TRP
Tanah Bergerak-Pencarian Lahan Relokasi Tidak Mudah
29 Juli 2016 \\ \\ 163

BANDUNG — Pencarian lahan relokasi bagi warga terdampak pergerakan tanah di Desa Nagrakjaya dan Desa Cimenteng, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diyakini tidak mudah. Mayoritas kawasan di Sukabumi bagian selatan rawan pergerakan tanah.

"Kecuali daerah pantai, semua kawasan di Sukabumi memiliki potensi pergerakan tanah dengan kategori menengah-tinggi sehingga sangat rentan memicu pergerakan tanah. Pekerjaan besar bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi mencari lahan relokasi bagi warga terdampak," kata ahli bencana Surono di Bandung, Kamis (28/7).

Pergerakan tanah di Desa Nagrakjaya dan Desa Cimenteng terjadi sejak 11 hari lalu. Dipicu hujan deras, daerah bertanah gembur di kaki Gunung Sapu itu ambles sehingga memicu rekahan tanah hingga retakan di dinding rumah bata dan semen milik warga.

Surono mengatakan, berdasarkan pengalamannya bertahuntahun mendalami mitigasi bencana pergerakan tanah, sebagian besar wilayah Sukabumi selatan, termasuk Curugkembar, sangat rawan pergerakan tanah. Tidak hanya mengancam masyarakat di sekitarnya, mantan Kepala Badan Geologi itu juga mengatakan, kondisi itu kerap menghambat proses pencarian lahan relokasi bagi warga terdampak bencana.

Surono mengatakan, bukan tidak mungkin mencari lahan atau membuat bangunan di kawasan rawan pergerakan tanah. Namun, ia memastikan butuh teknologi mutakhir dan biaya besar untuk mewujudkannya.

"Harus diingat, cara mutakhir dan berbiaya besar itu bukan menangkal, melainkan meminimalkan dampak dan melambatkan kejadian bencana," katanya.

Ia mencontohkan langkah pembukaan lahan relokasi. Dengan kemiringan lahan lebih dari 30 derajat, Pemkab Sukabumi harus menerapkan sistem terasering khusus.

"Pola teraseringnya 1 dan 4. Tinggi terasering 1 meter dengan lebar 4 meter. Begitu seterusnya. Tujuannya meminimalkan kejenuhan air di dalam tanah," ujar Surono.

Kepala Pusat Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kasbani menyatakan akan mengirimkan lagi tim pemantauan gerakan tanah ke Desa Nagrakjaya dan Desa Cimenteng. Pemantauan itu adalah langkah lanjutan dari pemeriksaan gerakan tanah serupa yang sudah dilakukan sebelumnya sekitar seminggu lalu.

"Pemantauan kali ini untuk melihat dampak kerusakan yang lebih besar dari sebelumnya sekaligus mencari alternatif daerah yang bisa dijadikan tempat relokasi warga," kata Kasbani.

Suryadi (45), warga Nagrakjaya, berharap Pemkab Sukabumi segera mencari lahan relokasi. Buruh tani ini mengatakan, selama mengungsi di ruang kelas SD Nagrakjaya sejak 11 hari lalu, hidupnya tak pasti. Akibat banyak rekahan tanah di sawah sekitar desanya, ia tidak memiliki penghasilan. (CHE)

Sumber: Kompas | 29 Juli 2016

Berikan komentar.