TRP
Penataan Trotoar Sisi Timur Dimulai
20 April 2016 \\ \\ 379

YOGYAKARTA — Setelah memindahkan area parkir di trotoar sisi timur kawasan wisata Malioboro, Kota Yogyakarta, ke Tempat Khusus Parkir Abu Bakar Ali, Pemerintah Daerah DI Yogyakarta mulai menata trotoar tersebut. Peresmian penataan trotoar ditandai dengan syukuran dan pemotongan tumpeng, Selasa (19/4) di kawasan Malioboro.

"Penataan itu antara lain berupa penggantian lantai trotoar dan penambahan sejumlah fasilitas," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral DIY Rani Sjamsinarsi seusai acara syukuran.

Tahun ini, kata Rani, penataan trotoar sisi timur Malioboro dibagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penataan dari sekitar Hotel Inna Garuda di ujung utara sampai ke sekitar Hotel Mutiara. "Penataan tahap pertama ini sudah selesai kontraknya dengan nilai Rp 13,8 miliar," ujarnya.

Penataan tahap pertama yang dimulai pada 4 April itu ditargetkan selesai pada 6 Desember. Adapun penataan tahap kedua mencakup trotoar antara Hotel Mutiara dan wilayah Ketandan. Saat ini, lelang untuk pekerjaan tahap dua yang nilainya Rp 10 miliar belum selesai.

"Pengerjaan tahap kedua tidak akan menunggu penataan tahap pertama selesai," ujar Rani. Oleh karena itu, begitu lelang pekerjaan tersebut selesai, penataan tahap dua segera dimulai.

Selain mengganti lantai trotoar, penataan trotoar sisi timur Malioboro juga akan meliputi penggantian street furniture atau perabotan jalan yang meliputi bangku jalan, tempat sampah, pembatas jalan, dan tempat parkir sepeda. Penataan juga mencakup penggantian guiding block atau penunjuk jalan untuk penyandang tunanetra.

Menurut Rani, penataan kawasan wisata Malioboro merupakan bagian dari penataan sejumlah kawasan di sumbu filosofi Yogyakarta, yakni antara Tugu Yogyakarta dan Keraton Yogyakarta. Penataan kawasan sumbu filosofi itu dilakukan secara bertahap dan ditargetkan selesai pada 2019. Selain kawasan wisata Malioboro, penataan itu juga mencakup penataan Jalan Margo Utomo yang menghubungkan Malioboro dengan Tugu Yogyakarta, serta Jalan Pangurakan yang terletak antara Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

Sumbu filosofi merupakan garis imajiner yang membentang lurus dari Tugu Yogyakarta ke Keraton Yogyakarta, lalu ke Panggung Krapyak, bangunan yang dahulu dipakai para Raja Yogyakarta untuk mengintai binatang buruan. Sumbu filosofi yang dirancang Sultan Hamengku Buwono I, raja pertama Keraton Yogyakarta, itu melambangkan perjalanan manusia sejak lahir hingga meninggal.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan para pelaku usaha, termasuk pedagang kaki lima (PKL), agar penataan trotoar bisa lancar. "Kami meminta semua pelaku usaha menyesuaikan diri dengan penataan Malioboro," katanya.

Saat penataan dilakukan, kata Haryadi, para PKL akan digeser sementara agar mereka tetap dapat berjualan dan penataan tetap bisa berjalan. "Malioboro ini kan etalase Kota Yogyakarta sehingga kawasan ini harus ditata agar menjadi lebih nyaman," ujarnya. (HRS)

Sumber: Kompas | 20 April 2016

Berikan komentar.