TRP
Banyak Kota di Dunia Dibangun Tanpa Perencanaan yang Baik
27 Juli 2016 \\ \\ 156

Urbanisasi Menjadi Fenomena

SURABAYA — Urbanisasi menjadi fenomena global yang tidak dapat dihindari oleh perkotaan. Kota-kota di dunia harus bergerak cepat untuk menyusun rencana pembangunan agar bisa menampung penduduk yang jumlahnya terus meningkat secara drastis.

Solusi untuk mengatasi urbanisasi itu, saat ini sedang dibahas dalam The Third Session of The Preparatory Committee for Habitat III atau Prepcom III yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, 25-27 Juli 2016. Habitat III adalah Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perumahan dan Pembangunan Berkelanjutan. Hasil Prepcom III akan disahkan dalam Konferensi Habitat III di Quito, Ekuador, pada Oktober mendatang.

Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka acara itu, Senin (25/7), beberapa kali menekankan pentingnya upaya mengatasi urbanisasi. "Larangan bagi penduduk untuk datang ke kota tidak lagi efektif, termasuk untuk Jakarta. Kota harus inklusif dan mampu mengakomodasi semua orang," kata Kalla.

Menurut Wapres, urbanisasi merupakan dilema bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Apabila sektor pertanian di pedesaan gagal, lapangan kerja akan terus berkurang dan banyak orang pindah ke kota.

Sebaliknya, jika pertanian maju melalui mekanisasi dan peran manusia tergantikan mesin, lapangan pekerjaan bagi warga juga tetap berkurang. Akibatnya, warga desa tetap mencari pekerjaan ke kota.

Sekitar 50 tahun lalu, 30 persen penduduk Indonesia tinggal di kota dan 70 persen penduduk tinggal di desa. Saat ini, jumlah penduduk di kota sudah mencapai 52,3 persen dari total penduduk. Dalam 30 tahun mendatang, penduduk yang tinggal di kota diperkirakan bertambah lagi menjadi 67 persen dari total penduduk. "Urbanisasi adalah kepastian. Untuk itu, urbanisasi harus menjadi sesuatu yang positif dan berguna bagi banyak orang," kata Wapres.

Fenomena Tiongkok

Selama ini, urbanisasi dianggap sebagai sesuatu yang negatif sehingga jumlah penduduk yang besar dianggap sebagai penghambat untuk memajukan sebuah negara. Wapres mengingatkan, Tiongkok adalah negara dengan penduduk yang banyak, tetapi negara itu tetap bisa maju.

Selain itu, kata Wapres, kota juga dituntut mampu menghadapi berbagai tantangan lainnya, seperti terorisme yang marak terjadi, bencana alam, dan berbagai permasalahan sosial, misalnya kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menghadapi berbagai tantangan itu, kerja sama yang baik antarnegara harus ditingkatkan. Prepcom III dan Konferensi Habitat III nantinya menjadi wujud nyata dari kerja sama global itu.

Dalam Prepcom III di Surabaya, jumlah peserta yang hadir sekitar 3.500 orang. Kemungkinan, jumlah peserta masih akan terus bertambah. Para delegasi yang hadir mewakili 116 negara anggota PBB.

Memburuk

Direktur Eksekutif UN-Habitat Joan Clos menyatakan bahwa kerja sama antarbangsa untuk membahas persoalan urbanisasi ini sangat penting. Alasannya, kondisi perencanaan kota di dunia selama 20 tahun terakhir mengalami penurunan kualitas.

"Sekitar 20 tahun lalu, 80 persen kota dibangun dengan perencanaan yang baik dan 20 persen tanpa perencanaan," kata Joan Clos. Namun, pada 2015, kondisi itu memburuk dengan 50 persen kota yang dibangun tanpa perencanaan yang baik. Kota-kota tumbuh secara spontan dan tidak mampu menghadapi berbagai masalah yang ada.

Untuk itu, Joan Clos berharap melalui Prepcom III dan Konferensi Habitat III di Ekuador muncul konsensus untuk menata ulang kota. Konferensi Habitat merupakan konferensi yang diadakan 20 tahun sekali.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menuturkan, langkah Indonesia sudah sejalan dengan agenda baru perkotaan yang dirumuskan PBB saat ini. Melalui Kementerian PUPR, Indonesia memiliki target 100-0-100 pada 2019, yaitu penyediaan 100 persen akses air minum, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen pengadaan sanitasi yang layak.

Agar tercapai tujuan itu, Basuki mengatakan, kualitas sebuah kawasan urban harus ditingkatkan. Contoh terbaru adalah kawasan Kenjeran, Surabaya. Di kawasan itu, Pemerintah Kota Surabaya membangun Jembatan Suroboyo yang bisa berfungsi sebagai tempat wisata. Sanitasi di perkampungan nelayan juga diperbaiki.

"Awalnya akan dibangun jalan tol, tetapi penduduk bisa tergusur. Maka, jalan tol tidak jadi dibangun dan diganti Jembatan Suroboyo. Ini implementasi yang bagus dalam menyikapi urbanisasi," kata Basuki. (DEN)

Sumber: Kompas | 26 Juli 2016

Berikan komentar.