TRP
Cirasea, Potret Pemulihan Citarum
15 April 2016 \\ \\ 283

Dua bulan lalu, aliran air di dam pengendali Curug Eti yang dihadang beronjong kawat berisi batu itu dalamnya 4 meter. Kini, dipenuhi sedimen lumpur dan pasir, menyisakan kedalaman semata kaki.

"Senang, tetapi miris," kata Tri Adi Wibisono, pegawai Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada wartawan yang melihat pemulihan sub-Daerah Aliran Sungai Cirasea, bagian DAS Citarum, itu.

Senang, karena dam pengendali yang selesai dibangun Desember 2015 itu mampu menahan material sedimen. Miris, karena dam penuh material menunjukkan hulu DAS Citarum kritis. Lahan di sana berubah menjadi areal pertanian sayur, palawija, dan tanaman rempah.

Tanaman berkayu dengan akar kuat sangat jarang. Tanaman berkayu dengan naungan lebar dianggap pengganggu tanaman sayur karena sinar matahari terhalang.

"Masih banyak masyarakat menganggap hiyeum (rindang) itu tidak bagus," kata Ayi Hidayat (45), Ketua Kelompok Tani Cimenteng di Desa Loa, Kecamatan Paseh, Bandung.

Ia bersama 26 petani tiga bulan terakhir mengerjakan 25 hektar lahan kelompok untuk menjadi pionir pembuktian. Mereka ingin menunjukkan, penanaman kayu keras di sekeliling, bahkan di dalam kebun sayur, sangat memungkinkan dan membawa panen yang baik.

Gayung bersambut, rencana mereka disetujui Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung KLHK. Mereka mendapat dana Rp 200 juta untuk memperbaiki lahan dan menanami areal pertanian dengan tanaman keras.

Lahan yang semula dibuat lurus dari perbukitan diubah dengan sistem terasiring untuk mengurangi laju air saat hujan. Tanaman keras, seperti jati putih/gamalina dan sengon yang dicampur tanaman kopi dan avokad, menghiasi petak-petak pertanian yang ditumbuhi cabai, sayur, dan jahe.

Ayi yakin, jati putih bisa dipanen dalam lima tahun, sedangkan kopi dipanen pada usia dua tahun. Untuk tetap memberi akses cahaya matahari, jarak antar-tanaman kayu 5-9 meter atau minimal 400 pohon per hektar. Di dekatnya, ditanam tanaman kopi tahan naungan.

Hasilnya belum terlihat karena masa tanam baru tiga bulan. Namun, kesejahteraan masyarakat diyakini akan terdongkrak. "Tanaman diusulkan masyarakat, ditanam, diawasi, dan dinikmati masyarakat. Ini cara paling baik merehabilitasi DAS," kata Ahmad Sudirman atau Abah Alit Gunung Wayang (60), Ketua Forum Komunikasi Kelompok Tani Agroforestri di Hulu Citarum.

Abah Alit yang 20 tahun menjadi pegiat lingkungan yakin, pada 2018 mulai tampak hasil dari penanaman itu.

Meski program itu baik, menurut Kepala Balai Pengelola DAS Citarum-Ciliwung Dody Susanto, Cirasea baru sekelumit dari lahan yang harus dipulihkan di Citarum selain sub-DAS Ciwidey, Cisangkuy, Cihaur, dan Ciminyak. Saat ini, tercatat sekitar 77.000 hektar lahan di DAS Citarum Hulu kritis.

Untuk merehabilitasi butuh sentuhan agroforestri terhadap 84.000 hektar yang diiringi pembangunan 400 dam pengendali, 4.200 dam penahan, dan 75.000 sumur resapan. "Kajian dan permodelan ahli, langkah itu bisa mengurangi 60-70 persen sedimentasi," katanya.

Apa daya, karena keterbatasan anggaran, hanya bisa dilakukan agroforestri pada 5.500 hektar lahan kritis, 2 dam pengendali, 440 dam penahan, dan 2.100 sumur resapan.

Tahun ini, kata Dody, agroforestri diproyeksikan hanya bisa 500 hektar, pembangunan 30 dam penahan, dan 200 sumur resapan. Tanpa pembangunan dam pengendali.

Pemulihan kondisi DAS Citarum Hulu tak bisa dilakukan sendiri. Kerusakan bertahun-tahun itu butuh dikeroyok berbagai pihak agar sumber air utama Jakarta tersebut membaik.

Pemulihan DAS melalui penanaman merupakan instruksi langsung Presiden Joko Widodo pada 29 November 2016 saat memimpin Hari Menanam Pohon Indonesia 2014 dan Gerakan Penanaman 1 Miliar Pohon. Penghijauan kawasan hulu, kata Presiden, satu-satunya jalan. Tidak ada jalan lain. (ICH)

Sumber: Kompas | 15 April 2016

Berikan komentar.