TRP
Agenda Baru Perkotaan Akan Dirumuskan
25 Juli 2016 \\ \\ 222

SURABAYA — Pembahasan Sesi Ketiga Preparatory Committee for Habitat III atau PrepCom 3 yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada 25-27 Juli 2016, menjadi tahap krusial untuk merumuskan agenda baru perkotaan. Rumusan tersebut akan dibawa pada Konferensi Habitat III di Quito, Ekuador, Oktober mendatang.

Hal itu diungkapkan Joan Clos, Sekretaris Jenderal UN Habitat (The United Nations Human Settlements Programme) atau Program Permukiman Perserikatan Bangsa-Bangsa, saat upacara penaikan bendera Indonesia dan bendera PBB di depan Grand City Convex Surabaya, tempat utama PrepCom 3, Minggu (24/7). Upacara tersebut menandakan Pemerintah Indonesia menyerahkan kewenangan penyelenggaraan acara kepada PBB.

Dalam upacara itu, Joan Clos didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. PrepCom 3 merupakan acara yang digelar PBB, sedangkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Pemerintah Kota Surabaya sebagai tuan rumah.

"Agenda baru perkotaan (new urban agenda) amat berguna untuk kepentingan masa depan," kata Juan. Agenda baru perkotaan adalah pedoman atau alat bagi banyak negara untuk membangun hunian yang bisa menjawab tantangan ke depan.

Konferensi Habitat di Ekuador merupakan yang ketiga. Konferensi untuk membahas masalah hunian dan perkotaan tersebut berlangsung setiap 20 tahun sekali. Untuk menyiapkan konferensi itu, PBB menggelar tiga kali PrepCom.

PrepCom 1 berlangsung di New York, Amerika Serikat, pada 2014 dan PrepCom 2 berlangsung di Nairobi, Kenya, pada 2015. New York dan Nairobi adalah markas PBB, maka Surabaya menjadi kota di luar markas PBB yang pernah menjadi tuan rumah.

Persiapan terakhir

Basuki menjelaskan, PrepCom 3 di Surabaya merupakan persiapan terakhir dan nantinya muncul hasil yang disepakati serta dibawa ke Ekuador. "PrepCom 1 dan 2 sudah membawa hasil. Namun, masih banyak hal terkait isu-isu kota yang perlu dibahas di Surabaya," ujarnya.

Pertemuan itu, lanjut Basuki, sangat penting diikuti Indonesia karena banyak negara berkembang dan negara maju yang hadir. Proses bertukar informasi dan pengalaman bisa memperkaya setiap negara. PrepCom 3 dihadiri sekitar 4.000 peserta dari 137 negara.

Peran Indonesia dalam forum ini juga penting karena akan menyuarakan kepentingan negara-negara kepulauan. "Tantangan saat ini adalah pemanasan global. Hunian di negara kepulauan bisa tenggelam karena air pasang. Solusinya harus dicari," ujarnya.

Selain itu, Indonesia akan mendapat banyak masukan tentang solusi mengatasi permukiman kumuh. Apalagi, pemerintah Indonesia menargetkan menghilangkan semua kawasan kumuh.

Menikmati Surabaya

Para peserta PrepCom 3 yang sudah hadir di Surabaya, Minggu kemarin, berkesempatan menikmati Kota Surabaya. Panitia PrepCom 3 mengajak para peserta untuk mengunjungi sejumlah kampung di Surabaya yang sudah tertata baik, menikmati festival layang-layang internasional, dan menyaksikan air mancur menari di Jembatan Suroboyo.

Salah satu peserta dari Inggris, Petronella, mengaku sangat menikmati pemandangan dari Jembatan Suroboyo yang baru diresmikan 19 Juli lalu. "Selebihnya saya sangat tersentuh dengan keramahan Surabaya," ujarnya.

Pemerintah Kota Surabaya sebagai tuan rumah melaksanakan sejumlah pembenahan untuk menyambut para tamu itu. Sejumlah kawasan utama dibersihkan dan bangunan sekitarnya dicat serta sungai-sungai dibersihkan dan dihiasi lampion. (DEN)

Sumber: Kompas | 25 Juli 2016

Berikan komentar.