar Jakarta menjadi salah satu poin yang dimasukkan dalam draf revisi Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur.

Pengembangan kawasan baru diarahkan spesifik, seperti industri, permukiman, dan pendidikan. Namun, menurut Elly, hal itu menghadapi tantangan yang kompleks di lapangan, khususnya terkait pemakaian lahan yang sudah masif dan fungsi yang beragam. "Saya lebih setuju pengembangan kawasan yang lengkap dengan segala fungsi yang dibutuhkan warga," ujarnya.

Draf revisi peraturan tentang tata ruang, kata Elly, akan disinkronkan dengan draf rencana induk transportasi Jabodetabek. Harapannya, pengembangan kawasan sejalan dengan kebijakan transportasi.

Pindahkan bisnis

Salah satu wacana yang muncul dalam diskusi tersebut adalah memindahkan fungsi bisnis atau pemerintahan yang selama ini terpusat di Jakarta. Ide itu sejalan dengan langkah yang ditempuh pemerintah kota negara lain.

Tonny mencontohkan Malaysia yang memindahkan pusat pemerintahan baru dari Kuala Lumpur ke Putra Jaya, dan Jepang yang memisahkan fungsi penelitian pengembangan dari Tokyo ke Tsukuba, pusat konvensi ke Chiba dan Yokohama, serta perumahan ke Tama.

"Tokyo dengan 7.693 kilometer persegi dan 34,5 juta penduduk bisa jadi contoh karena luas wilayah dan jumlah penduduknya relatif sama dengan Jabodetabek yang memiliki luas 7.315 kilometer persegi dan 27,9 juta penduduk," kata Tonny.

Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, berpendapat, ketimbang memindahkan pusat pemerintahan, pemerintah lebih baik menyiapkan regulasi, infrastruktur, serta insentif yang jelas untuk mendorong swasta memindahkan pusat kegiatannya.

"Pengembangan Cibinong di Kabupaten Bogor dan Tigaraksa di Kabupaten Tangerang bisa jadi contoh bahwa pusat pemerintahan harus ditopang pusat kegiatan lain yang dibutuhkan publik. Pusat bisnis itu gula yang mengundang semut," ujarnya.

Menurut Yayat, sejumlah pengusaha telah memindahkan pusat kegiatan ke luar Jakarta karena alasan efektivitas, seperti ke Serpong, Tangerang Selatan; dan Cikarang, Bekasi. Mereka melihat kemacetan kontra produktif bagi perusahaan dan karyawan.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Milatia Kusuma, menambahkan, selain mendistribusikan pusat kegiatan, pemerintah juga perlu tegas terhadap kebijakan tata ruang. "Selama ini sudah ada rencana spasial dan regulasi, tetapi tak ada sanksi atas pelanggaran. Pemerintah jangan lagi didikte pengembang besar," ujarnya. (MKN)

Sumber: Kompas | 4 Agustus 2016

Berikan komentar.