TRP
Blok Masela-Pemilihan Lokasi Kilang di Darat Harus Cermat
14 April 2016 \\ \\ 195

JAKARTA — Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi mengingatkan pemerintah daerah di Maluku untuk tak berebut menjadikan wilayahnya sebagai lokasi pembangunan kilang gas dari Blok Masela. Pemilihan lokasi harus betul-betul memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Maluku.

Hal itu mengemuka dalam rapat kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Komisi VII DPR, Selasa (12/4), di Jakarta. Rapat dipimpin Wakil Ketua Komisi VII DPR Fadel Muhammad, dihadiri Menteri ESDM Sudirman Said, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, dan Direktur PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto.

Dalam rapat tersebut, Amien menyatakan, pihaknya sudah membahas pemilihan lokasi kilang gas alam cair (LNG) dari Blok Masela dengan Gubernur Maluku, akhir Maret lalu. Ia meminta Gubernur Maluku menyampaikan kepada kepala daerah tingkat kabupaten/kota di sekitar Blok Masela untuk tidak berebut menjadikan wilayah mereka sebagai lokasi pembangunan kilang LNG.

"Pemilihan lokasi kilang LNG di darat harus didahului studi teknis. Jangan sampai kepala daerah berebut agar wilayahnya menjadi lokasi pembangunan kilang LNG," kata Amien.

Di samping soal pemilihan lokasi, lanjut Amien, ia juga meminta campur tangan pemerintah daerah di sekitar Blok Masela agar turut mengontrol harga tanah. Harga tanah di sekitar Blok Masela dikhawatirkan tidak terkontrol menyusul keputusan pengolahan gas Blok Masela di darat oleh pemerintah beberapa waktu lalu.

Anggota Komisi VII dari Partai Gerindra, Harry Poernomo, mengatakan, pemilihan pengolahan gas di darat atau di laut dengan kilang LNG terapung masing-masing memiliki risiko. Ia berharap keputusan pemilihan pengolahan gas di daratan benar-benar membawa manfaat dan merupakan pilihan cerdas.

"Jangan sampai pilihan di darat menjadi bumerang sehingga pemerintah disalahkan di kemudian hari," ujar Harry.

Pulau terdekat

Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo memutuskan bahwa pengolahan gas Blok Masela yang memiliki cadangan gas 10,7 triliun kaki kubik harus dilakukan di darat. Sikap itu berbeda dengan proposal rencana pengembangan (plan of development/POD) Blok Masela oleh investor yang menginginkan gas diolah di laut (kilang LNG terapung). Investor Blok Masela adalah Inpex Corporation dan Shell.

Pulau terdekat dari Blok Masela adalah Selaru dan Yamdena yang berjarak sekitar 180 kilometer. Adapun jarak dari Blok Masela ke Kepulauan Aru sekitar 600 kilometer. Pulau-pulau tersebut yang saat ini diwacanakan menjadi lokasi pembangunan kilang LNG di darat.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Ikatan Cendekiawan Tanimbar Indonesia, Maluku, Norbert W Tun mengatakan, keputusan pemerintah yang menginginkan gas diolah di darat sebaiknya diikuti dengan sosialisasi kepada seluruh rakyat Maluku, khususnya masyarakat di kepulauan sekitar Blok Masela. (APO)

Sumber: Kompas | 13 April 2016

Berikan komentar.