TRP
Persoalan lahan - Tuntut Kejelasan, Warga Bakar Fasilitas Perusahaan
01 Agustus 2016 \\ \\ 174

BANDA ACEH — Sedikitnya 800 warga dari Gampong Cot dan Kulee, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, Sabtu (30/7), merusak sejumlah fasilitas milik PT Samana Citra Agung. Warga emosi lantaran tidak dapat bertemu dengan pihak perusahaan untuk meminta kejelasan terkait dengan pembebasan lahan pembangunan pabrik semen.

Kepala Kepolisian Resor Pidie Ajun Komisaris Besar M Ali Khadafi, ketika dihubungi dari Banda Aceh, mengatakan, pada Sabtu sore, kondisi sudah kondusif. Warga telah meninggalkan lokasi perusahaan. Sejumlah polisi masih berjaga-jaga di lokasi kerusuhan.

Ali Khadafi mengatakan, sekitar 800 warga dari dua desa mendatangi kantor PT Samana Citra Agung (SCA) yang berlokasi di Gampong (desa) Cot pada pukul 08.30. Warga mendatangi perusahaan itu untuk meminta kejelasan terkait ganti rugi pembebasan lahan.

Setelah menunggu sekitar dua jam, pihak perusahaan belum bisa ditemui. Warga yang emosi membakar satu mobil bak terbuka, satu tangki yang berisi 16.000 ton solar, dan merusak pos penjagaan serta balai tempat istirahat.

"Mendapatkan informasi terjadi aksi anarkistis, kami langsung menurunkan anggota ke lokasi," kata Khadafi.

Khadafi menambahkan, aksi warga yang mengakibatkan rusaknya sejumlah fasilitas perusahaan merupakan tindakan melanggar hukum. Polisi akan mendalami kasus itu dengan memeriksa sejumlah warga yang terlibat.

Seorang warga Cot yang terlibat dalam unjuk rasa mengatakan, kedatangan warga hanya untuk meminta kejelasan terkait status lahan yang digunakan perusahaan. Warga menginginkan aktivitas perusahaan dihentikan sementara sampai adanya kejelasan status lahan.

Direktur PT SCA Yusri Musa, saat dihubungi, mengatakan, lahan yang tengah dibersihkan adalah milik perusahaan yang dibeli pada 1993. Saat ini lahan itu akan digunakan untuk lokasi pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia. PT SCA bertugas menyediakan lahan untuk pembangunan pabrik.

"Kami sudah membeli lahan itu puluhan tahun lalu. Puluhan tahun lahan itu tidak ada yang mempermasalahkan. Sekarang, saat pembangunan pabrik semen akan dimulai, mulai muncul kelompok-kelompok yang protes," kata Yusri.

Yusri menambahkan, perusahaan telah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan warga dan pemerintah membicarakan persoalan pembangunan pabrik semen. Saat itu tidak ada warga yang menyampaikan keberatan. Bahkan, pihak perusahaan telah membayar kompensasi kepada warga dua desa sebesar Rp 1,5 juta per keluarga.

"Saya melihat, aksi warga karena ada yang memprovokasi. Saya berharap aksi itu tidak mengganggu investasi," ujarnya. (ain)

Sumber: Kompas | 31 Juli 2016

Berikan komentar.