TRP
Batas Wilayah Sangkulirang-Mangkalihat Tidak Jelas
20 Juni 2016 \\ \\ 341

JAKARTA — Hingga saat ini belum tercapai kesepakatan mengenai luas dan batas kawasan lindung karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Situasi ini mengakibatkan kebingungan dan kesalahan dalam pemanfaatan ruang di tingkat kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat.

Total luas kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, yang membentang di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, mencapai 1.867.676 hektar. Namun, setiap lembaga di tingkat pemerintahan kabupaten, provinsi, hingga pusat ternyata memiliki catatan yang berbeda-beda.

"Setelah membandingkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rencana tata ruang wilayah (RTRW) provinsi, serta RTRW Kabupaten Berau dan Kutai Timur, kami mendapati masing-masing memiliki catatan yang berbeda-beda," kata Ketua Forum Peduli Karst Kutai Timur (FPKKT) Irwan, Rabu (15/6), saat dihubungi dari Jakarta.

Luas kawasan karst di dalam RTRW Kabupaten Kutai Timur tercatat 149.225,47 hektar, sedangkan luas kawasan karst di dalam RTRW Provinsi Kalimantan Timur (meliputi Kutai Timur dan Berau) mencapai 307.336,78 hektar. Data yang berbeda juga ditemui pada hasil delineasi Badan Geologi ESDM yang mencatat luas kawasan karst di Kutai Timur dan Berau mencapai 392.700,49 hektar.

"Kami berharap segera ditetapkan batas kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang bisa diacu semua pihak. Jika dibiarkan, perbedaan data mengakibatkan kebingungan dan kesalahan dalam pemanfaatan ruang," tutur Irwan.

Warisan dunia

Pada 2014 dan 2016, Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur melakukan penentuan batas atau delineasi kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya pengajuan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai warisan dunia kepada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Penentuan kawasan itu semakin mendesak dilakukan tidak hanya untuk melindungi karst, tetapi juga untuk melestarikan 2.300-an gambar cadas kuno yang tersebar di 40 situs di Sangkulirang-Mangkalihat. Dosen Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung, Pindi Setiawan, mengatakan, dalam kawasan lindung, perlu dibuat zona inti yang ditetapkan sebagai kawasan warisan dunia dengan peninggalan situs-situs bersejarah di dalamnya. Di kawasan lindung tersebut pula, dibuat zona perlindungan yang mengelilingi zona inti. Zona perlindungan berupa taman bumi (geopark) dan cagar biosfer.

Pindi yang selama puluhan tahun meneliti gambar cadas kuno di Sangkulirang-Mangkalihat mengajak pemuda-pemuda lokal untuk membentuk Forum Pencinta Alam Sangatta sejak 2012. Mulai saat itu, kunjungan warga setempat ke kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat semakin meningkat.

Pada Maret 2016, beberapa pencinta alam membentuk FPKKT. "Jumlah pengurusnya memang hanya 35 orang, tetapi anggota yang bergabung lewat jejaring sosial mencapai 576 orang," ujar Irwan.

Menurut dia, FPKKT tidak khusus melakukan perekrutan anggota. Mereka hanya menyebarluaskan pentingnya perlindungan karst dan gambar cadas kuno. Siapa pun yang terpanggil untuk ikut menjaga karst dan gambar cadas kuno dapat menjadi anggota. (ABK)

Sumber: Kompas | 16 Juni 2016

Berikan komentar.