TRP
Belajar Hidup di Tanah Bencana
29 Juli 2016 \\ \\ 234

Oleh karena keterbatasan ekonomi, warga terdampak pergerakan tanah di Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pun terpaksa tinggal di daerah bahaya. Di antara duka, mereka kembali belajar pentingnya mitigasi bencana.

Dak-duk, dak-duk. Suara ban mobil bergardan ganda itu menghantam batu kali tajam beradu keras saat melintasi jalan menanjak di Kampung Babakan Mindi, Desa Nagrakjaya, Kecamatan Curugkembar, Selasa (26/7) malam. Di bak belakang, Sarsih (45) dan 15 warga Babakan Mindi lain kembali menjalani rutinitas anyarnya. Sejak 10 hari lalu, ia mengungsi ke SD Nagrakjaya, berjarak sekitar 1 kilometer (km) dari rumahnya, setiap malam.

Pergerakan tanah membuat hidup Sarsih tak tenang. Dihajar hujan deras, tubuh tebing Gunung Sapu yang tepat berada di atas Desa Nagrakjaya retak dan lantas ambles. Imbasnya fatal. Kejadian itu memicu aliran air baru dan retakan tanah lain di sekitarnya. Sebanyak 413 rumah rusak dan 1.122 penghuninya mengungsi, termasuk Sarsih.

”Setiap malam pergi ke pengungsian karena rumah berbahan batu bata dan semen milik saya hampir roboh,” kata Sarsih.

Mendengar keluh kesah itu, Iyas Kusnadi (58), warga Babakan Mindi lain yang duduk di bak mobil yang sama, menenangkan kegalauan Sarsih. Iyas mengatakan, semuanya harus jadi pelajaran untuk bekal hidup di kemudian hari. ”Kejadian ini sudah diramalkan orangtua sejak dulu,” kata Iyas.

Iyas mengatakan, orang tua zaman dulu yakin salah satu sisi tebing Gunung Sapu akan ambruk. Aliran sungai baru yang menyelusup dalam retakan tanah dari hulu Gunung Sapu diyakini pemicunya.

Luas lahan yang ambruk mencapai 10 hektar, antara Sungai Cirameta dan Sungai Cipulus. Gunung sapu diyakini akan ”menyapu” atau meratakan cekungan di sekitarnya. ”Dulu saya bertanya kapan akan terjadi, tetapi orangtua bilang tidak tahu. Ternyata saat ini dan lokasinya sama persis seperti yang diramalkan,” kata Iyas.

Daerah rawan

Ramalan itu seperti warisan mitigasi bencana yang terlupakan di kaki Gunung Sapu. Beberapa kejadian pergerakan tanah sebelumnya di daerah yang sama tahun 1930, 2002, 2007, dan 2012 pernah dianggap kejadian biasa. Akan tetapi, kali ini berbeda. Lebar rekahan tanah 5-10 sentimeter (cm) per hari dengan panjang 1-3 meter, membuat sebagian warga ingin mencari hunian baru, tetapi terbentur masalah ekonomi.

Mahmud (40), warga Babakan Mindi lainnya, mengaku sudah lama ingin pindah. Namun, ia tak punya cukup uang untuk membeli tanah di daerah yang lebih landai dan aman. Sebagai perbandingan, harga tanah di sekitar di Curugkembar sekitar Rp 1 juta per 400 meter persegi.

Harga itu jauh lebih murah ketimbang di Sagaranten, daerah aman berjarak sekitar 10 km dari Curugkembar yang mencapai Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per 400 meter persegi. ”Kami tak punya pilihan. Dengan penghasilan terbatas, Curugkembar tempat paling pas,” katanya.

Selain itu, di Curugkembar, Mahmud tidak perlu membeli beras atau membayar air bersih. Tanah gembur Gunung Sapu memberi berkah. Banyak mata air keluar dari tebing tanah.

Namun, hidup di kawasan terpencil berjarak 170 km atau 7 jam perjalanan dari Kota Bandung, di antara jalan rusak dan jauh dari hiruk-pikuk persaingan usaha, ia harus merantau untuk mendapat rupiah.

”Meski banyak hal bisa didapat dari kebun dan sawah, saya tetap butuh uang untuk biaya sekolah anak hingga kesehatan. Tidak banyak pilihan pekerjaan selain bertani, saya merantau menjual kursi meja keliling sejak 10 tahun terakhir,” katanya.

Dipicu kemiskinan

Ali Bajang (40), rekan Mahmud saat merantau, mengatakan, ia sudah menjelajahi banyak kota besar di Jawa dalam 10 tahun terakhir. Ia juga merantau ke Bali, Palembang, dan Lampung demi penghasilan Rp 1 juta per bulan dari meja dan kursi yang dijajakan. Biasanya, ia dan rombongan menumpang bak terbuka, dari Sukabumi ke kota tujuan.

”Nyawa saya hampir hilang saat kepala ini ditodong pistol begal di kawasan Poncowati, Lampung. Namun, kalau tidak begitu, mana bisa saya mendapat penghasilan untuk keluarga,” kata Ali.

Akhir bulan ini, menurut Ali, ia sebenarnya berencana merantau lagi. Namun, rekahan tanah menghentikan niatnya. Ia memilih menggunakan modal yang sudah dikumpulkan menjadi buruh tani untuk biaya anak dan istrinya mengungsi di rumah tetangga lain desa.

Ahli bencana, yang juga mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengatakan, kemiskinan kerap menjadi pemicu utama masyarakat tinggal di kawasan bahaya. Kesuburan tanah dan air bersih didapat tanpa mengeluarkan banyak biaya.

Namun, pilihan itu rentan berujung nestapa. Sumber air bersih yang keluar dari tebing tanah mudah memicu longsor. Tanah subur di tebing terjal lebih dari 30 derajat mudah luruh, terutama saat musim hujan. Kondisi itu terjadi di Nagrakjaya di kaki Gunung Sapu.

Banyak pelajaran

Malam kian larut saat Iyas dan warga Babakan Mindi lainnya tiba di lokasi pengungsian SD Nagrakjaya, setengah jam kemudian. Ia mendekap erat baju hangat tipis yang melekat di tubuh tuanya. Tatapan matanya penuh harap melihat masa depan anaknya yang tunarungu.

Iyas mengatakan, belum punya bayangan akan masa depan keluarga setelah rumahnya hampir roboh dan sawah retak tak keruan. Sudah ada tawaran dari anak sulungnya yang merantau di Kota Sukabumi. Namun, ia akan bekerja apabila menerima tawaran itu.

”Saya sebenarnya ingin relokasi. Tidak mungkin tinggal di rumah rawan roboh dan tanah yang retak seperti ini. Saya pasrah pindah,” katanya.

Saepudin (60), warga Babakan Mindi juga, belajar banyak dari kejadian pergerakan tanah ini. Rumah lama model panggung berdinding kayu jauh lebih kuat ketimbang rumah dari batu bata.

Saat rumah dari batu bata senilai Rp 200 juta miliknya hampir roboh, rumah panggungnya senilai Rp 100 juta tangguh menjadi tempat berlindung delapan anggota keluarganya. Banyak rumah panggung di Curugkembar masih berdiri di atas rekahan. Oleh Cornelius Helmy

Sumber: Kompas | 28 Juli 2016

Berikan komentar.