TRP
Banyuwangi Bangun Ruang Terbuka Hijau Lebih Luas
01 April 2016 \\ \\ 401

BANYUWANGI — Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bekerja sama dengan sejumlah arsitek akan membangun ruang terbuka hijau lebih luas di kawasan kota. Ruang terbuka hijau akan menjadi pusat kegiatan masyarakat, mulai dari berkesenian, olahraga, pusat pembelajaran, kegiatan sosial, hingga menjadi etalase Banyuwangi.

Ruang terbuka hijau yang akan dibangun di antaranya Taman Blambangan Banyuwangi, Gedung Seni dan Budaya (Gesibu), dan kawasan heritage Asrama Inggrisan. Dalam perancangan ruang terbuka hijau dan bangunan sekitarnya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menggandeng arsitek Adi Sumarmo, Yori Antar, dan Supie Yolodi.

Adi Sumarmo dalam pemaparannya di Taman Blambangan Banyuwangi, Selasa (29/3), mengatakan, Taman terbuka Blambangan akan dibuat bertingkat. Di tingkat dasar akan digunakan untuk perpustakaan, galeri seni, dan ekshibisi, sedangkan tingkat atas tetap dibiarkan berumput dan bisa digunakan untuk sejumlah kegiatan sosial warga. "Alun-alun seperti magnet yang mendatangkan banyak orang. Karena itu dalam mendesainnya dibuat agar alun-alun bisa menyerap banyak orang yang datang," katanya.

Tangga yang akan digunakan untuk naik ke lantai atas juga bisa menjadi tempat duduk bagi penonton saat ada pertunjukan di kawasan pedestrian sekitar alun-alun.

Pemkab juga berencana merenovasi bangunan heritage Inggrisan di sisi Taman Blambangan. Asrama Inggrisan akan dipoles menjadi hotel heritage. Saat ini Inggrisan masih berada di bawah kepemilikan TNI AD. Bangunan itu pernah menjadi tempat stasiun kabel telegraf bawah laut antara Jawa dan Australia.

Balai Pertemuan Kartini di depan Taman Blambangan juga akan direnovasi menjadi balai pertemuan yang lebih efektif dari sisi pembagian ruang. "Bangunan bisa dibuat lebih smart dan hemat bujet," kata Yori Antar.

Menurut Supie, Banyuwangi perlu beberapa ruang publik untuk mewadahi kebutuhan warga. Ruang publik juga akan didesain sebagai etalase Banyuwangi sehingga wisatawan bisa datang dan berkunjung di tempat itu.

Pembangunan ruang publik yang lebih luas, menurut Ketua Dewan Kesenian Blambangan Syamsudin Adlawi, tetap harus mempertimbangkan kelokalan dan fasilitas penting lain. Mushala, misalnya, harus ikut didesain karena merupakan kebutuhan utama warga.

"Hal yang membuat saya senang, bangunan candi di Gesibu yang sudah ada tetap dimanfaatkan sebagai bagian dari desain," kata Syamsudin Adlawi.

Penambahan kawasan terbuka hijau, menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, perlu dilakukan. Taman terbuka hijau di Blambangan akan menjadi ikon kota Banyuwangi.

"Seperti Singapura dan patung Merlin. Kami juga akan membuat ikon khas Banyuwangi dengan patung Gadrung," kata Anas.

Penataan kota, menurut Anas, menjadi salah satu hal yang penting untuk dipikirkan untuk kebutuhan masyarakat ke depan, apalagi Banyuwangi didesain menjadi tujuan wisata dunia.

Selain ruang terbuka hijau yang menarik wisatawan, pemkab juga menata Pantai Boom Banyuwangi dan Pantai Pulau Merah. Kini Pantai Boom dalam proses pembangunan pelabuhan yacht terbesar di Indonesia. Proyek itu diprediksi selesai pada tahun 2017. (NIT)

Sumber: Kompas | 30 Maret 2016

Berikan komentar.