TRP
Proyek Tambak Lorok Terancam Mandek
03 Agustus 2016 \\ \\ 298

SEMARANG — Proyek Kampung Bahari Tambak Lorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, terancam mandek karena pembebasan 128 lahan milik warga yang dihuni sekitar 9.000 jiwa belum kunjung terlaksana. Pelaksana proyek senilai Rp 150 miliar ini mengancam menarik sekitar 50 pekerjanya dan alat berat dari kawasan Tambak Lorok karena tak ada yang bisa dikerjakan.

Pengawas proyek Kampung Bahari Tambak Lorok, Navis, Senin (1/8), mengatakan, pihaknya tidak bisa memasang tiang pancang di lokasi karena lahan masih ditempati warga. Padahal, semestinya 27 Juli sudah tahap finalisasi hasil ukur lahan warga dan pendataan pemilik lahan.

"Pada 1 Agustus ini, ternyata belum ada hasil appraisal. Jika warga belum diganti rugi, tentu pengerjaan tiang pancang untuk menahan gelombang sepanjang 1,7 kilometer tidak dapat diteruskan. Kami baru bisa menggarap sepanjang 130 meter di Tambak Boyo dan 210 meter di Tambak Rejo, dua dusun di Tambak Lorok," ujar Navis yang membawahi dua kontraktor, PT Pramanda dan PT Abdi Mulyo.

Sesuai jadwal, semestinya pada 10 Agustus nanti pembebasan lahan dan pembayaran ganti rugi sudah selesai supaya warga bisa direlokasi. Jika lahan sudah kosong, pembuatan tanggul tidak akan terhambat.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana Ni Made Sumiarsih mengatakan, proyek Kampung Bahari muncul setelah Presiden Joko Widodo ke Tambak Lorok, awal Desember 2014. Proyek ini bertujuan mengubah kampung nelayan yang kumuh dan selalu tergenang rob menjadi kampung bahari modern.

Pembangunan Kampung Bahari meliputi kawasan industri perikanan, pasar ikan, rumah apung, permukiman yang harmoni dengan rob, rusunawa, serta pusat kerajinan dan kuliner. Pembiayaan proyek di lahan seluas 50 hektar ini dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Wiwin Subiyono mengatakan, telah disiapkan dana pendamping Rp 10 miliar untuk percepatan pembebasan lahan. Dana tersebut antara lain untuk sosialisasi ke warga.

Subowo, Ketua RW 013 Kelurahan Tanjung Emas yang membawahkan Kampung Tambak Lorok, mengatakan, sosialisasi ke warga kurang. (WHO)

Sumber: Kompas | 2 Agustus 2016

Berikan komentar.