TRP
Simalakama Pesatnya Pembangunan Jakarta
16 Mei 2016 \\ \\ 243

Pembangunan masif di sepanjang Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, membawa ekses negatif kepada warga di sekitarnya. Dampak menggeliatnya properti di kawasan itu kian terasa mengganggu dalam beberapa tahun terakhir.

Pantauan Kompas, Senin (9/5), kondisi Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, dipenuhi bangunan-bangunan tinggi baik di sisi kiri maupun kanan jalan. Apartemen, gedung perkantoran, ataupun pusat perbelanjaan berselang-seling memenuhi jalan yang dipisahkan jalan tol di sisi tengahnya itu.

Beberapa gedung masih dalam proses pembangunan. Sejumlah pekerja sibuk memikul bahan bangunan dan juga mengoperasikan alat berat. Debu dan pasir terlihat bertebaran hingga ke jalan raya di depannya. Di belakang gedung-gedung itu terdapat permukiman warga. Di hampir setiap akses masuk permukiman terdapat warung serta pangkalan ojek. Tak jarang, karyawan perkantoran ataupun warga sekitar mengunjungi warung untuk membeli minuman atau kudapan.

Pesatnya pembangunan Jalan TB Simatupang mulai terasa sejak 2008. "Dahulu di sepanjang jalan itu rawa ataupun tanah kosong," ungkap Krisna (32), pemilik warung di Jalan Cilandak Tengah Raya.

Krisna merasakan sejumlah perubahan dari pesatnya pembangunan itu. Salah satunya adalah kemacetan. Saat ini, kemacetan panjang semakin lumrah terjadi, khususnya pukul 06.00-10.30 dan 17.30-21.00. "Hari libur pun tetap saja macet," ucap pria yang telah 16 tahun tinggal di daerah itu.

Pepohonan pun semakin sulit ditemui di kawasan itu. Udara makin terasa panas. Krisna mengatakan, pertumbuhan kawasan Jalan TB Simatupang membuat air tanah yang biasa digunakan menjadi lebih sulit keluar dan kualitasnya menurun. "Dahulu airnya bisa diminum, sekarang tidak berani lagi. Airnya seperti berbau logam," ujarnya.

Namun, ia merasa ada dampak positif dari pesatnya pembangunan kawasan itu. "Warung saya semakin ramai pengunjung, terutama saat jam istirahat dan pulang kantor," ungkap Krisna.

Pesatnya pertumbuhan Jalan TB Simatupang membuat Jamal (40) menjadi kurang nyaman tinggal di rumahnya yang terletak di RW 001 Cilandak. "Daerah rumah menjadi berisik, terutama suara klakson dan alat berat," kata Jamal di rumahnya yang terletak 20 meter dari jalan raya.

Ia tidak menyangka kawasan yang dihuninya selama sepuluh tahun itu berubah sedemikian drastis. "Dahulu agak sepi dan banyak rawa, sekarang menjulang bangunan tinggi," ucapnya.

Rumahnya kini terbiasa berlapis debu. Selain itu, lalu lintas di depan rumahnya juga hampir tiap malam macet. "Jalan rumah saya jadi jalur alternatif pengendara yang menghindari macet Jalan TB Simatupang," ungkapnya.

Jamal mengatakan, tidak pernah ada pihak pemerintah yang datang menyosialisasikan pertumbuhan kawasan tempat tinggalnya. "Kami hanya pasrah kalau memang gedung-gedung itu diberi izin berdiri," katanya.

Pengelolaan bijak

Menjamurnya gedung tinggi di Jakarta berarti turut memutar roda perekonomian. Untuk membangun satu gedung saja ratusan miliar bisa mengucur, menggerakkan para pekerja mulai dari buruh kasar hingga tenaga ahli. Saat gedung siap difungsikan, penyerapan tenaga kerja pun tidak main-main. Mulai dari tenaga kebersihan hingga karyawan berbagai level keahlian diserap. Hal itu diyakini turut mendongkrak naiknya konsumsi, seperti banyaknya usaha warung makan, usaha ritel, hingga perumahan dan kendaraan untuk mobilitas.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta menyebutkan jumlah angkatan kerja pada Februari 2016, misalnya, tercatat 5,31 juta orang. Indeks Tendensi Konsumen di DKI Jakarta pada triwulan I-2016 sebesar 105,20 yang artinya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan I-2016 secara umum dikatakan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Perekonomian Jakarta triwulan I-2016 yang diukur berdasarkan produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp 518,96 triliun, sementara menurut harga konstan mencapai Rp 371,81 triliun.

Namun, di tengah optimisme di bidang ekonomi, kota ini tumbuh tanpa penataan memadai dalam hal mengelola transportasi publik, pemanfaatan lahan, dan menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan kelestarian lingkungan.

Selain macet, Jakarta masih menghadapi masalah ketersediaan air bersih masif, juga sampah serta kurangnya ruang terbuka hijau. Gap kesenjangan sosial pun dikhawatirkan makin lebar. Kontrol dan ketegasan pemerintah daerah pun diuji untuk bisa mengelola kota ini lebih arif. (C08/NEL)

Sumber: Kompas | 16 Mei 2016

Berikan komentar.