TRP
KEK-Pembangunan Mandalika Tersendat
20 Juni 2016 \\ \\ 269

PRAYA — Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tersendat lebih dari 30 tahun akibat minimnya pembiayaan dan investasi. Dari 1.175 hektar lahan yang telah dibebaskan negara sejak 1984, pembangunannya baru berkisar 10 persen dari target.

Hingga kini, sebagian besar kegiatan masih berupa perencanaan detail desain pembangunan jalan, perhotelan dan arena konvensi, instalasi pengolahan limbah dan air bersih, serta kelistrikan. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN di sektor pengembangan pariwisata, juga masih membebaskan 135 hektar lahan yang kondisinya masih berupa permukiman warga.

Direktur PT ITDC Edwin Darmasetiawan mengatakan, kebutuhan dana untuk pembangunan infrastruktur dalam kawasan Mandalika mencapai Rp 3,3 triliun. Namun, baru Rp 250 miliar yang telah mengucur. Dana itu untuk membangun jalan penghubung antarlokasi dalam kawasan, sepanjang 4 kilometer, yang proyeknya baru dapat dimulai Juli mendatang. "Selebihnya belum ada kejelasan kapan akan cair," ujar Edwin, di Lombok Tengah, Jumat (17/6).

Begitu pula untuk pembangunan hotel bintang lima di kawasan Mandalika, katanya, baru dapat efektif berjalan pada kuartal terakhir tahun ini.

Sejumlah investor yang semula telah menyatakan minat membangun hotel dan pusat hiburan juga batal. Sejumlah kesepahaman untuk membangun kawasan itu tidak mencapai kesepahaman. Sebagai contoh, penerapan dana deposit sebesar Rp 2 miliar tidak dapat dipenuhi investor. Rencana pembangunan, seperti sirkuit F1, Disneyland, dan taman bawah air, tidak berjalan.

Meskipun demikian, Edwin optimistis seluruh proyek pembangunan tersebut akan berjalan efektif dalam 2-3 tahun ke depan. Targetnya, pada 2018 sudah akan tersedia 5.000 kamar hotel yang dapat menampung untuk berbagai ajang berskala internasional.

KEK Mandalika digagas dengan konsep pengembangan pariwisata ramah lingkungan. Bangunan didesain dengan memperhatikan keberlanjutan. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, kata Wakil Direktur Program ITDC Indah Juanita, akan digunakan air laut yang disuling. Sementara untuk kebutuhan listrik, memanfaatkan energi surya.

Kepala Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Badarudin berharap pembangunan kawasan Mandalika segera terealisasi sebab warga sudah menunggu berpuluh tahun. Warga telah menjual sawah dan ladang yang menjadi sumber mata pencarian utama mereka setelah anak-anak mereka dijanjikan akan direkrut sebagai tenaga kerja di kawasan Mandalika.

"Terciptanya lapangan pekerjaan baru dan harapan meningkatnya kesejahteraan atau taraf hidup itulah yang diimpikan warga. Mereka berharap pemerintah dan pengelola Mandalika tidak lagi memberikan janji, tetapi benar diwujudkan," ujarnya. (RUL/NIK/ITA)

Sumber: Kompas | 18 Juni 2016

Berikan komentar.