TRP
Pergerakan Tanah - Warga Curugkembar Tinggalkan Rumah
01 Agustus 2016 \\ \\ 165

SUKABUMI — Warga terdampak pergerakan tanah di Desa Cimenteng dan Desa Nagrakjaya, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai meninggalkan rumah untuk sementara sembari menunggu langkah pemerintah daerah merelokasi tempat tinggal mereka. Pergerakan tanah kemungkinan masih akan terus terjadi, baik pada musim hujan atau memasuki musim kemarau seperti saat ini.

Pergerakan tanah di Kecamatan Curugkembar terjadi sejak 17 Juli 2016. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, warga terdampak 1.122 orang yang tinggal di 413 rumah.

Siti Saadah (28), warga Kampung Babakan Mindi, Desa Nagrakjaya, mengatakan, sudah menempati rumah kontrakan di Kecamatan Sagaranten, sekitar 15 kilometer dari rumahnya di Curugkembar. Itu harus dilakukan karena rekahan tanah di sekitar rumah panggungnya semakin besar.

Ahli bencana, Surono, mengatakan, potensi pergerakan tanah kemungkinan besar masih akan terjadi meski memasuki musim kemarau. Alasannya, rekahan tanah sudah terbentuk dan rentan runtuh saat tanah mulai jenuh. "Relokasi menjadi jalan terbaik. Harus dipikirkan benar lokasi yang ideal. Jika tidak, masyarakat akan kembali ke tempat tinggalnya yang lama," tuturnya.

Perambah akan direlokasi

Relokasi ratusan perambah yang bermukim di kawasan hutan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil di Kabupaten Siak, Riau, semakin dimatangkan. Pemerintah Kabupaten Siak berjanji melakukan pemindahan secara manusiawi dan menyiapkan lokasi penampungan sementara.

"Kami sudah siap melaksanakannya. Kami menunggu arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jika sudah siap, Agustus ini program relokasi sudah dapat dilakukan," kata Syamsuar, Bupati Siak, saat dihubungi, Minggu (31/7), di Pekanbaru.

Menurut Syamsuar para perambah ditawarkan dua pilihan, pertama diberikan biaya untuk kembali ke kampung halamannya (apabila perambah berasal dari luar Siak atau Riau). Jika tawaran ditolak, perambah dapat memilih opsi relokasi menempati permukiman sementara yang disediakan Pemkab Siak.

Perambah yang direlokasi diberi kesempatan bekerja di perusahaan yang beroperasi di Siak. Dirinya sudah berbicara dengan grup Sinar Mas, Riau Andalan Pulp and Paper, serta beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit.

"Alhamdulillah beberapa perusahaan bersedia menampung tenaga kerja eks perambah. Malah sudah ada dua perusahaan perkebunan sawit yang berkomitmen menerima tenaga kerja masing-masing 70 orang dengan upah Rp 2,2 juta," katanya.

Menurut Syamsuar, pihaknya telah berkoordinasi dalam Forum Komunikasi Pemerintah Daerah yang langsung dihadiri kepala polres, komandan kodim, kepala kejaksaan negeri, dan kepala Pengadilan Negeri Siak menyangkut persiapan relokasi. Menurut rencana, relokasi akan bertempat di Kecamatan Siak dan Bunga Raya. (CHE/SAH)

Sumber: Kompas | 1 Agustus 2016

Berikan komentar.