TRP
Restorasi Lahan-Berkaca dari Kesuksesan Gambut Kushiro
10 Mei 2016 \\ \\ 343

Pembukaan kanal-kanal untuk mengeringkan gambut pernah diterapkan di hamparan gambut di Kushiro, Pulau Hokkaido, Jepang, pada 1970-an. Seperti di Indonesia, kanal-kanal lebar dibuka demi memperluas areal pertanian dan perkebunan. Namun, akhirnya disadari, kanal itu justru mematikan sungai alami dan mengubah hidrologi serta biodiversitas flora dan fauna gambut.

Akhir April lalu, setelah disambut angin kencang dengan butiran salju di Bandara Kushiro, rombongan Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead bergegas menuju lokasi gambut Kushiro. Sempat singgah di Pusat Informasi Onnenai di Taman Nasional Kushiro Shitsugen dan Museum Eko di Danau Toro, rombongan diantar ke Distrik Kayanuma.

Di sana, Kazuyoshi Watanabe dan rekannya dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi, menunggu. Di tengah temperatur 2 derajat celsius dengan tiupan angin, mereka berbagi info singkat perjalanan restorasi gambut. Distrik Kayanuma-dengan Danau Toro-merupakan bagian dari lima percontohan restorasi gambut di TN Kushiro Shitsugen.

Direktur Institute of Northern Environment Universitas Hokkaido Kanda Fusayuki mengatakan, rawa gambut di sekitar Sungai Kushiro pernah kering akibat kanal dalam dan lebar sepanjang 2 km. Pengeringan disengaja dengan dalih kebutuhan lahan pertanian, peternakan sapi, dan permukiman.

Di sekitar kanal, sistem hidrologi kacau dan cenderung kering. Itu membuat tutupan vegetasi alang-alang dan vegetasi asli lokal merosot, digantikan tanaman alder yang hidup di tanah kering. Hasil kajian, tutupan alang-alang itu turun hingga 60 persen sejak 1977 atau sejak dimulai pembangunan kanal.

Dampak ikutannya, berbagai fauna seperti burung, bangau, dan rusa kian sulit ditemui. Sedimentasi yang ditimbulkan kian berkontribusi terhadap pendangkalan Danau Toro hingga seluruh ekosistem lahan basah setempat. Sedimentasi Sungai Kushiro menyumbang 42 persen sedimen di ekosistem setempat atau 5.590 meter kubik per tahun. Itu mengancam kawasan setempat sebagai destinasi wisata pemandian air panas dan perkemahan.

Sejarah eksploitasi

Dalam laporan singkat The Kushiro Initiative yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang (2003) disebutkan, awal abad ke-19, Kushiro adalah lokasi tujuan pembukaan lahan bagi warga daerah lain. Kondisi rawa gambut dan hutan membuat pendatang kesulitan mengembangkan pertanian dan peternakan. Penduduk lokal, orang Ainu, tak pernah mengusahakan lahan basah itu karena menganggap tak subur.

Kondisi itu identik dengan perjalanan pemanfaatan gambut yang semula dijauhi warga asli seperti Dayak di Kalimantan dan Melayu di Sumatera.

Di Jepang, setelah Perang Dunia ke-2, populasi Kushiro meningkat sangat tinggi seiring pengembangan industri. Promosi dan ekspansi industri susu beserta peternakan sapi perahnya mulai rakus lahan. Alhasil, rawa-rawa gambut yang semula dianggap "lahan marjinal" mulai digunakan. Teknik kanalisasi dan pengurukan dilakukan untuk memperluas lahan-lahan peternakan dan pertanian.

Akibatnya, lahan basah setempat seluas 200 kilometer persegi (20.000 hektar) berkurang hingga 20 persen. Kondisi itu berkebalikan dengan komitmen Jepang yang "menghibahkan" lahan basah Kushiro dalam Konvensi Ramsar pada 1980. Tujuh tahun lewat, Pemerintah Jepang menjadikan Kushiro sebagai taman nasional ke-28.

Mulai restorasi

Upaya nyata merestorasi baru pada 2000-an dengan membentuk Komite Konservasi Lingkungan Sungai di Lahan Basah Kushiro. Melalui pendekatan dan persiapan pemerintah bersama pakar, LSM, dan warga lokal, restorasi dimulai pada 2006.

Di Distrik Kayanuma, restorasi dilakukan dengan menutup kanal lebih dari 2 km dan menormalisasi sungai alami yang berkontur berkelok-kelok. Selain pembasahan dan menormalisasi sungai, restorasi juga menyentuh kehadiran ikan-ikan endemis setempat di perairan.

"Di sini (Kushiro), kami belajar bahwa persiapan harus kuat dan melibatkan banyak pihak. Setelah dikerjakan, dipantau untuk mengukur indikator-indikator restorasi," kata Nazir Foead.

Lima tahun setelah restorasi gambut di Kushiro dinyatakan selesai, restorasi ternyata mampu mengerem laju sedimentasi. Populasi ikan kian meningkat dan lebih beragam. Ikan Cyprinidae (sejenis ikan mas) yang awalnya kurang dari 100 menjadi lebih dari 200 ekor. Ikan Osmeridae, yang semula tak ditemukan, kini muncul.

Dari Jepang, Indonesia belajar bahwa restorasi harus serius. Presiden Joko Widodo berinisiatif membentuk Badan Restorasi Gambut demi membasahi gambut-gambut Indonesia yang telanjur dibuka, kering, dan menjadi langganan kebakaran dari tahun ke tahun.

Jepang sudah mulai dan berhasil merestorasi ekosistem gambutnya. Kini, giliran BRG mengerjakan pekerjaan rumah merestorasi 2 juta hektar hingga 2019. Jauh lebih luas ketimbang restorasi Kushiro yang "hanya" 200.000 hektar.

(ICHWAN SUSANTO)

Sumber: Kompas | 10 Mei 2016

Berikan komentar.