TRP
Kawasan Tanah Bergerak Berbahaya
29 Juli 2016 \\ \\ 181

Warga Berharap Direlokasi ke Lokasi Aman

SUKABUMI — Wilayah permukiman terdampak pergerakan tanah di Desa Nagrakjaya dan Desa Cimenteng, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berbahaya jika tetap dihuni manusia. Warga berharap pemerintah menyediakan lahan relokasi yang aman bagi mereka.

"Dari hasil pengamatan yang kami lakukan, potensi pergerakan tanah terus berulang, terutama saat musim hujan. Jika terus dihuni, berbahaya di kemudian hari," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Andry Kusnadi, di Sukabumi, Rabu (27/7).

Pergerakan tanah di Nagrakjaya masih terjadi meski dalam skala yang lebih kecil ketimbang awal bencana sejak 10 hari lalu. Jika sebelumnya lebar rekahan tanah berkisar 5-10 sentimeter per hari, kemarin 3-5 sentimeter. Rekahan tanah dikhawatirkan membesar jika hujan deras.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sukabumi, warga terdampak 1.122 orang yang tinggal di 413 rumah. Sekitar 100 orang mengungsi di SD Nagrakjaya, sekitar 1 kilometer dari permukiman terdampak bencana. Sebagian besar tinggal di tetangga yang tak terdampak atau saudara di lain desa.

Pergerakan tanah di Desa Nagrakjaya dan Desa Cimenteng, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, terus terjadi hingga saat ini sejak 10 hari lalu. Kondisi ini diperkirakan akan terus terjadi jika hujan deras masih mengguyur kawasan itu (Kompas, 27/7).

Andry mengatakan, berdasarkan rekomendasi tim pemantau dari Badan Geologi, warga terdampak gerakan tanah sebaiknya direlokasi. Dengan kontur kawasan yang terjal, tanah gembur, dan curah hujan tinggi, gerakan tanah berpotensi terus terjadi.

Saep (60), warga Babakan Mindi, Nagrakjaya, berharap segera direlokasi ke tempat yang lebih aman. Saat ini hidupnya dirundung ketidakpastian karena setiap hari masih tinggal di pengungsian SD Nagrakjaya. Rumah Saep yang dibuat dari batu bata dengan fondasi semen sudah hampir runtuh.

Saep juga tidak bisa bekerja seperti biasa. Dia tidak bisa bekerja karena sawahnya seluas 1.000 meter persegi tidak bisa diolah setelah banyak muncul retakan sehingga tak mampu menampung air.

Nandang (45), warga Kampung Pasir Pongor, Nagrakjaya, memilih bertahan di rumah panggung meski rekahan tanah muncul di sekitarnya. Namun, jika pemerintah menyediakan lahan relokasi, ia pasti akan segera pindah.

Terus diwaspadai

Warga Desa Pucanganak, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, mewaspadai kondisi tanah bergerak di desa mereka. Sebagian warga yang rumahnya terdampak juga masih mengungsi ke rumah saudara terdekat saat hujan deras.

Kepala Desa Pucanganak Hadi Sumanto, Rabu, mengatakan, hingga saat ini, sirene peringatan dini yang ada di area tanah bergerak masih sering berbunyi. Sirene dipasang sebagai upaya mitigasi. "Hari ini pukul 11.00 sirene berbunyi lagi. Selama ini sirene sering berbunyi," ujarnya.

Menurut Hadi, terdapat 40 rumah warga di area terdampak. Kondisi sebagian rumah mengalami retakan kecil. Bahkan, dua rumah yang kondisinya mengkhawatirkan telah dirobohkan beberapa bulan lalu.

Delapan bulan terakhir, Pusat Kajian Mitigasi dan Inovasi Teknologi Kebencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melakukan penelitian di tempat itu. Hasil kajian menyatakan, ada beberapa penyebab terjadinya pergerakan tanah, salah satunya area itu merupakan tanah rombakan.

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak, saat dihubungi, mengatakan, solusi untuk menangani pergerakan tanah di Pucanganak adalah dengan relokasi rumah penduduk. Adapun upaya jangka pendek yang bisa dilakukan saat ini adalah merobohkan rumah-rumah yang kondisinya rusak parah. Selain itu, mengisi retakan tanah yang ada dengan tanah agar air hujan tidak masuk dan menambah parah retakan. (CHE/WER)

Sumber: Kompas | 28 Juli 2016

Berikan komentar.