TRP
Terpilih sebagai Peserta Program 100 Kota Berketahanan, Jakarta Tak Buat Program Baru
01 Agustus 2016 \\ \\ 272

JAKARTA — Provinsi DKI Jakarta terpilih sebagai salah satu peserta program pengembangan 100 kota berketahanan dalam kaitannya dengan konferensi PBB tentang pengembangan perkotaan UN Habitat III di Quito, Ekuador, pada Oktober 2016. Untuk program ini, DKI Jakarta tak mengembangkan program baru.

Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Oswar Muadzin Mungkasa mengatakan, DKI Jakarta hanya akan melanjutkan program-program yang selama ini sudah berjalan. "Program-program yang sesuai dengan pengembangan kota berketahanan sudah ada di DKI Jakarta, tinggal dilanjutkan saja," katanya seusai seminar "Relevansi Urbanisme Indonesia dalam Pengembangan Kota Berdaya Tahan" yang diselenggarakan Laboratorium Perkotaan Universitas Tarumanagara (Urban Laboratory of Tarumanagara), Jakarta, Sabtu (30/7).

Sejumlah program itu, kata Oswar, antara lain ruang publik terbuka ramah anak yang saat ini sudah berjumlah 100 lokasi, kampung iklim 32 lokasi, rencana pengolahan sampah menjadi listrik di Bantargebang, dan rencana pembangunan rusun ramah lingkungan. DKI Jakarta juga bermaksud membangun waduk-waduk kecil, tetapi hingga saat ini masih kesulitan lahan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan beberapa ahli untuk menjalankan proyek ini. Adapun pembangunan rusun menurut rencana akan dilakukan di Daan Mogot.

Selain DKI Jakarta, kota yang terpilih lainnya dalam program "100 Resilient City" adalah Kota Semarang, Jawa Tengah.

Kota berketahanan atau resilient city didefinisikan sebagai kota dengan warga kota, komunitas, lembaga, badan usaha, dan sistem yang mampu bertahan kendati menghadapi tekanan dan guncangan kritis. Program ini diprakarsai Yayasan Rockefeller dari Amerika Serikat.

Menurut Oswar, kendati berbeda nama, kota berketahanan mempunyai kemiripan dengan beragam program pengembangan kota yang ada sebelumnya.

Peneliti Pengembangan Perkotaan Universitas Tarumanagara, Jo Santoso, mengatakan, Indonesia kaya akan pengalaman perjuangan daya tahan di perkotaan. Dimulai dari tahun 1970-an dengan program pengembangan kampung hingga koperasi perumahan dalam mengatasi kemiskinan dan kekumuhan kota.

Dari pengalaman ini, pengembangan kota berketahanan diyakini justru berangkat dari kampung-kampung di perkotaan. Laboratorium Perkotaan Universitas Tarumanagara telah melakukan penelitian 10 tahun mengenai proses transformasi kampung-kampung di DKI Jakarta.

Wakil Direktur Institut untuk Bangunan Ramah Lingkungan Universitas Rutgers Jennifer Senic mengatakan, masalah pengembangan perkotaan didominasi tekanan ekonomi dan sosial serta tingginya peningkatan populasi. Kondisi diperberat dengan perubahan iklim sehingga menambah faktor risiko bencana alam. Perkotaan di negara berkembang paling rentan menderita kerugian akibat bencana alam. "Oleh karena itu, perlu ada rencana dan langkah pencegahan mulai dari sekarang," ujarnya.

Selain infrastruktur, hubungan antarwarga juga perlu dibangun. Di perkotaan, relasi antarwarga yang kian rapuh membuat daya ketahanan warga juga melemah.

Berbeda dengan hubungan antarwarga yang erat di rumah tapak, hunian vertikal membuat hubungan antarwarga kian sulit terbentuk. (IRE)

Sumber: Kompas | 1 Agustus 2016

Berikan komentar.