TRP
Tanah Terus Bergerak
27 Juli 2016 \\ \\ 221

1.122 Warga Tinggalkan Rumah pada Malam hari

SUKABUMI — Pergerakan tanah di Desa Nagrakjaya dan Desa Cimenteng, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus terjadi hingga saat ini sejak 10 hari lalu. Kondisi ini diperkirakan akan terus terjadi jika hujan deras masih mengguyur kawasan itu.

Tanah mulai bergerak sejak 17 Juli. Hingga saat ini, terus bergerak dan merekah. Hal itu membuat rekahan tanah terus membesar sehingga memicu kerusakan di 413 rumah. "Sekarang kondisinya mulai stabil karena hujan tidak turun dalam dua hari terakhir. Kami akan terus memantau," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Andi Kusnadi, di Sukabumi, Selasa (26/7).

Kecamatan Curugkembar adalah salah satu kawasan rawan pergerakan tanah di Sukabumi. Daerah permukiman yang berjarak 160 kilometer dari Kota Bandung itu memiliki kemiringan tanah lebih dari 30 derajat. Daerah itu juga rawan gempa sehingga pergerakan tanah lebih mudah terjadi, terutama saat musim hujan.

Andi mengatakan, kejadian ini bukan yang pertama. Pergerakan tanah di kawasan itu terjadi pada 1930, 2002, 2007, dan 2012. Namun, hal itu tidak membuat warga mencari tempat tinggal baru dengan alasan tidak memiliki biaya dan tidak ingin meninggalkan sawah serta ladang tempat mereka bekerja.

Seperti kejadian sebelumnya, menurut Andy, pergerakan tanah kali ini bertipe rayapan. Dengan semakin banyaknya bangunan bertembok bata dan semen, pergerakan tanah merusak 413 rumah di Desa Nagrakjaya dan Cimenteng atau lebih banyak dan besar dari kejadian sebelumnya. Ukuran retakan pada bangunan dan tanah bervariasi. Panjang retakan 1-2 meter dengan lebar retakan 20-30 sentimeter.

Kondisi itu, menurut Andi, membuat 1.122 warga dari Desa Cimenteng dan Desa Nagrakjaya harus meninggalkan tempat tinggalnya, terutama saat malam hari. Warga untuk sementara ditempatkan di SD Babakan Mindi yang lebih aman karena dibangun di tanah lapang berjarak 500 meter dari permukiman yang terdampak pergerakan tanah.

Kepala Seksi Logistik BPBD Sukabumi Iwan Herniwan mengatakan, untuk 14 hari ke depan bantuan sandang dan pangan warga terdampak dipastikan aman.

Endang Rahmat (45), warga Babakan Mindi, Desa Nagrakjaya, menyebutkan, belum akan pindah meski rumahnya retak di ruangan tengah dan muka rumah hampir runtuh. Lantai keramiknya juga mulai lepas dari tanah akibat retakan tanah selebar 20 sentimeter.

Endang beralasan, rumahnya saat ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari sawah miliknya. Ia khawatir, jika meninggalkan rumah mengungsi ke kediaman rumah saudara di luar desa, sawahnya akan telantar. "Untuk sementara, saya tinggal di rumah panggung. Ternyata rumah panggung lebih kuat daripada rumah semen dan batu," katanya.

Pembersihan lumpur

Dari Pandeglang, Banten, dilaporkan, Jalan Raya Labuan yang sempat ditutup karena lapisan lumpur tebal dapat dilalui kendaraan dengan sistem buka tutup. Namun, hanya sepeda motor dan mobil pribadi yang bisa melintas, sedangkan truk masih dilarang melintas.

Kepala Kepolisian Resor Pandeglang Ajun Komisaris Besar Ary Satriyan mengatakan, sistem buka tutup diberlakukan sejak Selasa hingga Rabu ini. Truk belum boleh lewat karena Jembatan Cikalimati rawan rusak jika dilalui kendaraan berat.

Endapan lumpur tebal akibat longsor menyebabkan akses ke Jalan Raya Labuan tertutup, Senin (25/7). Dalam kejadian tersebut, empat orang tewas dalam sebuah mobil yang terjebak endapan lumpur. Mereka diduga tewas akibat keracunan gas dari penyejuk ruangan mobil (Kompas, 26/7). (che/bay)

Sumber: Kompas | 27 Juli 2016

Berikan komentar.