TRP
BTN Dorong Bank Tanah
16 Mei 2016 \\ \\ 224

JAKARTA — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mendorong penyediaan bank tanah guna mempercepat pemenuhan program sejuta rumah bagi masyarakat menengah bawah. Tahun ini, BTN berkomitmen mendorong pembiayaan program sejuta rumah itu.

Direktur Utama BTN Maryono, di Jakarta, Minggu (15/5), mengemukakan, bank tanah diperlukan tidak sebatas untuk infrastruktur jalan, tetapi juga untuk pembangunan perumahan rakyat. Tingginya permintaan rumah segmen menengah ke bawah juga harus diimbangi dengan adanya lahan yang memadai.

Pihaknya mengusulkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat agar bank tanah untuk permukiman juga diadakan.

Tahun 2016, BTN menargetkan penyaluran kredit pada program sejuta rumah sebanyak 570.000 unit. Hingga triwulan I-2016, realisasi pembiayaan untuk program sejuta rumah sebesar Rp 7,6 triliun untuk 58.712 unit, meliputi rumah subsidi 44.449 unit dan rumah nonsubsidi 14.263 unit.

Di beberapa daerah, lanjut Maryono, permintaan rumah masih sangat tinggi. Pembangunan infrastruktur juga memicu pertumbuhan ekonomi di sekitar lokasi yang dikembangkan. Ini berdampak pada peningkatan permintaan rumah. Ia mencontohkan, banyak permintaan rumah di sepanjang pinggir Jalan Tol Cikampek-Palimanan, antara lain di Batang dan Semarang (Jawa Tengah) dan Cirebon (Jawa Barat). "Di Batang ada permintaan 3.000 rumah baru, sekarang telah teralisasi sekitar 1.200 unit. Sementara di wilayah Cirebon ada permintaan 6.000 rumah baru," ujar Maryono.

Pakar pertanahan dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Bernhard Limbong, menilai, pembangunan infrastruktur yang digenjot pemerintah harus diimbangi pengadaan lahan yang mudah sehingga target pembangunan infrastruktur terwujud. Bank tanah bisa jadi alternatif penyediaan lahan yang efektif dan efisien.

Bank tanah memiliki sejumlah fungsi, antara lain menghimpun tanah sesuai tata guna dan rencana tata ruang, menekan mafia tanah, serta mengelola tanah berdasarkan pemanfaatan.

Menurut Bernhard, konsep bank tanah senada dengan bank konvensional yang menghimpun dana masyarakat berupa giro, deposito, tabungan, dan simpanan untuk dikembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan dana melalui penawaran produk jasa keuangan. Bank tanah menghimpun tanah masyarakat, terutama yang ditelantarkan dan tanah negara yang belum digunakan. Tanah itu dikembangkan dan didistribusikan kembali sesuai rencana penggunaan tanah dan disewakan kepada masyarakat agar lebih produktif.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengemukakan, tren penurunan suku bunga kredit perbankan belum menggeliatkan sektor properti karena beberapa bank masih menerapkan suku bunga tinggi. BTN sebagai bank perumahan juga dinilai masih menerapkan suku bunga kredit komersial yang relatif tinggi, yakni 10,5 persen. Di Thailand, bank perumahan bisa menerapkan suku bunga kredit hingga nol persen. (LKT)

Sumber: Kompas | 16 Mei 2016

Berikan komentar.