TRP
Penataan Kota-Semua Dimulai dari Membangun Kampung
25 Juli 2016 \\ \\ 171

Di balik deretan gedung perkantoran, mal, dan hotel di Kota Surabaya, Jawa Timur, tersembunyi kampung-kampung hijau nan asri. Di sanalah warga Surabaya berinisiatif untuk bergotong royong membangun sebuah lingkungan yang sehat. Sebuah model hunian modern dengan teknologi sederhana.

Salah satu kampung hijau itu adalah Kampung Bratang Binangun yang terletak di Kelurahan Barata Jaya, Kecamatan Gubeng. Kampung itu disebut kampung hijau karena jika dipandang, kampung itu benar-benar hijau berkat pohon ataupun tanaman dalam pot yang memenuhi halaman depan rumah warga.

Kampung itu juga dikatakan hijau untuk pengertian ramah lingkungan karena sudah menerapkan teknologi pengolahan air limbah. Warga memiliki alat yang memungkinkan mereka membersihkan air dari selokan dan digunakan kembali untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan.

Alat itu berupa tiga pipa paralon yang dipasang vertikal dan berjajar. Di setiap pipa berisi komponen seperti pasir, batu kerikil, dan batu apung untuk menyaring kotoran yang terkandung dalam air.

"Sebelum masuk ke pipa ini, air disaring dalam bak di bawah tanah. Air yang sudah bersih bisa dipakai 10 keluarga," kata salah seorang warga yang menjadi fasilitator lingkungan, Sumarmi Slamet.

Pekan lalu, warga Kampung Bratang Binangun memamerkan kampung mereka kepada sejumlah wartawan dan pejabat Pemerintah Kota Surabaya dengan Sumarmi sebagai pemandu. Kegiatan itu menjadi semacam geladi resik bagi warga kampung karena mereka akan dikunjungi para peserta The Third Session of The Preparatory Committee for Habitat III(PrepCom 3), sebuah acara yang diselenggarakan PBB pada 25-27 Juli 2016, untuk membahas masalah hunian dan perkotaan.

Bank sampah

Kepada para tamu mereka nantinya, Sumarmi juga akan menjelaskan keberadaan bank sampah di kampung itu. Setiap bulan, bank sampah itu mengumpulkan uang hingga Rp 300.000. Uang yang terkumpul selanjutnya dibagikan kepada warga yang menjadi nasabah atau pengumpul sampah pada waktu-waktu tertentu, seperti saat menjelang Lebaran.

Selain dikumpulkan ke bank sampah, warga kampung itu juga mengumpulkan sampah untuk dijadikan bahan kerajinan tangan. Dengan bermodal gelas minuman plastik bekas, mereka mampu membuat keranjang gelas atau tas yang dijual Rp 70.000 per buah.

Salah satu dari 10 perempuan yang bekerja membuat kerajinan dari sampah itu, Lilik Ichwantono (58), bercerita, ia menjual barang kerajinan tangan itu melalui pameran-pameran yang diadakan Pemkot Surabaya dan mendapat Rp 500.000 dari setiap pameran. "Setiap bulan pasti ada satu atau dua pameran," katanya.

Kepala Subdirektorat Perencanaan Teknis Direktorat Bina Penataan Bangunan Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Diana Kusumastuti mengatakan, kampung- kampung di Surabaya jadi daya tarik utama dalam PrepCom 3.

"Kampung-kampung di Surabaya menjadi contoh bahwa Indonesia sudah mampu mengelola hunian dengan baik dan ini contohnya," ujar Diana.

Pemkot Surabaya setidaknya telah menyiapkan 14 kampung yang bisa dikunjungi peserta PrepCom 3 yang berasal dari 193 negara dan berjumlah lebih dari 4.000 orang. Selain Kampung Bratang Binangun, kampung lainnya yang siap dikunjungi antara lain Kampung Lawas Maspati yang merupakan kampung wisata, Kampung Nelayan yang mewakili hunian warga pesisir, dan Kampung Jambangan yang merupakan kampung wisata lingkungan.

Partisipasi warga

Menjelang penyelenggaraan PrepCom 3, Pemkot Surabaya juga mendapat dua penghargaan bergengsi di bidang lingkungan, yaitu juara pertama Nirwasita Tantra Award untuk tingkat kota dan Adipura Paripurna untuk kategori kota metropolitan.

Penghargaan Adipura ini merupakan yang ketujuh yang didapat Surabaya secara berturut- turut. Wali Kota Tri Rismaharini menerima dua penghargaan itu di Siak, Provinsi Riau, Jumat (22/7).

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Joni Hermana mengatakan, kunci kesuksesan Surabaya dalam menata kota karena partisipasi masyarakat yang tinggi. "Jika kampung kuat, kota akan kuat," katanya.

Partisipasi warga ini muncul, kata Joni, juga berkat dorongan yang kuat dari Risma sebagai kepala daerah. Risma tidak segan turun ke setiap kampung untuk memotivasi warga membangun kampung mereka. Selain itu, Pemkot Surabaya juga rutin menyelenggarakan lomba kebersihan lingkungan.

Terkait partisipasi warga ini, Citynet, sebuah jaringan kerja sama pemerintah daerah se-Asia Pasifik yang dibentuk PBB, memilih Surabaya sebagai kota terbaik se-Asia Pasifik pada 2012 dalam kategori partisipasi terbaik. Warga dan Pemkot Surabaya dinilai proaktif menghidupkan aktivitas publik dan perekonomian kota (Kompas, 12 Juli 2012).

Bentuk partisipasi warga itu antara lain terlihat dari geliat warga Kampung Lawas Maspati yang berjuang menjadikan kampung mereka sebagai kampung wisata. Kampung Lawas Maspati itu pun diresmikan menjadi kampung wisata oleh Pemkot Surabaya pada Januari 2016.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji menilai, semangat warga dalam membangun kampung juga terbawa dalam konteks yang lebih luas, yaitu menjaga lingkungan kota pada umumnya. Warga merasa memiliki ruang-ruang publik dan ikut menjaga kebersihan. Oleh Herpin Dewanto Putro

Sumber: Kompas | 23 Juli 2016

Berikan komentar.