TRP
Lahan Tuntas Tahun Ini
15 Juni 2016 \\ \\ 200

MBT Mustikabumi 1 Telah Sampai di Stasiun Dukuh Atas

JAKARTA — Proyek transportasi massal cepat (MRT) koridor selatan-utara terus berjalan sesuai jadwal. Namun, pembangunan jalur layang di Cilandak, Jakarta Selatan, terkendala pembebasan lahan. Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembebasan lahan untuk lokasi tiang pancang MRT tuntas tahun ini.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati, Selasa (14/6), menjelaskan, dalam rapat pimpinan yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Senin (13/6), terungkap ada masalah dalam pembangunan jalur MRT. Permasalahannya adalah pembebasan lahan di enam titik di Jalan Batan, di wilayah Cilandak.

”Pembebasan terkendala masalah legal, khususnya kepemilikan. Luasnya kecil-kecil, berkisar 40-60 meter persegi, dan letaknya terpisah-pisah,” ujar Tuty.

Sesuai rencana, lahan yang bermasalah tersebut akan menjadi lokasi letak tiang pancang trek melayang MRT. Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, Wali Kota Jakarta Selatan diberi waktu sepekan untuk dapat menuntaskan masalah pembebasan lahan tersebut. Djarot mengimbau warga harus mau pindah karena lokasi itu akan dipakai untuk kepentingan umum.

Secara terpisah, hingga kemarin, pekerjaan pembangunan MRT Jakarta terus mencapai kemajuan. Mesin bor terowongan (MBT) ketiga proyek MRT Jakarta yang diberi nama Mustikabumi I telah sampai di Stasiun Dukuh Atas, Jalan Tanjung Karang, Jakarta Pusat.

Mesin bor itu sudah dioperasikan sejak 24 Februari 2016 dari Stasiun Bundaran HI. Kemarin, Mustikabumi 1 dihentikan pada jarak sekitar 10 sentimeter sebelum bulk head, baja bundar penutup dan penahan ujung terowongan sisi utara Stasiun Dukuh Atas. Hal ini memberi ruang untuk dilakukannya proses injeksi polimer di seputar sisi dinding terowongan ujung guna menghentikan rembesan air.

”Proses injeksi polimer ini makan waktu sekitar tiga hari. Selanjutnya, bulk head dinyatakan aman dilepas. Dijadwalkan 20 Juni ini, Mustikabumi tembus ke Stasiun Dukuh Atas,” kata Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah.

Total panjang terowongan yang terbentuk oleh Mustikabumi I dari Bundaran HI-Dukuh Atas 682,5 meter. Sementara Mustikabumi II, yang mulai beroperasi dari lokasi yang sama sejak April 2016, pada 14 Juni 2016 telah membuat terowongan sepanjang 193,5 meter.

”Dari Stasiun Dukuh Atas, akan dilanjutkan hingga berakhir di Stasiun Setiabudi melewati bawah Kanal Barat,” ujar Hikmat.

Selain dua mesin bor tersebut, dua mesin bor lainnya, yaitu dua mesin bor lainnya yaitu Antareja dan Antareja II juga beroperasi, juga beroperasi, tetapi dari arah Bundaran Senayan menuju arah utara. Dijadwalkan keempat mesin bor, yakni Antareja 1, Antareja 2, Mustikabumi 1, dan Mustikabumi 2 akan bertemu di Stasiun Setiabudi pada Desember 2016.

Hikmat menambahkan, pertemuan keempat mesin bor akan menandai selesainya pembuatan terowongan. PT MRT memastikan semua pekerjaan berjalan sesuai target dan akan selesai pada akhir 2018. Operasional MRT dijadwalkan awal 2019.

ERP jajaki pasar

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Sistem Jalan Berbayar Elektronik, Senin, mulai menjajaki pasar untuk pengadaan dan pembangunan infrastruktur jalan berbayar elektronik (ERP). Tawaran ditujukan ke badan usaha yang mampu dan berpengalaman membangun sistem lalu lintas jalan berbayar elektronik.

Selain membangun perangkat ERP di ruas Blok M-Jakarta Kota dan Kuningan-HOS Cokroaminoto, badan usaha diminta mendampingi operasional dan memelihara sistem. Unit pengelola menunggu surat pernyataan minat yang ditandatangani oleh direktur utama melalui surat elektronik ke erp@jakarta.go.id paling lambat 24 Juni 2016.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, Andri Yansyah menyatakan, setelah menerima kewenangan dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah DKI Jakarta, ia berharap bisa segera mewujudkan dan mengoperasikan ERP.

Selain mengendalikan volume kendaraan, ERP akan menjadi sumber pemasukan keuangan DKI Jakarta, khususnya untuk pengembangan infrastruktur angkutan umum massal. (HLN/MKN/NEL)

Sumber: Kompas | 15 Juni 2016

Berikan komentar.