TRP
Dari Peta Gempa, Penataan Ruang di Luar Jawa Lebih Mudah
06 Juni 2016 \\ \\ 228

JAKARTA - Pembaruan peta gempa sangat penting mengingat pada peta 2010 ada sumber-sumber gempa yang belum terlacak dan baru ditemukan sekarang.

Tidak hanya di Pulau Jawa, penggalian sumber-sumber gempa baru juga dilakukan di luar Jawa, misalnya di Sulawesi dan Papua.

"Kan kalau bangun kota ada tata ruangnya. Kita berikan peta yang mungkin berpotensi mengalami kebencanaan baru," ujar Kepala Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) Arie S Moerwanto kepada Kompas.com, Senin (30/5/2016).

Ia mengatakan, peta ini memudahkan pembuatan tata ruang. Di luar Jawa, penataan tata ruang akan lebih mudah dibandingkan di Jawa karena pembangunannya belum begitu masif.

Arie mencontohkan, pemerintah daerah masih bisa mencari area yang lebih aman dari gempa untuk industri.

Untuk daerah-daerah yang telah terbukti rawan, pemerintah daerah juga masih bisa mengalihkan pembangunan infrastruktur atau bangunan tinggi.

Berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa, sebagian besar sudah dipenuhi dengan infrastruktur dan bangunan. Penduduknya juga lebih padat.

Dengan demikian, saat ada sumber gempa baru, pemerintah harus segera memikirkan alternatif supaya risiko bencana tidak menimbulkan banyak korban atau destruktif.

Salah satu sesar baru yang sebelumnya tidak terindikasi di Pulau Jawa adalah mulai dari Nusa Tenggara Barat, Surabaya, Semarang, dan Jawa Barat.

Sesar Kendeng ini, diprediksi berpotensi menimbulkan gempa dengan skala 6,5-7,5 SR. Sebagai perbandingan, pada 2010, Yogyakarta diguncang gempa dengan kekuatan 5,9 SR yang meluluhlantakkan bangunan dan menewaskan ribuan jiwa. (Arimbi Ramadhiani)

Sumber: Kompas Online | 31 Mei 2016

Berikan komentar.