TRP
14 Sungai Mati Akan Diaktifkan Lagi
04 April 2016 \\ \\ 1

BANDUNG — Sebanyak 14 ruas sungai mati (oxbow) di Sungai Citarum akan diaktifkan untuk mengurangi beban Citarum saat musim hujan. Bersamaan dengan berbagai macam pembangunan infrastruktur lainnya, pengaktifan sungai mati ini diyakini mengurangi potensi banjir Citarum yang kerap terjadi.

"Kami tengah merancang pengaktifan kembali sungai-sungai mati itu sebagai tempat parkir dan penampungan air Sungai Citarum induk saat musim hujan," kata Kepala Bidang Pelaksana Jaringan Sumber Air di Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Suwarno dalam acara "Ngawangkong Bersama Warga Citarum" di Kampung Daraulin, Desa Nanjung, Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (2/4).

Sungai mati yang dimaksud adalah aliran Sungai Citarum lama yang tidak digunakan lagi setelah penyodetan pada 1990-an. Sungai mati tersebut terdapat di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bandung, seperti Baleendah, Dayeuhkolot, Margaasih, dan Kutawaringin.

Suwarno mengatakan, total panjang 14 aliran sungai mati itu 7 kilometer. Dengan luas 40 hektar, 14 sungai mati itu bisa menampung air hingga 1,2 juta meter kubik. Saat ini, sebagian besar sungai mati itu dipenuhi sedimentasi lumpur, sampah, dan dijadikan ladang oleh masyarakat. "Jika bisa dikembalikan fungsinya, sungai mati itu bisa menjadi salah satu kawasan menampung limpasan debit (air) Citarum saat musim hujan," katanya.

Suwarno mengatakan, hal itu memang tidak lantas bisa menghentikan banjir Citarum. Namun, bersama banyak program dan rencana pembangunan infrastruktur lainnya di Citarum, potensi kerugian akibat banjir akan bisa diminimalkan. Ada juga program pembuatan kolam retensi di Baleendah, pembuatan sodetan di Sungai Cisangkuy, dan pembuatan terowongan air di kawasan Curug Jompong.

Koordinator Warga Peduli Lingkungan Sunardi Yogantara berharap, pemerintah juga mendorong fungsi lain dari sungai mati selain penampung limpasan air Citarum. Dia mencontohkan sungai mati yang melintasi Kampung Daraulin, Desa Nanjung, Margaasih, sepanjang 2,7 km seluas sekitar 8 hektar. Sungai mati itu menjadi sumber air bersih bagi sumur resapan warga.

Meski demikian, karena air sungai mati relatif bergerak, menurut dia, sumur resapan warga rentan tercemar air sungai yang dijadikan tempat pembuangan akhir oleh warga. Hasil penelitian Institut Teknologi Bandung pada 2016, kandungan bakteri coli di perut warga setempat terbilang tinggi, hingga 43.000 bakteri coliform per 100 mililiter.

"Masyarakat sudah meminimalkan jumlah kandungan bakteri secara mandiri lewat pembuatan instalasi air bersih, septic tank, dan jamban komunal. Peran pemerintah ditunggu untuk menambahnya," katanya. (CHE)

Sumber: Kompas | 4 April 2016

Berikan komentar.